Ditulis oleh:

Momuung.co.idMenjadi Ibu menyusui sering kali terasa membingungkan. Baru ingin makan bakso pedas atau minum kopi hangat, sudah ada yang mengingatkan, “Nanti bayinya sakit perut,” atau “ASI-nya jadi nggak bagus.

Rasa khawatir ini wajar, Mom. Semua Ibu pasti ingin memberikan yang terbaik untuk si Kecil. Sayangnya, banyak pantangan makanan saat menyusui yang sebenarnya hanyalah mitos dan tidak punya dasar medis. Jika terus dipercaya, justru bisa membuat Ibu stres dan merasa serba salah, padahal masa menyusui seharusnya jadi waktu yang hangat dan menyenangkan.

Supaya Mommy lebih tenang dan tidak mudah termakan omongan, yuk kita bahas mana yang fakta dan mana yang hanya mitos. Buibu, baca sampai selesai, ya!

4 Mitos Pantangan Makanan untuk Busui yang Tidak Perlu Diikuti

Mari kita luruskan beberapa anggapan lama yang sering membuat Ibu menyusui merasa “tersiksa” karena dilarang makan makanan kesukaannya:

1. Makanan Pedas Bikin Bayi Diare atau Ruam Popok

Zat pedas seperti capsaicin hanya terdeteksi sangat rendah dalam ASI. Perubahan rasa ASI bisa terjadi, tetapi tidak menyebabkan gangguan pencernaan pada bayi sehat. Justru, paparan rasa ASI membantu bayi mengenal variasi rasa sejak dini. 

2. Makanan Berbau Tajam seperti Bawang

Aroma bawang atau rempah bisa sedikit tercium dalam ASI, namun nutrisinya tetap utuh. Sebagian besar bayi tetap menyusu normal dan tidak menolak ASI meski ada perubahan aroma ringan.

3. Harus Berhenti Minum Kafein (Kopi/Teh)

Kopi dan teh tetap aman selama dibatasi hingga ±200-300 mg kafein per hari. Hanya sekitar 1 persen kafein yang masuk ke ASI dan umumnya tidak menimbulkan efek pada bayi sehat. 

4. Makanan Mengandung Gas (Kubis, Brokoli, Kacang-kacangan)

Gas dari makanan berserat terbentuk di usus ibu dan tidak berpindah ke ASI. Tidak ada bukti kuat bahwa ibu makan kubis, brokoli, atau kacang-kacangan menyebabkan bayi kolik atau kembung. 

Jenis Makanan yang Benar-Benar Harus Dihindari atau Dibatasi

Meskipun banyak mitos yang gugur, tetap ada beberapa jenis asupan yang harus diperhatikan demi kesehatan si Kecil secara serius:

  • Ikan Tinggi Merkuri: Hindari ikan predator besar seperti ikan hiu, king mackerel, atau tuna mata besar. Kandungan merkuri tinggi yang tinggi berisiko mengganggu perkembangan sistem saraf bayi. Sebagai alternatif, pilih ikan rendah merkuri seperti ikan gabus, kembung, lele, atau sarden.
  • Alkohol: Alkohol dapat masuk ke dalam ASI dan memengaruhi pola tidur serta perkembangan otak bayi. Jika Ibu mengonsumsi alkohol, pastikan memberi jeda minimal dua jam per satu porsi sebelum menyusui kembali.
  • Makanan Mentah (Risiko Kontaminasi): Makanan seperti sushi atau steak setengah matang sebaiknya dihindari atau hanya dikonsumsi dari tempat yang benar-benar higienis. Risiko kontaminasi bakteri seperti Salmonella atau Listeria dapat memengaruhi kesehatan Ibu dan berdampak pada proses menyusui.

Penuhi Nutrisi Harian untuk Jaga Produksi & Kualitas ASI

Daripada terlalu fokus pada daftar pantangan, lebih baik Mommy memperhatikan asupan gizi harian. Kualitas ASI sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi yang masuk ke tubuh Ibu setiap hari.

Pastikan menu makan Mommy mengandung protein hewani seperti ikan gabus dan telur, karbohidrat kompleks, lemak sehat, serta asupan cairan yang cukup, minimal tiga liter per hari. Dengan nutrisi yang terpenuhi, tubuh akan terasa lebih bertenaga dan ASI yang dihasilkan pun lebih optimal untuk mendukung tumbuh kembang si Kecil.

Baca juga: 50+ Panduan Lengkap ASI & Menyusui dari Lahir hingga 6 Bulan

Kesimpulan

Menyusui adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kebahagiaan Ibu sebagai kunci utamanya. Jangan biarkan mitos-mitos pantangan makanan merampas kebahagiaan busui dalam menikmati hidangan favorit. Selama makanan tersebut sehat, bergizi, dan dikonsumsi secara seimbang, maka Ibu bisa makan dengan tenang.

Ingat, setiap bayi memiliki sensitivitas yang berbeda. Jika Ibu ragu apakah makanan tertentu berpengaruh pada bayi, atau jika Ibu mengalami kendala dalam menyusui seperti puting lecet atau ASI seret, jangan dipendam sendiri ya!

Mom Uung siap mendampingi setiap langkah perjalanan menyusui Mommy melalui layanan Konsultasi Menyusui GRATIS 24 jam. Kapan pun Mommy butuh tempat bertanya, bercerita, atau mencari solusi, tim Mom Uung ada untuk mendukung Mommy agar momen menyusui terasa lebih tenang serta penuh percaya diri.

Suka dengan artikel ini? Jangan lupa simpan agar informasinya mudah diakses kapan pun, dan bagikan ke teman-teman seperjuangan supaya makin banyak busui yang merasa tenang dan nggak stres lagi soal makan ya, Mom! Semoga artikel 4 Mitos Pantangan Busui yang Sering Salah Kaprah in ibermanfaat ya Moms!

Referensi:

  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Maternal Diet and Breastfeeding. 2025. Diakses pada 15 Januari 2026. https://www.cdc.gov/breastfeeding-special-circumstances/hcp/diet-micronutrients/maternal-diet.html 
  • Spahn, J. M., Callahan, E. H., Spill, M. K., Wong, Y. P., Benjamin-Neelon, S. E., Birch, L., Black, M. M., Cook, J. T., Faith, M. S., Mennella, J. A., & Casavale, K. O. (2019). Influence of maternal diet on flavor transfer to amniotic fluid and breast milk and children’s responses: a systematic review. The American journal of clinical nutrition, 109(Suppl_7), 1003S–1026S. Diakses pada 15 Januari 2026.  https://doi.org/10.1093/ajcn/nqy240 

Nilai rata-rata 5 / 5. Jumlah vote: 673

No votes so far! Be the first to rate this post.


FAQ Seputar Topik Ini

1. Apakah ASI bisa berubah rasa karena makanan yang dikonsumsi ibu?

Ya, rasa ASI bisa sedikit berubah tergantung makanan yang dikonsumsi ibu, terutama makanan dengan rempah kuat. Namun perubahan ini justru membantu bayi mengenal variasi rasa sejak dini dan biasanya tidak membuat bayi menolak menyusu.

2. Apakah benar ibu menyusui harus makan dua kali lebih banyak?

Tidak harus dua kali lipat, tetapi ibu menyusui memang membutuhkan tambahan kalori sekitar 300–500 kkal per hari. Fokus utama bukan pada jumlah berlebihan, melainkan kualitas gizi yang seimbang dan cukup cairan.

3. Bagaimana jika bayi tampak rewel setelah ibu makan makanan tertentu?

Jika bayi tampak lebih rewel, Mommy bisa mengamati pola selama beberapa hari. Catat makanan yang dikonsumsi dan respons bayi. Jika rewel terjadi berulang dan konsisten setelah makanan tertentu, konsultasikan ke tenaga kesehatan untuk evaluasi lebih lanjut.

4. Apakah ibu menyusui boleh menjalani diet untuk menurunkan berat badan?

Boleh, selama dilakukan secara bertahap dan tidak ekstrem. Penurunan berat badan yang terlalu cepat dapat memengaruhi energi ibu dan secara tidak langsung berdampak pada produksi ASI. Diet sehat dan perlahan lebih disarankan.

5. Apakah perlu menghindari semua makanan berpotensi alergi saat menyusui?

Tidak perlu menghindari secara umum kecuali bayi menunjukkan gejala alergi seperti ruam parah, muntah berulang, atau diare persisten. Sebagian besar ibu dapat mengonsumsi makanan beragam tanpa menyebabkan masalah pada bayi.

Share.

Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.

Butuh Bantuan atau Ingin Tahu Lebih Banyak Tentang Produk & Program Mom Uung?

Kami siap membantu! Jika Mommy punya pertanyaan atau ingin tahu lebih lanjut tentang produk ibu & bayi, ASI booster, serta program komunitas Mom Uung, tim Mom Uung Care siap memberikan informasi dan dukungan terbaik untuk Mommy.

📱
Install Mom Uung App Akses lebih cepat & nyaman
Exit mobile version