Momuung.co.id – Pernahkah Mommy terbangun di malam hari karena Si Kecil menangis ingin menyusu, tapi ASI yang keluar terasa sangat sedikit? Wajar jika Mommy merasa sedih, cemas, bahkan takut tidak bisa memberikan ASI lagi. Kekhawatiran soal ASI seret memang sering membuat Ibu menyusui stres, padahal kondisi emosional sangat memengaruhi kelancaran ASI.
Namun, Mommy tidak perlu khawatir berlarut-larut. ASI seret bukanlah akhir dari perjalanan menyusui. Dengan nutrisi yang tepat dan stimulasi yang konsisten, produksi ASI bisa kembali meningkat. Yuk, kita bahas caranya satu per satu. Buibu, baca sampai selesai, ya!
Manfaat ASI untuk Ibu dan Bayi
Sebelum membahas cara melancarkan ASI, penting untuk mengingat kembali mengapa ASI begitu berharga. ASI bukan sekadar sumber nutrisi, tetapi merupakan fondasi kesehatan jangka panjang bagi Mommy dan Si Kecil.
- Bagi si Kecil: ASI mengandung antibodi alami yang tidak dapat ditemukan pada susu formula. Kandungan ini berperan penting dalam melindungi bayi dari infeksi dan alergi.
- Bagi Mommy: Proses menyusui membantu rahim berkontraksi dan kembali ke ukuran semula lebih cepat setelah persalinan. Selain itu, menyusui juga membantu pembakaran kalori secara alami dan menurunkan risiko kanker payudara. Lebih dari itu, momen menyusui menjadi waktu bonding yang berharga, memperkuat ikatan emosional antara Mommy dan bayi.
Kenapa ASI Bisa Seret?
Jangan langsung menyalahkan diri sendiri ya, Mommy. Ada banyak faktor yang memengaruhi produksi ASI, di antaranya:
1. Kurangnya Stimulasi Menyusui
Produksi ASI bekerja berdasarkan prinsip supply and demand. Jika payudara jarang distimulasi melalui menyusu langsung atau pemompaan yang teratur, tubuh akan menurunkan produksi ASI karena dianggap tidak dibutuhkan dalam jumlah banyak.
2. Pelekatan Bayi yang Tidak Efektif
Pelekatan yang kurang tepat membuat bayi tidak menghisap secara optimal, sehingga sinyal ke otak untuk memproduksi ASI berkurang. Kondisi ini sering dikaitkan dengan persepsi ASI kurang dan produksi ASI yang menurun.
3. Stres dan Kelelahan Ibu
Stres, kelelahan, dan tekanan emosional dapat menghambat pelepasan hormon oksitosin yang berperan dalam refleks pengeluaran ASI. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi psikologis ibu sangat memengaruhi kelancaran menyusui dan persepsi kecukupan ASI.
4. Faktor Medis dan Hormonal
Beberapa kondisi medis, seperti gangguan hormon tiroid, obesitas, atau masalah endokrin lainnya, dapat memengaruhi produksi ASI. Ketidakseimbangan hormon prolaktin dan oksitosin diketahui berperan dalam rendahnya produksi ASI.
5. Asupan Nutrisi dan Cairan yang Kurang
Tubuh membutuhkan energi, zat gizi, dan cairan yang cukup untuk mendukung proses menyusui. Walau bukan satu-satunya faktor, hidrasi dan nutrisi yang tidak optimal dapat memperburuk kondisi produksi ASI yang sudah rendah.
Nutrisi Penting yang Membantu ASI Lebih Lancar
Asupan harian Mommy berperan besar dalam mendukung produksi dan kualitas ASI. Untuk membantu mengatasi ASI yang terasa seret, pastikan menu sehari-hari mencakup nutrisi berikut:
1. Protein Hewani dan Nabati
Protein berfungsi sebagai zat pembangun dalam proses produksi ASI. Mommy dianjurkan mengonsumsi sumber protein seperti ikan, telur, ayam, serta kacang-kacangan agar kualitas ASI tetap terjaga.
2. Kalsium dan Zat Besi
Selama menyusui, tubuh Mommy menyalurkan kalsium dan zat besi untuk kebutuhan Si Kecil. Jika asupannya kurang, Mommy bisa mudah merasa lelah dan produksi ASI dapat menurun. Sayuran hijau, daging merah, dan brokoli bisa menjadi pilihan menu harian.
3. Vitamin B dan Vitamin D
Vitamin B-kompleks membantu menjaga energi dan daya tahan tubuh Mommy, sementara vitamin D berperan dalam membantu penyerapan kalsium. Nutrisi ini dapat diperoleh dari gandum utuh, sereal, telur, serta paparan sinar matahari pagi.
4. Air Putih
Sebagian besar kandungan ASI terdiri dari air. Oleh karena itu, Mommy disarankan mencukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih secara rutin sepanjang hari, idealnya sekitar 3 liter, tanpa menunggu rasa haus.
5 Cara Efektif Meningkatkan Produksi ASI
Selain makan enak, lakukan langkah-langkah hack praktis ini agar ASI kembali “deres”:
1. Utamakan Menyusu Langsung
Mommy disarankan fokus menyusu langsung (direct breastfeeding) untuk merangsang produksi ASI. Semakin sering payudara dikosongkan oleh isapan bayi, tubuh akan menerima sinyal untuk memproduksi ASI lebih banyak.
2. Pastikan Pelekatan dan Posisi Sudah Tepat
Perhatikan agar mulut bayi terbuka lebar dan sebagian besar areola masuk ke dalam mulutnya. Posisi menyusui yang nyaman membantu Mommy lebih rileks, sehingga ASI bisa keluar lebih lancar.
3. Pijat Laktasi
Pijatan lembut pada area payudara dan punggung dapat membantu melancarkan aliran ASI. Pijat oksitosin juga membantu tubuh lebih rileks dan mendukung pelepasan hormon yang berperan dalam menyusui.
4. Suplementasi Tambahan (ASI Booster)
Jika diperlukan, Mommy dapat mengonsumsi ASI booster berbahan alami sesuai anjuran dokter. Kandungan seperti Daun Katuk, kelor, hingga Ikan Gabus sering digunakan untuk membantu mendukung produksi ASI.
5. Kelola Stres dan Beri Waktu untuk Istirahat
Produksi ASI sangat dipengaruhi kondisi emosional Mommy. Cobalah untuk tidak terlalu terpaku pada jumlah ASI yang keluar. Dengarkan musik, lakukan aktivitas ringan yang menyenangkan, atau minta bantuan suami agar Mommy bisa beristirahat sejenak.
Kapan Perlu Berkonsultasi ke Dokter?
Jika Mommy sudah mencoba berbagai upaya namun produksi ASI belum juga meningkat atau ASI tidak keluar sama sekali, tidak perlu buru-buru menyalahkan diri sendiri ya, Mom. Segera cari bantuan profesional, berkonsultasi dengan dokter atau konselor laktasi untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan adanya masalah medis, termasuk gangguan pelekatan atau kondisi seperti tongue-tie pada bayi, yang memerlukan penanganan khusus.
Kesimpulan
ASI seret merupakan kondisi yang umum terjadi dan bukan berarti Mommy gagal memberikan ASI untuk Si Kecil. Dengan memperhatikan asupan nutrisi yang seimbang, mencukupi kebutuhan cairan, serta menjaga kondisi emosional tetap baik, produksi ASI dapat terus didukung. Perlu diingat, payudara Ibu bekerja secara dinamis. Selama ada stimulasi dan kebutuhan, tubuh akan terus berusaha memproduksi ASI.
Jika Mommy mulai merasa khawatir karena hasil pompa menurun atau masih bingung dengan teknik pelekatan yang tepat, Mommy tidak perlu menghadapinya sendirian. Mommy dapat memanfaatkan layanan Konsultasi Menyusui Mom Uung GRATIS 24 Jam bersama konselor profesional kami. Kami siap membantu Mommy menemukan solusi berdasarkan anjuran medis agar perjalanan menyusui kembali terasa lebih lancar, aman, dan nyaman.
Yuk, SAVE artikel ini sebagai panduan saat dibutuhkan, dan SHARE ke sesama busui agar semakin banyak Mommy yang merasa lebih tenang dan percaya dalam perjalanan menyusuinya.
Referensi:
- Huang, Y., Liu, Y., Yu, X. Y., & Zeng, T. Y. (2022). The rates and factors of perceived insufficient milk supply: A systematic review. Maternal & child nutrition, 18(1), e13255. Diakses pada 22 Januari 2026. https://doi.org/10.1111/mcn.13255
- Jin, X., Perrella, S. L., Lai, C. T., Taylor, N. L., & Geddes, D. T. (2024). Causes of Low Milk Supply: The Roles of Estrogens, Progesterone, and Related External Factors. Advances in nutrition (Bethesda, Md.), 15(1), 100129. Diakses pada 22 Januari 2026. https://doi.org/10.1016/j.advnut.2023.10.002
- Scime, N. V., Metcalfe, A., Nettel-Aguirre, A., Nerenberg, K., Seow, C. H., Tough, S. C., & Chaput, K. H. (2023). Breastfeeding difficulties in the first 6 weeks postpartum among mothers with chronic conditions: a latent class analysis. BMC pregnancy and childbirth, 23(1), 90. Diakses pada 22 Januari 2026. https://doi.org/10.1186/s12884-023-05407-w
FAQ Seputar Topik Ini
1. Apakah hasil pompa sedikit berarti ASI benar-benar seret?
Belum tentu, Mom. Hasil pompa tidak selalu mencerminkan jumlah ASI sebenarnya. Bayi yang menyusu langsung biasanya lebih efektif mengosongkan payudara dibanding pompa. Jika bayi tetap aktif menyusu, berat badan naik, dan pipis cukup, kemungkinan produksi ASI masih mencukupi.
2. Berapa lama biasanya produksi ASI bisa meningkat kembali?
Jika penyebabnya adalah kurang stimulasi atau kelelahan, peningkatan produksi biasanya mulai terlihat dalam 3–7 hari setelah frekuensi menyusui atau pumping ditingkatkan secara konsisten. Kuncinya adalah rutin dan tidak mudah menyerah di awal.
3. Apakah ASI bisa benar-benar habis total?
Pada ibu yang masih rutin menyusui atau memompa, ASI jarang benar-benar “habis.” Produksi ASI bekerja secara dinamis sesuai kebutuhan bayi. Selama masih ada stimulasi dan tidak ada gangguan medis serius, tubuh akan terus berusaha memproduksi ASI.
4. Apakah sering berpikir ASI kurang bisa memengaruhi produksinya?
Ya, stres dan kecemasan berlebihan dapat menghambat refleks pengeluaran ASI (let-down reflex). Ketika Mommy terlalu fokus pada rasa takut ASI kurang, hormon oksitosin bisa terhambat. Relaksasi dan dukungan emosional sangat membantu memperbaiki kondisi ini.
5. Bagaimana membedakan ASI seret dan growth spurt bayi?
Saat growth spurt, bayi menyusu lebih sering dan tampak tidak puas, sehingga Mommy merasa ASI kurang. Padahal kondisi ini justru cara alami bayi meningkatkan produksi ASI melalui prinsip supply and demand. Jika berlangsung 2–3 hari dan bayi tetap aktif serta berat badan naik, kemungkinan itu adalah growth spurt, bukan ASI seret permanen.
