Momuung.co.id – Mommy, sekarang kita sudah memasuki bulan Ramadan. Di satu sisi ingin maksimal beribadah, tapi sebagai busui wajar kalau muncul rasa khawatir, seperti takut ASI berkurang atau berat badan si Kecil ikut terdampak saat puasa.
Masih banyak Mommy yang merasa tidak enak kalau tidak berpuasa penuh. Padahal dalam agama, ibu menyusui memang mendapat keringanan karena menjaga kesehatan diri dan nutrisi bayi adalah amanah yang utama. Apalagi menyusui juga bagian dari ibadah
Memutuskan untuk puasa saat menyusui bukan soal kuat-kuatan, tapi soal memastikan kondisi Mommy tetap fit, produksi ASI tetap baik dan kebutuhan si Kecil tetap terpenuhi.
Sebelum menjalani puasa, ada beberapa hal penting yang perlu Mommy cek dulu. Buibu, yuk simak sampai selesai, ya!
1. Lakukan “Trial” Sebelum Ramadan Tiba
Sebelum memutuskan berpuasa penuh selama satu bulan, Mommy bisa mencoba terlebih dahulu satu sampai dua hari puasa di bulan Sya’ban atau di hari biasa sebagai simulasi.
Tujuan latihan ini adalah bentuk melihat secara langsung bagaimana tubuh Mommy beradaptasi dan bagaimana respons bayi. Perhatikan apakah energi Mommy tetap stabil, apakah muncul pusing atau lemas berlebihan, serta apakah pola menyusu dan buang air kecil (BAK) bayi tetap normal. Karena setiap ibu menyusui memiliki kondisi fisik, cadangan energi, dan pola produksi ASI yang berbeda, observasi singkat ini membantu Mommy menilai apakah strategi puasa yang direncanakan sudah aman atau masih perlu disesuaikan.
2. Perhatikan Hal Ini Sebelum Memutuskan Berpuasa
Penelitian menunjukkan bahwa puasa Ramadan pada ibu menyusui yang sehat umumnya tidak menyebabkan gangguan serius pada bayi. Namun, ada beberapa kondisi yang membutuhkan pertimbangan agar Mommy lebih berhati-hati agar kebutuhan nutrisi dan pertumbuhan bayi tetap terjaga:
- Enam Bulan Pertama ASI Eksklusif
Pada enam bulan pertama, bayi sepenuhnya bergantung pada ASI sebagai satu-satunya sumber nutrisi dan cairan. Artinya, kecukupan asupan bayi sangat ditentukan oleh produksi ASI ibu dan frekuensi menyusu setiap hari.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Breastfeeding Medicine menunjukkan bahwa pada ibu menyusui yang sehat, puasa Ramadan umumnya tidak menyebabkan perubahan drastis pada komposisi energi dan zat gizi makro dalam ASI, serta tidak berdampak serius pada berat badan bayi dalam populasi yang diteliti (Başıbüyük et al., 2023).
Karena itu, jika Mommy masih berada di fase awal menyusui, masih beradaptasi, atau merasa produksi ASI belum stabil, sebaiknya pertimbangkan kondisi tubuh dan kondisi bayi secara jujur dan konsultasikan dengan dokter kepercayaan Mommy sebelum memutuskan berpuasa penuh.
- Bayi dengan Kenaikan Berat Badan Kurang Optimal
Penelitian menunjukkan bahwa puasa pada ibu yang sehat tidak berdampak signifikan terhadap pertumbuhan bayi, sehingga berat badan bayi tetap stabil selama ia dalam kondisi sehat (Başıbüyük et al., 2023).
Jika bayi sedang dalam pemantauan dokter karena berat badannya belum sesuai target, keputusan untuk berpuasa sebaiknya dibicarakan terlebih dahulu dengan dokter anak maupun konselor laktasi kepercayaan Mommy. Dalam kondisi ini, yang paling penting adalah memastikan bayi tetap mendapatkan asupan yang cukup agar pertumbuhannya tidak terganggu.
- Sedang Berusaha Meningkatkan Produksi ASI
Produksi ASI sangat bergantung pada kecukupan energi ibu dan seberapa sering payudara dikosongkan melalui menyusui atau memompa. Jika asupan energi dan cairan berubah drastis, tubuh dapat beradaptasi dan hal ini berpotensi memengaruhi proses pembentukan ASI.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pada ibu menyusui yang sehat dan dalam kondisi stabil, puasa Ramadhan umumnya tidak menurunkan volume atau kandungan utama ASI secara signifikan (Başıbüyük et al., 2023). Namun, jika ibu sedang dalam fase meningkatkan produksi ASI, menjaga pola makan dan hidrasi yang teratur lebih dianjurkan sebelum memutuskan untuk berpuasa.
3. Penuhi Nutrisi Harian saat Busui Berpuasa
Biasanya, kandungan makronutrien (lemak, protein, karbohidrat) dalam ASI tidak berubah signifikan saat puasa. Namun, kandungan mikronutrien (vitamin dan mineral) sangat bergantung pada apa yang Mommy makan saat sahur dan buka.
Selama berpuasa, ibu menyusui tetap perlu memperhatikan pola makan dan minum agar kebutuhan energi serta cairan terpenuhi dengan baik.
- Atur Jadwal Minum dengan Terencana
Agar kebutuhan cairan tetap terpenuhi selama puasa, Mommy bisa membaginya secara teratur dari waktu berbuka hingga sahur. Berikut panduannya:
1. Minum 2 gelas saat berbuka (total ±500 ml)
Segera setelah berbuka, minum dua gelas air untuk mengganti cairan yang hilang selama seharian berpuasa. Ini membantu tubuh kembali segar dan mempersiapkan energi untuk aktivitas malam hari, termasuk menyusui.
2. Minum 4 gelas secara bertahap di malam hari (±1.000 ml)
Bagi empat gelas air secara perlahan antara setelah makan malam hingga sebelum tidur. Minum sedikit demi sedikit lebih efektif menjaga keseimbangan cairan dibandingkan langsung dalam jumlah besar.
3. Minum 2 gelas saat sahur (±500 ml)
Tambahkan dua gelas air saat sahur untuk memastikan tubuh tetap terhidrasi sebelum memulai puasa. Cairan yang cukup membantu menjaga stamina dan mendukung kelancaran proses menyusui sepanjang hari.
- Tambahkan Cairan dengan Elektrolit Alami
Selain air putih, Mommy bisa menambah cairan yang mengandung elektrolit alami saat berbuka untuk membantu mengembalikan keseimbangan cairan tubuh.
Contohnya:
- Air kelapa tanpa tambahan gula
- Infused water dengan potongan buah
- Sup atau kaldu hangat
Dengan pola minum yang teratur, kebutuhan cairan harian tetap tercukupi, sehingga Mommy bisa menjalani aktivitas dengan lebih nyaman tanpa khawatir kekurangan cairan jika memutuskan untuk berpuasa.
- Penuhi Hidrasi dari Makanan Tinggi Air
Hidrasi tidak hanya berasal dari minuman. Beberapa makanan juga membantu mencukupi kebutuhan cairan. Mommy bisa menyiapkan menu makanan berikut untuk sahur maupun berbuka:
- Sayur berkuah dan kaldu ayam
- Buah tinggi air seperti semangka dan melon
- Timun dan jeruk
- Air nabeez (minuman dari rendaman kurma yang direndam selama 8-12 jam atau semalaman)
- Atur Menu Sahur dan Berbuka dengan Tepat
Saat berbuka, dahulukan minum air putih sebanyak 1-2 gelas air (sekitar 250 ml per gelas) untuk mengganti cairan yang hilang selama puasa. Hindari langsung mengonsumsi makanan atau minuman yang terlalu manis dan tinggi kalori. Gula yang masuk secara tiba-tiba dapat membuat kadar gula darah naik cepat lalu turun kembali, sehingga Mommy bisa merasa lemas setelahnya.
1. Pilih Karbohidrat yang Mengenyangkan Lebih Lama
Saat sahur, Mommy juga bisa memilih sumber karbohidrat yang dicerna lebih lambat, seperti ubi, jagung, atau gandum utuh. Hindari makan terlalu banyak gorengan atau nasi putih berlebihan karena cepat membuat lapar. Karbohidrat kompleks membantu Mommy merasa kenyang lebih lama dan menjaga energi tetap stabil selama berpuasa. Contohnya:
- Ubi
- Jagung
- Kentang
- Menu dari olahan gandum, seperti roti gandum atau sereal
2. Lengkapi dengan Protein
Protein yang terdiri dari rantai asam amino sangat penting untuk menjaga stamina ibu dan membantu meningkatkan produksi ASI. Pilin Lean Protein lebih baik (Protein rendah lemak) Pilih sumber protein seperti:
- Telur
- Ayam (bagian dada lebih diutamakan)
- Ikan
- Daging rendah lemak
- Tahu dan tempe
3. Sayuran Hijau dan Buah
Tambahkan sayuran hijau untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, dan serat, seperti:
Pilih juga buah buahan yang tinggi air
- Sayur Daun Katuk
- Sayur Daun Kelor
- Olahan dari brokoli (tumis brokoli, sapo tahu brokoli, sayur sop)
- Olahan dari kangkung (tumis atau cah kangkung, plecing kangkung, sayur bening kangkung)
- Semangka
- Melon
- Tomat
Sayuran dan protein bisa menjadi bagian dari menu sahur maupun berbuka agar kebutuhan gizi tetap seimbang. Dengan kombinasi karbohidrat kompleks, lauk berprotein, sayuran hijau, buah dan makanan berkuah, Mommy dapat menjalani puasa dengan lebih nyaman tanpa mengurangi kualitas nutrisi untuk si Kecil.
4. Pilih Menu Takjil Padat Gizi Seperti Kurma
Kurma bisa menjadi pilihan awal yang baik saat berbuka. Buah ini mengandung karbohidrat alami sebagai sumber energi cepat, serta kaya serat, kalium, magnesium, dan antioksidan. Kandungan seratnya juga membantu menjaga kenyang lebih lama dan mendukung kesehatan pencernaan.
Penelitian menunjukkan bahwa ibu menyusui yang mengonsumsi kurma secara rutin mengalami peningkatan jumlah ASI dibandingkan yang tidak mengonsumsinya. Manfaat ini diduga karena kandungan energi dan zat alami dalam kurma membantu memenuhi kebutuhan tubuh ibu saat menyusui (Modepeng et al., 2021). Cukup konsumsi 1-3 butir kurma saat berbuka agar asupan gula tetap terkontrol ya, Mommy.
- Batasi Konsumsi Camilan dan Minuman Berkafein
Saat berpuasa, wajar jika Mommy ingin menikmati camilan saat berbuka atau setelah tarawih. Namun, sebaiknya batasi camilan tinggi gula dan garam karena bisa memicu lonjakan gula darah, meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, serta membuat tubuh cepat lemas.
Agar lebih seimbang, berikut panduan memilih camilan yang lebih sehat:
1. Pilih Camilan yang Lebih Bernutrisi
Jika ingin ngemil, kombinasikan dengan sumber protein dan lemak sehat agar kenyang lebih lama, seperti:
- Almond
- Kacang mete
- Biji chia
- Biji labu
- Kacang tanah panggang tanpa garam berlebih
Kandungan protein, lemak sehat, dan serat membantu menjaga energi tetap stabil dan mencegah rasa lapar datang terlalu cepat.
2. Tambahkan Susu Tinggi Protein Rendah Gula
Mommy juga bisa memilih susu khusus ibu menyusui yang rendah gula, tinggi kalsium, dan mengandung protein cukup. Secara umum, ibu menyusui membutuhkan sekitar 65-75 gram protein per hari, tergantung berat badan dan aktivitas. Sumber protein bisa berasal dari:
- Susu tinggi protein
- Telur
- Ikan
- Ayam
- Tempe dan tahu
Asupan protein yang cukup membantu menjaga stamina dan mendukung produksi ASI.
3. Batasi Minuman Berkafein
Untuk kopi dan teh, sebaiknya batasi konsumsi tidak lebih dari 200 mg kafein per hari atau setara satu cangkir kopi ukuran sedang. Kafein yang berlebihan dapat membuat sebagian bayi lebih rewel atau sulit tidur karena sebagian kecil kafein dapat masuk ke dalam ASI.
Dengan memilih camilan yang lebih seimbang dan membatasi kafein, Mommy tetap bisa menikmati waktu berbuka tanpa mengganggu energi dan proses menyusui.
Kenali “Red Flag” untuk Segera Membatalkan Puasa
Mommy harus peka terhadap sinyal tubuh dan sinyal dari bayi. Segera batalkan puasa Mommy jika muncul tanda-tanda berikut, sebagaimana dikutip dari Ikatan Dokter Anak Indonesia [IDAI] (2013):
– Frekuensi BAK Bayi Berkurang
Frekuensi buang air kecil merupakan salah satu indikator yang sering digunakan untuk menilai kecukupan ASI pada bayi, dengan tanda-tanda berikut:
- Minimal 6 kali BAK per 24 jam menandakan asupan cukup
Jika bayi menyusu dengan baik, ia umumnya akan buang air kecil setidaknya 6 kali dalam 24 jam. Frekuensi ini menunjukkan bahwa cairan yang masuk melalui ASI mampu memenuhi kebutuhan hidrasi dan mendukung fungsi ginjal bayi secara optimal.
- Warna urin jernih atau kuning pucat adalah tanda hidrasi baik
Selain jumlahnya, warna urin juga penting diperhatikan. Urin yang jernih hingga kuning muda menandakan keseimbangan cairan tubuh bayi dalam kondisi baik dan tidak kekurangan minum ASI.
– Bayi Terlihat Tidak Kenyang Setelah Menyusu
Bila bayi masih terlihat lapar, rewel, atau ingin menyusu terus tetapi tetap gelisah, ini bisa menjadi tanda asupan ASI belum mencukupi. Pada bayi di bawah 6 bulan yang masih bergantung penuh pada ASI, perubahan pola menyusu perlu segera diperhatikan.
Mommy dianjurkan memantau frekuensi menyusu dan kondisi bayi saat sedang berpuasa. Jika muncul tanda bayi tidak kenyang atau asupan berkurang, puasa sebaiknya dihentikan untuk memastikan kebutuhan nutrisi dan cairan bayi tetap terpenuhi.
– Ibu Terlihat Sangat Lemas atau Pusing
Jika ibu merasa sangat lemas, pusing berputar, pandangan berkunang, jantung berdebar, atau hampir pingsan, kondisi ini tidak boleh diabaikan. Keluhan tersebut bisa menjadi tanda kekurangan cairan, tekanan darah menurun, atau kadar gula darah terlalu rendah.
Saat menyusui, tubuh membutuhkan energi dan cairan yang cukup untuk menjaga produksi ASI tetap stabil. Jika ibu sudah menunjukkan tanda kelelahan berat, puasa sebaiknya segera dibatalkan dan ibu dianjurkan minum serta makan secara bertahap. Setelah kondisi membaik, ibu perlu beristirahat dan memastikan asupan cairan terpenuhi dengan baik.
Memaksakan diri berpuasa dalam kondisi ini dapat memperburuk keadaan dan berisiko mengganggu kesehatan ibu.
– Produksi ASI Terasa Menurun
Penurunan produksi ASI bisa menjadi tanda bahwa asupan cairan dan energi tidak mencukupi. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain payudara terasa lebih kosong dari biasanya, bayi tampak lebih sering rewel setelah menyusu, frekuensi buang air kecil bayi berkurang, atau berat badan bayi tidak bertambah sesuai usia.
Produksi ASI sangat bergantung pada kecukupan cairan, energi, serta frekuensi pengosongan payudara. Jika ibu menyadari adanya penurunan yang jelas dan bayi tampak kurang puas setelah menyusu, puasa sebaiknya dihentikan untuk sementara agar kebutuhan nutrisi dan cairan dapat segera dipenuhi.
Jika produksi ASI terus menurun meskipun asupan sudah diperbaiki, ibu disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor laktasi untuk evaluasi lebih lanjut.
Menyusui Juga Bentuk Ibadah
Ingat ya Mom, menyusui hingga dua tahun adalah anjuran dalam agama Islam. Artinya, setiap usaha dan pengorbanan Mommy dalam memberikan ASI memiliki nilai ibadah dan pahala.
Karena itu, penting untuk meluruskan niat Mommy. Puasa memang ibadah yang mulia, tetapi menjaga kesehatan dan hak nutrisi bayi juga merupakan tanggung jawab yang tidak kalah besar. Jika kondisi tubuh tidak memungkinkan untuk berpuasa dan berisiko mengganggu kecukupan ASI, memilih untuk menunda puasa demi menjaga kesehatan anak juga termasuk bentuk ketaatan kepada Allah.
Masih ragu soal jadwal menyusui atau pengaturan nutrisi selama Ramadan? Mommy tidak perlu menghadapi semuanya sendiri. Mom Uung menyediakan layanan konsultasi menyusui gratis selama 24 jam bersama konselor laktasi profesional yang siap membantu.
Simpan dan bagikan informasi ini kepada keluarga atau sesama pejuang ASI agar semakin banyak ibu yang merasa tenang dan teredukasi saat menjalani Ramadan.
Referensi:
- Başıbüyük, M., Aktaç, Ş., Kundakçı, S., Büke, Ö., & Karabayır, N. (2023). Effect of Ramadan Fasting on Breast Milk. Breastfeeding medicine : the official journal of the Academy of Breastfeeding Medicine, 18(8), 596-601. Diakses pada 20 Februari 2026. https://doi.org/10.1089/bfm.2023.0144
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2013). Manajemen Laktasi. Diakses pada 20 Februari 2026. https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/manajemen-laktasi
- Modepeng, T., Pavadhgul, P., Bumrungpert, A., & Kitipichai, W. (2021). The Effects of Date Fruit Consumption on Breast Milk Quantity and Nutritional Status of Infants. Breastfeeding medicine : the official journal of the Academy of Breastfeeding Medicine, 16(11), 909-914. Diakses pada 23 Februari 2026. https://doi.org/10.1089/bfm.2021.0031
