Ditulis oleh:
Direview oleh:

Momuung.co.idPernah merasa sudah melakukan semuanya dengan benar, tapi si Kecil tiba-tiba menangis kencang di sore atau malam hari? Perutnya terasa keras, kaki diangkat ke dada, wajahnya memerah menahan tidak nyaman. Rasanya bikin hati Mommy ikut nyess dan panik, ya. 

Tenang, Mom. Perut kembung pada bayi, terutama newborn, adalah hal yang cukup umum karena sistem pencernaannya masih belajar beradaptasi. Yuk, pahami penyebabnya dan cari tahu mengatasinya supaya Mommy dan si Kecil bisa kembali lebih tenang dan tidur lebih nyenyak. 

Kenapa Perut Bayi Bisa Kembung?

Pada usia 0 sampai 4 bulan, saluran cerna bayi masih dalam tahap berkembang. Gerakan usus, kerja enzim pencernaan, dan keseimbangan bakteri baik di usus belum stabil. Kondisi ini membuat gas lebih mudah terbentuk dan terperangkap di dalam perut. Karena itu, kembung dan kolik cukup sering terjadi pada tiga bulan pertama setelah bayi lahir (Banks et al., 2023). 

Berikut beberapa penyebab yang paling sering terjadi, seperti yang dikutip dari Banks et al. (2023):

1. Udara Masuk Saat Menyusu

Jika posisi dan pelekatan saat menyusu belum optimal, bayi bisa menelan udara lebih banyak. Udara yang ikut tertelan akan berkumpul di lambung dan usus sehingga perut terasa penuh dan keras. Kondisi ini dikenal sebagai aerophagia dan sering dikaitkan dengan keluhan kembung pada bayi.

2. Menangis Terlalu Lama

Saat bayi menangis dalam waktu lama, ia juga tanpa sadar menelan udara melalui mulut. Semakin lama menangis, semakin banyak udara yang masuk ke saluran cerna. Hal ini dapat mempererat rasa tidak nyaman di perut, terutama pada bayi yang sistem cernanya masih sensitif.

3. Sistem Pencernaan Belum Matang

Pada awal kehidupan, proses mencerna ASI masih beradaptasi. Aktivitas enzim dan pergerakan usus yang belum teratur dapat menyebabkan pembentukan gas lebih banyak. Ketidakseimbangan bakteri usus dan kematangan saluran cerna berperan dalam munculnya kolik dan kembung pada bayi di usia lebih muda. 

Apakah Makanan Mommy Berpengaruh? 

Sebagian besar makanan yang dikonsumsi Mommy tidak otomatis membuat Bayi kembung. Namun, pada beberapa kondisi tertentu, ada hal yang perlu diperhatikan. 

Berikut penjelasannya:

1. Sebagian besar makanan aman dikonsumsi

Tidak ada bukti kuat bahwa makanan tertentu seperti sayur atau kacang-kacangan langsung menyebabkan kembung pada bayi. Sistem Pencernaan bayi yang belum matang jauh lebih sering menjadi penyebab utama.

2. Waspadai sensitivitas protein susu sapi

Pada sebagian kecil bayi yang sensitif terhadap protein susu sapi, gejala seperti kembung, rewel berlebihan, muntah, atau perubahan pola buang air bisa muncul. Kondisi ini dikenal sebagai alergi protein susu sapi dan memang dapat memengaruhi saluran cerna bayi yang sensitif (Vandenplas et al., 2024).

3. Perhatikan tanda penyerta lainnya

Jika kembung disertai ruam kulit, muntah berulang, diare, atau berat badan sulit naik, sebaiknya segera konsultasikan ke tenaga kesehatan untuk evaluasi lebih lanjut. 

Selama bayi tetap aktif, menyusu dengan baik, dan berat badannya naik sesuai kurva pertumbuhan, kembung pada usia awal umumnya bersifat sementara dan akan membaik seiring bertambahnya usia. 

5 Cara Mengatasi Perut Kembung pada Bayi

Jika kembung si Kecil masih tergolong ringan dan bayi tetap aktif serta menyusu dengan baik, Mommy bisa mencoba beberapa langkah sederhana ini di rumah.

1. Perbaiki Posisi Menyusu dan Pelekatan (Poskat)

Pastikan mulut bayi terbuka lebar dan menutupi sebagian besar areola agar tidak banyak udara yang ikut tertelan. Jika menggunakan media lain, pastikan wadahnya terisi susu, bukan udara. Setelah menyusu, biasakan untuk menyendawakan bayi dalam posisi tegak sambil ditepuk lembut punggungnya. 

2. Lakukan Tummy Time (Tengkurap) Saat Bayi Sadar

Posisi tengkurap saat bayi terjaga dapat membantu memberi tekanan lembut pada perut sehingga gas lebih mudah keluar. Lakukan dengan pengawasan penuh dan hindari segera setelah menyusu agar bayi tidak gumoh. 

3. Pijat Lembut “I Love You” (ILU)

Ini adalah teknik pijat untuk melancarkan aliran gas di usus:

  • I: Usap perut kiri bayi dari atas ke bawah.
  • L: Usap dari kanan atas ke arah kiri atas, lalu turun ke bawah (seperti huruf L terbalik).
  • U: Usap dari kanan bawah ke atas, ke samping kiri, lalu turun ke bawah (seperti huruf U terbalik).
    Gunakan minyak telon atau calming oil yang hangat agar si Kecil merasa rileks.

4. Gerakan “Bicycle Kick” (Mengayuh Sepeda)

Baringkan bayi telentang lalu gerakkan kedua kakinya perlahan seperti sedang mengayuh sepeda. Gerakan ini membantu memberi tekanan ringan pada perut sehingga gas terdorong keluar. 

5. Berikan Kompres Hangat

Tempelkan kain atau waslap hangat pada perut bayi. Rasa hangat membantu merilekskan otot perut yang tegang akibat penumpukan gas. 

Jika kembung disertai muntah berulang, demam, bayi tampak sangat lemas, atau berat badan tidak naik, segera konsultasikan ke tenaga kesehatan untuk evaluasi lebih lanjut. 

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter? 

Segera periksakan si Kecil ke dokter anak jika kembung disertai tanda yang tidak biasa atau tampak lebih berat dari biasanya. 

Waspadai kondisi berikut:

  • Demam tinggi
  • Perut terasa sangat keras dan tegang saat disentuh
  • Muntah menyembut yang berbeda dari gumoh ringan
  • Terdapat darah pada tinja
  • Bayi tidak buang air besar sama sekali dan terlihat kesakitan

Kesimpulan 

Mengatasi perut kembung pada bayi memang membutuhkan kesabaran. Usahakan tetap tenang, karena bayi sangat peka terhadap sentuhan dan suasana hati Mommy saat berinteraksi dengannya.

Pijat perut secara lembut seperti teknik ILU dan memperbaiki posisi menyusu dapat membantu mengurangi gas di saluran cerna sehingga bayi lebih nyaman dan tidak mudah rewel. Lakukan secara rutin dan perlahan agar si Kecil merasa aman.

Jika bayi terlihat sangat rewel atau menangis tanpa henti, Mommy juga perlu waspada terhadap kemungkinan kolik. Mommy bisa pelajari lebih lanjut melalui artikel Bayi Menangis Tanpa Henti? Ini 5 Cara Mengatasi Bayi Kolik dengan Metode 5S agar si Kecil bisa kembali tenang dan nyaman.

Tetap semangat ya, Mommy. Perhatian dan kepedulian Mommy adalah dukungan terbaik untuk tumbuh kembang si Kecil.

Referensi:

  • Banks, J. B., Rouster, A. S., & Chee, J. (2023). Infantile colic. In R. A. StatPearls (Ed.), StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK518962/
  • Vandenplas, Y., Broekaert, I., Domellöf, M., Indrio, F., Lapillonne, A., Pienar, C., Ribes-Koninckx, C., Shamir, R., Szajewska, H., Thapar, N., Thomassen, R. A., Verduci, E., & West, C. (2024). An ESPGHAN Position Paper on the Diagnosis, Management, and Prevention of Cow’s Milk Allergy. Journal of pediatric gastroenterology and nutrition, 78(2), 386-413. https://doi.org/10.1097/MPG.0000000000003897

Nilai rata-rata 0 / 5. Jumlah vote: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.


FAQ Seputar Topik Ini

Kenapa perut bayi bisa kembung?

Perut bayi kembung biasanya disebabkan oleh udara yang masuk saat menyusu, menangis terlalu lama, atau karena sistem pencernaan bayi yang belum matang.

Bagaimana cara mengatasi perut kembung pada bayi?

Mommy bisa mencoba memperbaiki posisi menyusui, melakukan tummy time, pijat perut teknik ILU, gerakan bicycle kick, dan kompres hangat untuk membantu mengeluarkan gas.

Apakah perut bayi kembung itu normal?

Ya, kembung pada bayi terutama usia 0–3 bulan adalah hal yang cukup umum karena sistem pencernaannya masih berkembang.

Kapan kembung pada bayi perlu diperiksa ke dokter?

Jika disertai demam, muntah berulang, perut sangat keras, tidak BAB, atau bayi terlihat sangat lemas, segera konsultasikan ke dokter.

Apakah makanan ibu bisa menyebabkan bayi kembung?

Sebagian besar makanan tidak langsung menyebabkan kembung. Namun pada bayi tertentu, sensitivitas seperti alergi protein susu sapi bisa memicu gangguan pencernaan.

Share.

Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.

Butuh Bantuan atau Ingin Tahu Lebih Banyak Tentang Produk & Program Mom Uung?

Kami siap membantu! Jika Mommy punya pertanyaan atau ingin tahu lebih lanjut tentang produk ibu & bayi, ASI booster, serta program komunitas Mom Uung, tim Mom Uung Care siap memberikan informasi dan dukungan terbaik untuk Mommy.

📱
Install Mom Uung App Akses lebih cepat & nyaman
Exit mobile version