Momuung.co.id – Menjelang persalinan, wajar kalau rasa cemas mulai muncul, ya Mommy. Bukan cuma soal kontraksi atau pecah ketuban, tapi juga kekhawatiran apakah nanti akan benar-benar dibantu menyusui di rumah sakit, atau takut bayi diberi susu formula tanpa persetujuan.
Tenang, Mommy tidak sendirian. Dukungan rumah sakit sangat berperan besar dalam keberhasilan menyusui, terutama di jam-jam pertama setelah bayi lahir. Karena itu, memilih Rumah sakit pro asi bukan soal kemewahan, tapi juga soal komitmen mendukung ASI eksklusif.
Ibarat memilih partner, tempat bersalin perlu sejalan dengan tujuan menyusui Mommy. Yuk, kita bahas kriteria rumah sakit yang benar-benar mendukung ASI. Buibu, baca sampai selesai, ya!
Kenapa Mommy Harus Pilih Rumah Sakit Pro ASI?
Dengan memilih tempat bersalin yang mendukung ASI, Mommy bisa mendapatkan manfaat berikut:
- Mendukung IMD dengan optimal
Bayi diberi kesempatan melakukan kontak kulit ke kulit dan mencari puting Ibu secara alami segera setelah lahir, yang terbukti meningkatkan keberhasilan menyusu sejak awal (WHO, 2017).
- Mendorong ASI Eksklusif Sejak Hari Pertama
Praktik pro ASI memastikan kolostrum diberikan dan penggunaan susu formula dibatasi hanya bila ada indikasi medis, sehingga durasi ASI eksklusif lebih panjang (Pérez-Escamilla et al., 2016).
- Memperkuat bonding ibu dan bayi
Rawat gabung dan kontak kulit ke kulit sejak dini membantu adaptasi bayi sekaligus meningkatkan kepercayaan diri Mommy saat menyusui (WHO, 2017).
Rumah Sakit Pro ASI sebagai Langkah Keberhasilan Menyusui
Rumah sakit Pro ASI adalah fasilitas kesehatan yang menerapkan standar 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui dan mematuhi Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI sesuai inisiatif Baby-Friendly Hospital Initiative yang digagas oleh World Health Organization dan UNICEF.
Artinya, dukungan menyusui tidak hanya berupa imbauan, tetapi dijalankan melalui sistem yang terstruktur, konsisten, dan berbasis bukti.
Berikut adalah 10 langkah yang menjadi standar tersebut:
1. Kebijakan Tertulis yang Mendukung Menyusui
Setiap fasilitas kesehatan perlu memiliki aturan tertulis yang jelas untuk melindungi dan mendukung pemberian ASI, termasuk tidak mempromosikan susu formula. Kebijakan ini membantu memastikan seluruh tenaga kesehatan memiliki komitmen yang sama dalam mendukung ibu menyusui (WHO & UNICEF, 2018).
2. Tenaga kesehatan terlatih
Dokter, bidan, dan perawat perlu dibekali keterampilan praktis untuk membantu posisi, pelekatan, serta menangani tantangan menyusui. Dukungan yang tepat sejak awal terbukti meningkatkan keberhasilan menyusui (WHO & UNICEF, 2018).
3. Edukasi sejak masa kehamilan
Ibu hamil dan keluarga perlu mendapatkan informasi tentang manfaat ASI, cara menyusui, dan pentingnya dukungan setelah persalinan. Pengetahuan sejak awal membantu ibu lebih siap secara fisik dan mental (IDAI, 2013).
4. Kontak kulit ke kulit dan mulai menyusui dini
Bayi perlu segera diletakkan di dada ibu setelah lahir dan dibantu mulai menyusu dalam satu jam pertama. Kontak awal ini membantu refleks alami bayi dan merangsang produksi ASI (WHO & UNICEF, 2018).
5. Bimbingan posisi dan pelekatan yang benar
Ibu perlu diajarkan cara memposisikan bayi dengan tubuh saling berhadapan, kepala dan badan sejajar, serta pelekatan yang dalam. Teknik yang tepat membuat proses menyusu lebih nyaman dan efektif (IDAI, 2013).
6. Tidak memberikan makanan atau minuman selain ASI tanpa indikasi medis
Bayi cukup mendapatkan ASI saja sejak lahir, kecuali ada alasan medis yang jelas. Pemberian cairan tambahan tanpa indikasi dapat mengganggu pola menyusu dan produksi ASI (WHO & UNICEF, 2018).
7. Rawat gabung ibu dan bayi
Ibu dan bayi sebaiknya dirawat dalam satu ruangan agar ibu dapat mengenali tanda lapar lebih cepat dan menyusui sesuai kebutuhan bayi (WHO & UNICEF, 2018).
8. Menyusui sesuai kebutuhan bayi
Bayi disusui setiap kali menunjukkan tanda lapar, tanpa dibatasi jadwal atau durasi tertentu. Pendekatan ini membantu menjaga kecukupan asupan dan produksi ASI (WHO & UNICEF, 2018).
9. Menghindari penggunaan dot dan empeng pada awal kehidupan
Penggunaan alat hisap tambahan dapat memengaruhi cara bayi menyusu langsung dari payudara. Oleh karena itu, perlu kehati-hatian terutama pada periode awal menyusui (WHO & UNICEF, 2018).
10. Dukungan lanjutan setelah pulang dari fasilitas kesehatan
Ibu perlu mendapatkan akses ke konseling atau kelompok pendukung menyusui setelah kembali ke rumah. Dukungan berkelanjutan terbukti membantu mempertahankan pemberian ASI (WHO & UNICEF, 2018; IDAI, 2013).
Tips Memilih Tempat Bersalin Pro ASI
Saat survei tempat bersalin, jangan hanya lihat fasilitasnya. Mommy bisa cek dukungan ASI dengan cara berikut:
1. Cek Komitmen dan Dukungan Tenaga Kesehatan
Cari tahu apakah dokter, bidan, dan perawat aktif mendukung pemberian ASI. Mommy bisa menanyakan apakah tersedia konselor laktasi atau tenaga kesehatan yang terlatih dalam pendampingan menyusui.
Tanyakan juga langkah konkret rumah sakit dalam mendukung ASI, misalnya apakah ada panduan tertulis, edukasi menyusui sebelum pulang, serta bantuan saat pelekatan pertama setelah melahirkan. Jika memungkinkan, lakukan kunjungan langsung untuk melihat apakah tenaga kesehatan menjelaskan pentingnya ASI dengan jelas dan memberikan edukasi posisi serta pelekatan menyusui secara praktis. Suasana yang suportif dan tidak terburu-buru biasanya menjadi tanda dukungan yang baik.
2. Tanyakan Kebijakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Pastikan fasilitas kesehatan memiliki kebijakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD), yaitu proses meletakkan bayi di dada ibu segera setelah lahir selama minimal satu jam. IMD sebaiknya tetap diupayakan meskipun persalinan dilakukan secara sesar, selama kondisi ibu dan bayi stabil.
Beberapa manfaat IMD yang penting untuk Mommy ketahui:
- Mendapatkan kolostrum
Kolostrum adalah ASI pertama yang kaya antibodi, terutama imonoglobin A, yang membantu melindungi bayi dari infeksi. - Membantu mengurangi risiko perdarahan pada Mommy
Hisapan bayi saat IMD merangsang hormon oksitosin yang membantu rahim berkontraksi setelah melahirkan.
- Mendukung kesehatan pencernaan bayi
Kontak kulit ke kulit membantu bayi terpapar bakteri baik dari tubuh Mommy yang bermanfaat untuk sistem pencernaannya.
3. Pastikan Sistem Rawat Gabung Tersedia
Rawat gabung berarti bayi berada di dalam satu kamar dengan ibu selama 24 jam. Sistem ini sangat penting karena:
Membantu ibu lebih cepat mengenali tanda lapar bayi.
Meningkatkan frekuensi menyusui, yang secara langsung merangsang produksi ASI melalui hormon prolaktin dan oksitosin.
Mengurangi risiko pemberian susu tambahan tanpa indikasi medis yang jelas.
4. Cek Kebijakan Pemberian Susu Formula
Fasilitas yang mendukung ASI eksklusif tidak memberikan susu formula, air gula, sampel produk gratis tanpa indikasi medis yang jelas.
- Pemberian susu formula tanpa alasan medis dapat:
- Mengganggu refleks dan preferensi aliran menyusu bagi bayi.
- Menurunkan rangsangan produksi ASI pada hari-hari pertama setelah melahirkan.
- Meningkatkan risiko bingung puting pada sebagian bayi.
5. Cari informasi dari pengalaman ibu lain
Ulasan dan pengalaman ibu lain dapat memberikan gambaran nyata tentang dukungan menyusui di tempat tersebut. Perhatikan apakah ibu mendapatkan bantuan saat pelekatan pertama, apakah ada pendampingan ketika mengalami kendala seperti puting lecet atau ASI belum lancar, dan apakah tenaga kesehatan responsif terhadap keluhan menyusui.
Dengan memperhatikan hal-hal ini, Mommy bisa memilih tempat bersalin yang bukan hanya nyaman, tetapi juga benar-benar mendukung keberhasilan menyusui sejak hari pertama.
Persiapan Matang Sebelum Melahirkan
Selain memilih tempat bersalin, Mommy juga perlu menyiapkan diri dengan pengetahuan menyusui. Konsultasi dengan konselor laktasi sejak trimester ketiga sangat dianjurkan agar Mommy lebih siap saat bayi lahir, seperti belajar posisi menyusui yang benar, cara mengatasi puting lecet, serta mendapatkan rekomendasi rumah sakit yang pro ASI di area tempat tinggal.
Dengan persiapan ini, saat tanda-tanda persalinan mulai muncul, Mommy bisa lebih tenang karena sudah memiliki birth plan yang mendukung ASI eksklusif.
Kesimpulan
Keberhasilan menyusui dimulai dari pilihan tempat bersalin. Rumah sakit dengan kebijakan pro ASI membantu Mommy memberi awal yang baik bagi kesehatan si kecil sejak lahir.
Kalau Mommy masih ragu atau butuh panduan saat berdiskusi dengan dokter tentang IMD dan persiapan menyusui, Mommy tidak sendirian. Layanan Konsultasi Menyusui Mom Uung GRATIS 24 Jam siap mendampingi, bahkan sejak sebelum persalinan, agar Mommy lebih tenang dan percaya diri.
Yuk, simpan artikel ini sebagai panduan survei Rumah Sakit, dan bagikan ke sesama bumil supaya semakin banyak bayi mendapatkan hak ASI-nya!
Referensi:
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2013). 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui. Jakarta: IDAI. Diakses pada 25 Februari 2026. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/10-langkah-menuju-keberhasilan-menyusui
- Pérez-Escamilla, R., Martinez, J. L., & Segura-Pérez, S. (2016). Impact of the Baby-friendly Hospital Initiative on breastfeeding and child health outcomes: a systematic review. Maternal & child nutrition, 12(3), 402-417. Diakses pada 4 Februari 2026. https://doi.org/10.1111/mcn.12294
- World Health Organization & UNICEF. (2018). Ten steps to successful breastfeeding. Geneva: WHO. Diakses pada 25 Februari 2026. https://www.who.int/teams/nutrition-and-food-safety/food-and-nutrition-actions-in-health-systems/ten-steps-to-successful-breastfeeding
- World Health Organization. (2017). Protecting, promoting and supporting breastfeeding in facilities providing maternity and newborn services. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/9789241550086
