Momuung.co.id – Memasuki trimester ketiga, wajar jika Mommy mulai merasa cemas menjelang persalinan. Banyak ibu khawatir akan salah mengejan, mengalami robekan perineum, atau tidak kuat saat proses melahirkan berlangsung. Ditambah lagi, beredar berbagai cerita yang membuat rasa takut semakin besar.
Padahal, proses persalinan bisa dijalani dengan lebih tenang jika Mommy memahami teknik yang tepat. Kunci agar melahirkan lebih nyaman bukan hanya soal tenaga, tetapi tentang cara mengatur napas, mengikuti arahan tenaga medis, dan menggunakan dorongan dengan benar.
Yuk, pahami tekniknya agar Mommy lebih siap dan percaya diri menghadapi hari persalinan. Buibu, baca sampai selesai, ya!
1. Risiko Jika Teknik Mengejan Tidak Tepat
Mengejan saat melahirkan perlu dilakukan dengan cara yang benar. Jika ibu menahan napas terlalu lama dan mendorong terlalu kuat tanpa mengikuti kontraksi, tubuh bisa cepat lelah. Penelitian menunjukkan bahwa teknik mengejan dengan menahan napas dalam waktu lama dapat meningkatkan tekanan dalam tubuh ibu dan membuat proses persalinan menjadi kurang efektif (Lemos et al., 2015).
Tekanan yang diberikan secara tiba-tiba dan tidak terkontrol juga dapat membebani area perineum, yaitu jaringan di antara vagina dan anus. Kondisi ini dapat menyebabkan risiko robekan jalan lahir.
Selain itu, ibu bisa mengalami keluhan tambahan seperti wasir atau nyeri otot setelah melahirkan jika tenaga tidak diarahkan dengan benar. Oleh karena itu, mengejan sebaiknya dilakukan dengan mengikuti irama kontraksi dan arahan tenaga kesehatan agar dorongan lebih efektif dan aman.
2. Pentingnya Menunggu Waktu yang Tepat untuk Mengejan
Ibu tidak dianjurkan untuk langsung mengejan sejak awal proses persalinan. Mengejan sebaiknya dilakukan saat pembukaan sudah lengkap dan tubuh secara alami memberikan dorongan kuat untuk mengeluarkan bayi.
World Health Organization (WHO) merekomendasikan agar ibu mengikuti dorongan alami tersebut dan tidak dipaksa mengejan sebelum waktunya. Mengejan terlalu dini dapat menyebabkan pembengkakan pada leher rahim dan justru memperlambat kemajuan persalinan (WHO, 2018).
Persalinan membutuhkan stamina dan pengaturan tenaga yang baik. Dengan menunggu waktu yang tepat dan mengikuti panduan tenaga medis, ibu dapat menggunakan energinya secara optimal ketika bayi benar-benar siap dilahirkan.
3. Praktikkan Teknik Pernapasan Perut dan Diafragma
Teknik pernapasan yang tepat membantu ibu menjaga tenaga dan membuat dorongan lebih efektif. Penelitian menunjukkan bahwa pola mengejan dengan napas terbuka, yaitu tidak menahan napas terlalu lama dan mengikuti kontraksi, dapat membantu menjaga kondisi ibu tetap stabil serta mengurangi tekanan berlebihan pada tubuh (Lemos et al., 2015).
WHO juga merekomendasikan agar ibu mengikuti dorongan alami tubuh dan menggunakan teknik napas yang nyaman, bukan menahan napas secara paksa dalam waktu lama (WHO, 2018).
Berikut langkah sederhana yang bisa dipraktikkan, agar membantu ibu tidak cepat lelah dan membuat dorongan lebih terarah:
- Tarik napas perlahan melalui hidung atau mulut hingga perut terasa mengembang.
- Saat kontraksi datang, fokuskan tenaga ke arah bawah, yaitu ke area panggul.
- Keluarkan napas secara perlahan sambil tetap memberi dorongan terarah.
- Hindari mengencangkan wajah, baju, atau leher agar tenaga tidak terbuang ke bagian atas tubuh.
4. Hal yang Perlu Dihindari Saat Mengejan
Beberapa kebiasaan saat mengejan dapat membuat tenaga cepat habis dan meningkatkan risiko robekan pada jalan lahir bayi.
Yang sebaiknya Mommy hindari:
- Menahan napas terlalu lama
Teknik ini dapat meningkatkan tekanan di dada dan kepala sehingga ibu lebih cepat lelah dan dorongan menjadi kurang efektif (Lemos et al., 2015).
- Berteriak terus-menerus saat kontraksi
Energi akan terkuras dan napas menjadi tidak teratur. WHO menyarankan agar ibu menjaga pola napas tetap terkontrol dan mengikuti dorongan alami tubuh (WHO, 2018).
- Tidak mengikuti arahan posisi dari tenaga kesehatan
Posisi tubuh yang kurang tepat dapat meningkatkan tekanan pada jaringan jalan lahir. Sebaiknya Mommy ikuti panduan tenaga medis untuk membantu proses persalinan berjalan lebih aman.
5. Ikuti Instruksi Tenaga Medis dengan Patuh
Ingat ya Mommy, setiap proses persalinan bisa berbeda pada setiap ibu. Karena itu, tidak ada satu teknik mengejan yang cocok untuk semua orang. Cara paling aman adalah mengikuti arahan dokter atau bidan yang mendampingi selama persalinan.
Tenaga medis memantau posisi kepala bayi, kekuatan kontraksi, serta kondisi ibu secara langsung. Dari situ, mereka akan memberi tahu kapan ibu perlu mengejan lebih kuat dan kapan perlu mengurangi dorongan. Pada saat tertentu, ibu mungkin diminta hanya mengambil napas pendek dan ringan agar kepala bayi keluar perlahan. Cara ini membantu jaringan di sekitar jalan lahir meregang secara bertahap sehingga meminimalisir risiko robekan.
Mendengarkan instruksi dengan baik juga membantu ibu menggunakan tenaga secara lebih efisien. Alih-alih mengejan terus-menerus tanpa arah, dorongan menjadi lebih teratur dan sesuai dengan kebutuhan tubuh saat itu. Komunikasi yang jelas antara ibu dan tenaga kesehatan sangat penting agar proses persalinan berjalan lebih aman, terkontrol, dan minim robekan.
Kesimpulan
Mempersiapkan diri untuk mengejan saat melahirkan sebaiknya dimulai sejak trimester ketiga. Dengan memahami waktu yang tepat untuk mengejan, cara mengatur napas, serta hal yang perlu dihindari, Mommy bisa lebih tenang dan siap menghadapi persalinan dengan risiko cedera yang lebih kecil.
Setelah proses melahirkan selesai, tubuh Mommy juga perlu pulih dengan baik agar siap memberikan ASI secara optimal. Persiapan selama hamil berperan penting dalam mendukung pemulihan setelah persalinan.
Mom Uung menyediakan Layanan Konsultasi Gratis 24 Jam bersama tenaga profesional untuk membantu Mommy, mulai dari persiapan persalinan hingga pendampingan menyusui setelah bayi lahir.
Yuk simpan dan bagikan artikel ini kepada Mommy lainnya yang sedang menunggu hari persalinan. Dapatkan juga edukasi seputar kesehatan ibu dan anak melalui media sosial Mom Uung. Semangat menyambut kelahiran si Kecil, Mommy.
Referensi:
- Lemos, A., Amorim, M. M., Dornelas de Andrade, A., de Souza, A. I., Cabral Filho, J. E., & Correia, J. B. (2015). Pushing/bearing down methods for the second stage of labour. The Cochrane database of systematic reviews, (10), CD009124. Diakses pada 24 Februari 2026. https://doi.org/10.1002/14651858.CD009124.pub2
- World Health Organization. (2018). WHO recommendations: Intrapartum care for a positive childbirth experience (updated recommendations). World Health Organization. Diakses pada 24 Februari 2026. https://www.who.int/publications/i/item/9789241550215

