Momuung.co.id – Menjalani masa menyusui memang tidak selalu mudah. Wajar jika Mommy khawatir saat hasil pompa terlihat sedikit dan bertanya apakah ASI sudah cukup. Sebelum menganggap produksi ASI kurang dan memompa ASI, evaluasi dulu proses menyusui Mommy. Pada ibu yang menyusui langsung, kecukupan ASI lebih tepat dilihat dari pelekatan, frekuensi menyusu, kenaikan berat badan, dan jumlah pipis bayi, bukan dari hasil pompa saja. Begitu juga dengan ibu yang exclusive pumping. Jika hasil perah terasa sedikit, evaluasi dulu penggunaan alat pompa, ukuran corong, durasi dan frekuensi memompa, serta teknik yang digunakan.
Di artikel ini, kita akan membahas salah satu metode menaikkan produksi ASI dengan teknik power pumping, kapan power pumping dibutuhkan dan bagaimana melakukannya dengan tepat. Buibu, yuk simak sampai selesai, ya!
Apa itu power pumping?
Power pumping adalah teknik memompa ASI dengan pola pompa dan jeda dalam satu sesi untuk meniru cara bayi menyusu saat growth spurt. Saat bayi menyusu lebih sering, tubuh ibu mendapat sinyal untuk memproduksi ASI lebih banyak. Pola ini membantu meningkatkan hormon prolaktin dan oksitosin yang berperan penting dalam produksi dan pengeluaran ASI (WHO, 2025).
Penelitian menunjukkan bahwa power pumping dapat membantu meningkatkan volume ASI pada ibu dengan produksi ASI rendah dibandingkan metode pompa biasa (Kalathingal et al., 2024).
Kapan Ibu Perlu Melakukan Power Pumping?
Tidak semua ibu perlu melakukan power pumping setiap hari. Teknik ini umumnya disarankan pada kondisi tertentu, seperti:
- Produksi ASI Terbukti Menurun
Power pumping dapat dipertimbangkan bila ibu terbukti mengalami penurunan produksi ASI, seperti volume ASI berkurang, dan tanda kecukupan ASI tidak terpenuhi. Stimulasi payudara yang lebih sering dapat membantu meningkatkan pelepasan hormon prolaktin dan sinyal produksi ASI (Mitchell et al., 2022).
- Setelah Periode Pengosongan Payudara Tidak Optimal
Teknik power pumping juga dapat digunakan setelah kondisi yang membuat payudara ibu jarang dikosongkan, misalnya bayi sakit dan jarang menyusu, ibu mengalami sumbatan ASI atau mastitis, atau jadwal menyusui terganggu beberapa hari. Power pumping membantu memulihkan sinyal produksi ASI melalui peningkatan frekuensi stimulasi (Mitchell et al., 2022).
- Saat Produksi ASI Rendah Setelah Evaluasi Menyeluruh
Pada ibu dengan produksi ASI rendah yang telah dievaluasi dan dipastikan tidak disebabkan oleh masalah pelekatan, frekuensi menyusu yang kurang, atau kondisi medis tertentu, power pumping dapat menjadi opsi tambahan. Namun, ibu bekerja atau ibu exclusive pumping dengan suplai ASI stabil cukup melakukan pumping reguler, sehingga tidak otomatis membutuhkan power pumping.
Cara Melakukan Power Pumping yang Benar
Mommy dapat menggunakan Pompa ASI elektrik yang nyaman. Double pump lebih efisien karena merangsang kedua payudara sekaligus, tapi single pump juga dapat diterapkan.
Double Pump:
- Pompa 20 menit
- Istirahat 10 menit
- Pompa 10 menit
- Istirahat 10 menit
- Pompa 10 menit
Total: ±60 menit
Single Pump
- Pompa 10 menit payudara kanan
- Pompa 10 menit payudara kiri
- Istirahat 5 menit
- Ulangi siklus: 10 menit kanan + 10 menit kiri + istirahat 5 menit
- Pompa 10 menit kanan + 10 menit kiri
Total: ±70 menit
Teknik ini membantu meningkatkan stimulasi dan sinyal produksi ASI, baik dengan single maupun double pump.
Waktu yang Dianjurkan untuk Power Pumping
Power pumping paling efektif dilakukan pada tengah malam hingga pagi (sekitar pukul 00.00-05.00) atau malam hari pukul 22.00-23.00 sebelum istirahat, karena pada jam ini hormon prolaktin yang mendorong produksi ASI sedang tinggi.
Namun, power pumping tetap bisa dilakukan kapan saja sesuai jadwal Mommy. Disarankan melakukan 2-3 sesi per hari selama 3 hari berturut-turut dengan ritme yang sama untuk membantu meningkatkan suplai ASI secara optimal (Kent et al., 2012).
Jadwal ini tidak wajib dan bisa disesuaikan dengan kondisi tubuh Mommy. Sangat dianjurkan untuk tetap berkonsultasi dengan konselor menyusui atau dokter laktasi agar teknik ini aman dan sesuai kebutuhan.
Tips Agar Suplai ASI Lancar
Sebelum mencoba power pumping, ada beberapa langkah dasar yang justru lebih berpengaruh langsung pada kelancaran produksi ASI. Jika fondasi ini sudah optimal, tubuh Mommy biasanya bisa menyesuaikan suplai ASI secara alami.
- Pilih Pompa ASI yang Nyaman
Gunakan pompa dengan hisapan stabil, ritmis, dan tidak menimbulkan nyeri. Pompa dengan fitur mode pijat (stimulation) dan mode hisap (expression) membantu memicu let-down reflex (LDR) sehingga ASI lebih mudah mengalir. Pompa ASI hospital grade paling direkomendasikan karena pola hisapannya dirancang menyerupai isapan alami bayi, sehingga lebih efektif dalam mengosongkan payudara dan menjaga sinyal produksi ASI.
- Lakukan Pijat Laktasi
Pijat payudara membantu melancarkan aliran ASI dan mencegah sumbatan. Lakukan cara-cara berikut:
- Mulai dengan pijatan lembut melingkar dari bagian luar payudara menuju arah puting
- Gunakan ujung jari, bukan menekan keras
- Lanjutkan dengan teknik breast compression saat memompa untuk membantu ASI keluar lebih optimal
- Pijat dilakukan dengan nyaman dan tidak menimbulkan rasa sakit.
- Cukupi Cairan dan Nutrisi
Produksi ASI sangat bergantung pada kecukupan cairan dan zat gizi ibu.
- Kebutuhan cairan ibu menyusui sekitar 3 liter per hari, berasal dari air putih, kuah sayur, susu, atau cairan lain, seperti cairan elektrolit (air kelapa, jus buah segar tanpa gula, susu sapi atau kedelai, air perasan lemon dicampur garam, dan kaldu ayam atau kaldu tulang)
- Nutrisi penting harian meliputi:
- Protein (ikan, telur, daging, tahu, tempe)
- Lemak sehat (ikan, alpukat, kacang-kacangan)
- Karbohidrat kompleks (umbi, jagung, oat, brokoli)
- Vitamin dan mineral seperti zat besi, kalsium, vitamin D, dan vitamin B kompleks
- Tips Memicu Let Down Reflex (LDR) agar ASI Lebih Lancar
Let down reflex (LDR) adalah refleks alami yang membantu pengosongan ASI lebih cepat dan optimal. Proses ini dipengaruhi hormon oksitosin. Jika ibu merasa tegang, cemas, atau kelelahan, produksi hormon oksitosin bisa terhambat sehingga ASI terasa sulit keluar meskipun sebenarnya persediaannya cukup.
Agar proses pengeluaran ASI lebih cepat dan optimal, Mommy bisa mencoba beberapa cara berikut:
1. Ciptakan Suasana yang Tenang
Pilih posisi duduk yang nyaman, sandarkan punggung, dan atur napas perlahan. Tarik napas dalam melalui hidung, lalu hembuskan perlahan melalui mulut. Tubuh yang rileks membantu LDR bekerja lebih optimal.
2. Lakukan Kontak Emosional dengan Si Kecil
Melihat foto atau video bayi, mencium pakaian yang beraroma bayi, atau membayangkan wajahnya bisa merangsang respons emosional positif. Rangsangan ini juga membantu memicu refleks pengeluaran ASI, terutama saat ibu sedang memompa dan tidak bersama bayi.
3. Dengarkan Musik atau Audio yang Menenangkan
Musik lembut, lantunan dzikir, atau suara alam dapat membantu menurunkan hormon stres (kortisol). Saat tubuh lebih santai, aliran ASI biasanya menjadi lebih lancar.
4. Gunakan Kompres Hangat Sebelum Menyusui atau Memompa
Kompres hangat pada payudara selama 5-10 menit dapat membantu melancarkan aliran darah dan membuat saluran ASI lebih rileks. Setelah itu, lanjutkan dengan pijatan lembut atau teknik breast massage agar pengosongan payudara lebih optimal.
5. Hindari Terburu-buru
Berikan waktu pada tubuh Mommy. Terkadang LDR muncul dalam beberapa menit pertama, tetapi pada sebagian ibu bisa sedikit lebih lama. Tetap tenang dan hindari fokus pada “berapa banyak ASI yang keluar”, karena stres justru bisa menghambat refleksnya.
Kesimpulan
Kunci menjaga dan meningkatkan produksi ASI adalah konsistensi dalam pengosongan payudara, baik melalui menyusui langsung maupun pumping rutin sesuai kondisi tubuh Mommy. Power pumping bisa menjadi salah satu strategi tambahan pada kondisi tertentu, terutama saat produksi ASI memang terbukti menurun dan sudah dievaluasi sebelumnya. Teknik ini tidak wajib untuk semua ibu dan tidak selalu cocok bagi setiap kondisi tubuh.
Sebagian ibu mungkin mulai melihat perubahan setelah beberapa hari melakukannya secara terarah, namun hasilnya tetap bergantung pada kondisi masing-masing. Tidak perlu membandingkan hasil pompa dengan orang lain. Yang terpenting adalah kecukupan ASI untuk kebutuhan bayi.
Jika Mommy masih bingung menentukan apakah perlu power pumping, kesulitan mengatur jadwal pumping, atau merasa produksi ASI belum optimal, jangan hadapi sendiri. Mommy bisa memanfaatkan Layanan Konsultasi Menyusui Mom Uung GRATIS 24 Jam untuk mendapatkan pendampingan dari tim konselor laktasi agar perjalanan menyusui terasa lebih tenang dan terarah.
Simpan artikel ini sebagai panduan, dan bagikan ke sesama pejuang ASI agar semakin banyak Mommy yang mendapatkan informasi yang tepat dan terpercaya.
Referensi:
- Kalathingal, T., Manerkar, S., Mondkar, J., Kalamdani, P., Patra, S., Kaur, S., & Khandekar, H. (2024). Comparison of Two Pumping Strategies to Improve Exclusive Breastfeeding at Discharge in Mothers of VLBW Infants with Low Milk Output – A Pilot Randomized Controlled Trial. Indian journal of pediatrics, 91(9), 906–912. Diakses pada 26 Januari 2026. https://doi.org/10.1007/s12098-023-04859-4
- Kent, J. C., Prime, D. K., & Garbin, C. P. (2012). Principles for maintaining or increasing breast milk production. Journal of obstetric, gynecologic, and neonatal nursing : JOGNN, 41(1), 114–121. https://doi.org/10.1111/j.1552-6909.2011.01313.x
- Mitchell, K. B., Johnson, H. M., Rodríguez, J. M., Eglash, A., Scherzinger, C., Zakarija-Grkovic, I., Cash, K. W., Berens, P., Miller, B., & Academy of Breastfeeding Medicine (2022). Academy of Breastfeeding Medicine Clinical Protocol #36: The Mastitis Spectrum, Revised 2022. Breastfeeding medicine : the official journal of the Academy of Breastfeeding Medicine, 17(5), 360-376. Diakses pada 13 Februari 2026. https://doi.org/10.1089/bfm.2022.29207.kbm
- Vargas-Pérez, S., Hernández-Martínez, C., Voltas, N., Morales-Hidalgo, P., Canals, J., & Arija, V. (2025). Effects of breastfeeding on cognitive abilities at 4 years old: Cohort study. International Journal of Early Childhood, 57, 255-277. Diakses pada 13 Februari 2026. https://doi.org/10.1007/s13158-024-00396-z
- World Health Organization. (2025). Infant and young child feeding: Model chapter for textbooks for medical students and allied health professionals, 2nd ed. World Health Organization. Diakses pada 26 Januari 2026. https://www.who.int/publications/i/item/9789240113732
