Momuung.co.idDi bulan Ramadan ini, tidak sedikit Mommy yang merasa dilema. Ada keinginan kuat untuk tetap berpuasa, tetapi muncul juga kekhawatiran seperti, “Apakah Puasa saat hamil aman?” atau “Apakah janin akan kekurangan nutrisi?”

Rasa cemas ini sangat wajar. Setiap ibu tentu ingin memastikan kondisi bayi tetap sehat dan tumbuh optimal. Sayangnya, informasi yang beredar sering kali berbeda-beda dan belum tentu sesuai dengan penjelasan medis.

Secara agama, ibu hamil mendapat keringanan untuk tidak berpuasa. Namun, jika Mommy ingin tetap menjalankannya, penting untuk memahami kondisi kesehatan diri sendiri dan mengetahui panduan medis agar puasa tetap aman bagi ibu dan janin. Yuk, pahami fakta medisnya agar bisa mengambil keputusan dengan lebih tenang dan tepat. Buibu, baca sampai selesai, ya!

1. Perhatikan Kesehatan Ibu dan Janin Selama Ramadan

Banyak ibu hamil takut puasa membuat bayi lahir dengan berat badan rendah atau lahir lebih cepat. Berdasarkan tinjauan penelitian di BMC Pregnancy and Childbirth, puasa Ramadan bagi ibu hamil yang sehat tidak terbukti meningkatkan risiko berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, maupun kematian bayi saat lahir (Glazier et al., 2018). 

Penelitian lain dalam International journal of gynaecology and obstetrics: the official organ of the International Federation of Gynaecology and Obstetrics juga menyimpulkan bahwa pada kehamilan tanpa masalah kesehatan, puasa tidak menunjukkan dampak buruk yang konsisten terhadap hasil persalinan. Namun, asupan makan dan minum yang cukup tetap menjadi kunci utama (Al-Taiar et al., 2025). 

Agar tetap aman, kebutuhan gizi ibu hamil harus terpenuhi. Pada trimester kedua dan ketiga, kebutuhan energi rata-rata sekitar 2.200 hingga 2.500 kilokalori per hari. Ibu juga memerlukan tambahan sekitar 180 hingga 300 kilokalori per hari dibanding sebelum hamil. Untuk cairan, ibu hamil dianjurkan minum sekitar 2,3 hingga 3 liter per hari atau setara 8 sampai 12 gelas. 

Jika kebutuhan kalori, protein, dan cairan terpenuhi saat sahur dan berbuka, tubuh ibu umumnya mampu menyesuaikan diri dengan perubahan waktu makan. Namun, jika ibu merasa sangat lemas, pusing berat, atau sulit makan dan minum dengan cukup, puasa sebaiknya dihentikan.

2. Gejala Fisik dan Kesehatan Mental Ibu Hamil saat Puasa

Banyak Mommy khawatir puasa membuat mual dan lemas semakin parah. Penelitian menunjukkan bahwa pada ibu hamil yang sehat, keluhan seperti pusing dan lelah tidak berbeda antara yang berpuasa dan yang tidak, terutama pada trimester kedua dan ketiga (Glazier et al., 2018). 

Selama kebutuhan cairan dan nutrisi tetap terpenuhi, kondisi janin umumnya tetap stabil. Gerakan bayi biasanya tetap aktif seperti biasa. Namun, ibu tetap perlu mengenali tanda-tanda tubuh yang tidak boleh diabaikan. 

Gejala yang perlu diwaspadai saat puasa:

  1. Pusing berat atau terasa hampir pingsan.
  2. Lemas berlebihan hingga sulit beraktivitas.
  3. Jarang buang air kecil atau warna urine sangat pekat.
  4. Bibir dan mulut terasa sangat kering.
  5. Gerakan janin terasa berkurang dari biasanya. 

Jika salah satu gejala tersebut muncul, puasa sebaiknya segera dibatalkan dan ibu perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. 

Dari sisi emosional, studi melaporkan bahwa suasana ibadah selama Ramadan dapat membantu sebagian ibu merasa lebih tenang dan mengurangi stres (Al-Taiar et al., 2025). Kondisi emosional yang lebih stabil dapat membuat ibu menjalani kehamilan dengan lebih nyaman. 

Meskipun demikian, ibu dengan anemia, diabetes dalam kehamilan, tekanan darah tinggi, atau riwayat persalinan prematur tetap dianjurkan berkonsultasi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berpuasa. 

Nutrisi yang harus dipenuhi ibu

3. Konsultasi dengan Tenaga Medis

Walaupun penelitian menunjukkan puasa relatif aman pada kehamilan tanpa komplikasi, keputusan untuk berpuasa tetap harus berdasarkan kondisi kesehatan masing-masing ibu. Penelitian di BMC Pregnancy and Childbirth menyatakan bahwa faktor seperti status gizi, kondisi medis yang menyertai, serta usia kehamilan perlu dipertimbangkan sebelum ibu menjalankan puasa (Glazier et al., 2015). 

Karena itu, konsultasi dengan dokter spesialis kandungan menjadi langkah penting. Pemeriksaan biasanya meliputi tekanan darah, kadar gula darah, kadar hemoglobin untuk menilai risiko anemia, serta pemantauan pertumbuhan janin melalui pemeriksaan ultrasonografi diperlukan.

Tinjauan dalam International journal of gynaecology and obstetrics: the official organ of the International Federation of Gynaecology and Obstetrics juga menegaskan bahwa evaluasi individual sangat dianjurkan, terutama pada ibu dengan riwayat diabetes dalam kehamilan, tekanan darah tinggi, gangguan pertumbuhan janin, atau riwayat persalinan prematur (Al-Taiar et al., 2025). Pada trimester pertama dengan mual muntah berat atau trimester ketiga ketika kebutuhan energi meningkat, penilaian medis menjadi semakin penting agar puasa tidak mengganggu kondisi ibu maupun janin.

4. Manajemen Nutrisi: Kalori yang Sama, Waktu yang Berbeda

Kelancaran berpuasa pada kehamilan sangat dipengaruhi oleh kecukupan asupan energi dan cairan di luar jam puasa. Artinya, jumlah kebutuhan harian tetap harus terpenuhi, hanya waktu makannya yang berubah. 

Pada trimester kedua dan ketiga, kebutuhan energi total ibu hamil umumnya berkisar 2.200 hingga 2.500 kilokalori per hari, dengan tambahan sekitar 180 hingga 300 kilokalori dibanding sebelum hamil. Kebutuhan cairan sekitar 2,3 hingga 3 liter per hari atau setara 8 sampai 12 gelas. Protein juga penting, dengan kebutuhan rata-rata sekitar 1,1 gram per kilogram berat badan per hari untuk mendukung pertumbuhan janin.

Agar kebutuhan tersebut terpenuhi, pola makan dapat dibagi sebagai berikut:

1. Saat berbuka

Mulai dengan makanan yang mudah dicerna untuk mengembalikan energi, kemudian lanjutkan dengan makan utama yang mengandung karbohidrat, protein, lemak sehat, serta sayur dan buah.

2. Setelah tarawih atau malam hari

Tambahkan makanan selingan tinggi protein dan serat seperti susu, kacang, telur, atau buah. Ini membantu menjaga kecukupan energi harian.

3. Saat sahur

Pilih karbohidrat yang dicerna lebih lambat seperti nasi merah, roti gandum, atau umbi-umbian agar energi bertahan lebih lama. Lengkapi dengan protein hewani atau nabati dan cukup cairan.

5. Penuhi Kebutuhan Cairan dan Suplemen Tambahan

Selama puasa, ibu hamil tetap harus memenuhi kebutuhan cairan dan zat gizi harian. Jika asupan kurang, ibu dapat mengalami lemas, anemia, hingga gangguan pertumbuhan janin. 

Agar tetap aman, berikut kebutuhan gizi yang perlu dipenuhi setiap hari:

1. Cairan

Ibu hamil membutuhkan sekitar 2,3 hingga 3 liter cairan per hari atau setara 8 sampai 12 gelas. Cairan dapat berasal dari air putih, susu, sup, dan buah tinggi air. Kebutuhan ini harus dipenuhi antara waktu berbuka hingga sahur untuk mencegah kekurangan cairan.

2. Energi

Pada trimester kedua dan ketiga, kebutuhan energi total sekitar 2.200 hingga 2.500 kilokalori per hari. Selama hamil, ibu memerlukan tambahan sekitar 180 sampai 300 kilo kalori per hari untuk mendukung pertumbuhan janin.

3. Protein

Kebutuhan protein sekitar 1,1 gram per kilogram berat badan per hari atau rata-rata 60 hingga 75 gram per hari. Protein membantu pembentukan jaringan tubuh bayi dan menjaga kekuatan tubuh ibu.

4. Zat besi

WHO merekomendasikan konsumsi 30 hingga 60 mg zat besi per hari selama kehamilan untuk mencegah anemia yang dapat meningkatkan risiko kelelahan dan persalinan prematur.

5. Asam folat

Dianjurkan sekitar 400 mikrogram per hari untuk membantu pembentukan sistem saraf janin dan mencegah kelainan bawaan.

6. Kalsium

Kebutuhan harian sekitar 1.000 hingga 1.200 mg. Pada ibu dengan asupan rendah, suplementasi 1.500 hingga 2.000 mg per hari dapat dianjurkan untuk membantu menjaga tekanan darah dan kesehatan tulang (World Health Organization, 2023).

Seluruh kebutuhan tersebut harus tetap terpenuhi meskipun waktu makan berubah selama Ramadan. Suplemen yang diresepkan dokter perlu dikonsumsi secara teratur setelah berbuka atau saat sahur agar penyerapannya optimal. 

Jika ibu mengalami pusing berat, muntah terus-menerus, gerakan janin berkurang, atau tanda kekurangan cairan, puasa sebaiknya segera dihentikan dan dilakukan pemeriksaan medis.

Kapan Mommy Harus Segera Membatalkan Puasa?

Meskipun berniat ibadah, Mommy dilarang memaksakan diri jika tubuh memberikan sinyal bahaya. Segera batalkan puasa jika Mommy mengalami:

  1. Pusing berat, pandangan kabur, atau hampir pingsan.
  2. Mual dan muntah terus-menerus sehingga tidak dapat minum dengan cukup.
  3. Gerakan janin berkurang dibanding biasanya.
  4. Nyeri perut hebat atau kontraksi sebelum waktunya.
  5. Rasa haus berlebihan dengan urine sangat sedikit dan berwarna kuning pekat.

Kesimpulan

Puasa saat hamil bisa tetap dijalankan selama kondisi ibu sehat dan tidak memiliki komplikasi. Kuncinya adalah berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan serta memastikan kebutuhan nutrisi dan cairan tetap terpenuhi dengan baik.

Jika masih ragu menyusun menu sahur yang tepat atau ingin memastikan suplemen kehamilan sudah sesuai, jangan khawatir. Mommy bisa mencari pendampingan agar tetap tenang menjalani puasa tanpa mengabaikan kesehatan diri dan janin.

Mom Uung menyediakan Layanan Konsultasi Gratis 24 Jam bersama tenaga profesional untuk membantu Mommy menjaga kehamilan tetap sehat selama Ramadan.

Yuk, simpan dan bagikan informasi ini agar semakin banyak ibu hamil yang bisa berpuasa dengan aman dan penuh rasa tenang!

Referensi: 

  • Al-Taiar, A., Rahman, M. E., Salama, M., Ziyab, A. H., & Karmaus, W. (2025). Impacts of Ramadan fasting during pregnancy on pregnancy and birth outcomes: An umbrella review. International journal of gynaecology and obstetrics: the official organ of the International Federation of Gynaecology and Obstetrics, 169(3), 968-978. Diakses pada 24 Februari 2026, https://doi.org/10.1002/ijgo.16127
  • Glazier, J. D., Hayes, D. J. L., Hussain, S., D’Souza, S. W., Whitcombe, J., Heazell, A. E. P., & Ashton, N. (2018). The effect of Ramadan fasting during pregnancy on perinatal outcomes: a systematic review and meta-analysis. BMC pregnancy and childbirth, 18(1), 421. Diakses pada 24 Februari 2026.  https://doi.org/10.1186/s12884-018-2048-y 

Nilai rata-rata 5 / 5. Jumlah vote: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Share.

Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.

Butuh Bantuan atau Ingin Tahu Lebih Banyak Tentang Produk & Program Mom Uung?

Kami siap membantu! Jika Mommy punya pertanyaan atau ingin tahu lebih lanjut tentang produk ibu & bayi, ASI booster, serta program komunitas Mom Uung, tim Mom Uung Care siap memberikan informasi dan dukungan terbaik untuk Mommy.

📱
Install Mom Uung App Akses lebih cepat & nyaman
Exit mobile version