Momuung.co.id – Dalam dunia menyusui, istilah Donor asi atau milk sharing sering jadi solusi saat produksi ASI belum optimal. Niatnya tentu mulia, yaitu membantu sesama Mommy agar si Kecil tetap mendapatkan nutrisi terbaik.
Namun, penting untuk dipahami bahwa berbagi ASI tanpa prosedur yang aman bisa berisiko bagi kesehatan bayi, terutama karena sistem imun bayi masih sangat rentan. Yuk, pahami dulu risiko dan cara aman donor ASI agar tetap tenang dan tidak salah langkah.
Siapa Saja yang Membutuhkan Donor ASI?
Tidak semua bayi membutuhkan donor ASI, tapi dalam beberapa kondisi, donor ASI bisa menjadi solusi terbaik.
Biasanya, donor ASI diprioritaskan untuk:
- Bayi prematur atau bayi sakit
Bayi prematur memiliki sistem imun yang belum matang, sehingga sangat membutuhkan nutrisi dari ASI untuk membantu pertumbuhan dan melindungi dari infeksi. - Bayi yang tidak cocok dengan susu formula
Beberapa bayi bisa mengalami alergi atau gangguan pencernaan saat mengonsumsi susu formula, sehingga ASI donor menjadi alternatif yang lebih aman. - Mommy dengan produksi ASI sangat terbatas
Kondisi medis tertentu atau proses pemulihan pasca melahirkan bisa membuat produksi ASI belum optimal. - Mommy yang sedang menjalani pengobatan
Beberapa obat tidak aman untuk bayi, sehingga Mommy perlu sementara waktu tidak menyusui langsung.
Meski dibutuhkan, tetap ingat ya Mom, donor ASI bukan sekadar berbagi, tapi harus melalui proses yang aman dan terkontrol.
3 Risiko Berbagi ASI Tanpa Prosedur
1. Risiko Penularan Penyakit
ASI memang sumber nutrisi terbaik, tapi tetap termasuk cairan tubuh. Jika tidak melalui skrining kesehatan, ASI bisa menjadi media penularan penyakit seperti HIV, Hepatitis B, atau Hepatitis C.
Yang perlu Mommy tahu, kita tidak bisa menilai kesehatan pendonor hanya dari penampilan saja. Tanpa tes medis, risiko ini tidak bisa terlihat.
2. Paparan Zat Berbahaya dari Gaya Hidup Pendonor
Apa yang dikonsumsi oleh Mommy pendonor akan ikut masuk ke dalam ASI.
Misalnya:
- Obat-obatan tertentu
- Alkohol
- Nikotin
- Kafein berlebihan
Bagi orang dewasa mungkin tidak terasa, tapi untuk bayi, zat-zat ini bisa berdampak pada sistem saraf, pencernaan, bahkan kualitas tidur.
3. Kontaminasi Bakteri karena Penyimpanan yang Tidak Tepat
ASI harus disimpan dengan cara yang sangat higienis dan suhu yang stabil.
Jika proses penyimpanan atau pengiriman tidak steril, ASI bisa terkontaminasi bakteri. Ini sangat berbahaya, terutama untuk bayi prematur yang sistem pencernaannya masih sensitif.
Cara Aman Donor ASI Sesuai Standar Medis
Agar niat baik Mommy tetap aman untuk si Kecil, ada beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan:
1. Pastikan Pendonor Melalui Skrining Kesehatan
Pendonor ASI harus menjalani pemeriksaan kesehatan, termasuk tes darah untuk memastikan bebas dari penyakit menular.
Selain itu, riwayat gaya hidup dan konsumsi harian juga perlu diperhatikan agar ASI benar-benar aman.
2. Konsultasi dengan Dokter Anak
Sebelum menerima donor ASI, sebaiknya Mommy berdiskusi dengan dokter anak.
Dokter akan membantu menilai apakah donor ASI memang diperlukan dan memberikan panduan terbaik sesuai kondisi si Kecil.
3. Gunakan Bank ASI Resmi
Bank ASI resmi memiliki prosedur ketat, mulai dari seleksi pendonor, proses pasteurisasi, hingga pengecekan kualitas ASI.
Dengan begitu, risiko infeksi dan kontaminasi bisa diminimalkan.
4. Hindari Membeli ASI Secara Online
Meski terlihat praktis, membeli ASI dari internet sangat berisiko.
Beberapa penelitian menemukan bahwa ASI yang dijual bebas bisa:
- Mengandung bakteri tinggi
- Tidak disimpan dengan benar
- Bahkan dicampur bahan lain
Keamanan si Kecil selalu jadi prioritas utama ya, Mom.
Menyusui memang penuh tantangan, terkadang si Kecil juga menunjukkan perilaku unik saat sedang nifas atau memasuki usia tertentu. Misalnya, jika Mommy merasa produksi ASI turun karena bayi mulai tidak fokus, coba cek Bayi 3 Bulan Mudah Terdistraksi Saat Menyusu? Ini Penyebab & Cara Mengatasinya agar proses menyusui kembali lancar tanpa perlu terburu-buru mencari donor ASI.
Kesimpulan
Donor ASI adalah bentuk kepedulian yang luar biasa. Tapi tetap ya Mom, setiap keputusan harus mengutamakan keamanan si Kecil.
Pastikan ASI yang diberikan berasal dari sumber yang jelas, sehat, dan melalui prosedur yang tepat. Dengan begitu, Mommy bisa tetap tenang dan yakin sudah memberikan yang terbaik
Referensi
- Healthway Medical. (2019). Breast milk banks and informal milk sharing: What do you need to know? Diakses pada 27 Maret 2026. https://healthwaymedical.com/breast-milk-banks-and-informal-milk-sharing-what-do-you-need-to-know-2
- Peregoy, J. A., Pinheiro, G. M., Geraghty, S. R., Dickin, K. L., & Rasmussen, K. M. (2022). Human milk-sharing practices and infant-feeding behaviours: A comparison of donors and recipients. Maternal & child nutrition, 18(4), e13389. Diakses pada 27 Maret 2026. https://doi.org/10.1111/mcn.13389
✨ Produk Unggulan Mom Uung
FAQ Seputar Topik Ini
Apakah donor ASI aman?
Aman jika melalui skrining kesehatan, pasteurisasi, dan pengawasan tenaga medis.
Apa risiko berbagi ASI tanpa prosedur?
Bisa menyebabkan penularan penyakit, paparan zat berbahaya, dan infeksi bakteri.
Bolehkah membeli ASI online?
Tidak disarankan karena tidak ada jaminan keamanan dan kualitas.
Siapa yang membutuhkan donor ASI?
Bayi prematur, bayi sakit, atau saat ibu tidak bisa menyusui sementara.

