Momuung.co.idPernahkah Mommy merasa sedih atau menyesal karena harus berhenti menyusui sebelum waktunya? Mungkin karena kondisi medis, kondisi emosional yang membuat produksi ASI menurun, atau sempat mengalami bingung puting hingga akhirnya beralih ke susu formula. Wajar jika kemudian muncul pertanyaan seperti, “Masih bisa nggak ya kasih ASI lagi?” atau “Apakah tubuhku masih bisa memproduksi ASI?”

Perasaan tersebut sangat valid kok, Mommy. Kabar baiknya, tubuh perempuan memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi. Melalui proses yang disebut relaktasi, produksi ASI dapat distimulasi kembali meskipun sempat terhenti selama beberapa waktu. 

Tidak pernah ada kita terlambat untuk berusaha memberikan yang terbaik untuk Si Kecil. Meski relaktasi membutuhkan komitmen, kesabaran, dan dukungan yang tepat, setiap langkahnya sangat berarti. Yuk, kita pelajari prosesnya bersama. Buibu, baca sampai selesai, ya! 

Apa itu relaktasi?

Relaktasi adalah upaya untuk mengembalikan atau meningkatkan kembali produksi ASI ada ibu yang sempat berhenti menyusui atau mengalami penurunan ASI yang signifikan. Proses ini bekerja dengan cara menstimulasi payudara secara rutin, baik melalui hisapan bayi, Pompa ASI, maupun kontak kulit, sehingga tubuh kembali merespons dengan memproduksi hormon prolaktin dan oksitosin yang berperan dalam pembentukan ASI (CDC, 2025).

Penelitian menunjukkan bahwa dengan stimulasi yang konsisten dan dukungan yang tepat, banyak ibu dapat kembali menghasilkan ASI, meskipun sempat berhenti menyusui selama beberapa minggu hingga bulan (Srivastava et al., 2024).

Siapa Saja yang Bisa Melakukan Relaktasi?

Relaktasi dapat dilakukan oleh hampir semua Mommy yang memiliki keinginan untuk kembali menyusui, terutama:

  • Ibu yang sempat berhenti menyusui karena sakit, stres, atau kondisi tertentu, lalu ingin menyusui kembali.
  • Ibu dengan produksi ASI yang menurun secara signifikan dan ingin meningkatkannya kembali secara bertahap.
  • Ibu yang mengalami kendala awal seperti bingung puting atau terpisah sementara dengan bayi, lalu ingin kembali ke direct breastfeeding (DBF).

Faktor yang Meningkatkan Keberhasilan Relaktasi

Keberhasilan relaktasi dapat berbeda pada setiap Ibu. Namun, beberapa faktor berikut terbukti meningkatkan peluang ASI kembali keluar dengan optimal:

1. Usia Bayi yang Lebih Muda

Relaktasi cenderung lebih mudah berhasil pada bayi usia bawah 3-6 bulan karena refleks mengisapnya masih kuat, sehingga lebih mudah kembali menyusu langsung (Amat Camacho, 2023).

2. Dukungan Lingkungan yang Konsisten

Dukungan emosional dan praktis dari suami, keluarga, serta tenaga kesehatan berperan penting dalam keberhasilan relaktasi. Lingkungan yang suportif membantu menjaga kondisi psikologis Mommy, yang berpengaruh langsung pada pelepasan hormon oksitosin dan produksi ASI.

3. Motivasi dan Keyakinan Diri Mommy

Motivasi yang kuat dan keyakinan bahwa relaktasi dapat berhasil merupakan faktor penentu. Studi menunjukkan bahwa Mommy dengan tingkat self-efficacy yang baik lebih konsisten dalam melakukan stimulasi dan cenderung mencapai hasil relaktasi yang lebih optimal.

4. Konsistensi Stimulasi Payudara

Relaktasi membutuhkan stimulasi payudara yang rutin melalui menyusui langsung maupun memompa ASI sesuai jadwal yang telah dikonsultasikan dengan dokter laktasi. Kunci keberhasilannya adalah konsistensi dan kesabaran, karena relaktasi merupakan proses bertahap dan tidak instan. 

5 Tips Melakukan Relaktasi agar ASI Lancar Kembali

Berikut adalah langkah-langkah yang bisa Mommy lakukan di rumah:

1. Kontak Kulit ke Kulit (Skin-to-Skin) 

Sering lakukan skin-to-skin dengan mendekap Si Kecil di dada Mommy. Kontak ini membantu bayi merasa aman, mengenali aroma tubuh Mommy, dan merangsang hormon prolaktin serta oksitosin yang berperan penting dalam produksi ASI.

2. Sering Menempelkan Puting ke Mulut Bayi

Biarkan bayi mencoba menyusu sesering mungkin, meski ASI belum keluar banyak. Isapan langsung dari bayi akan menstimulasi produksi ASI lebih optimal.

3. Rutin Memerah Payudara (Power Pumping)

Jika bayi belum mau menyusu langsung, Mommy tetap perlu merangsang payudara dengan memerah ASI secara rutin, baik manual maupun menggunakan pompa. Usahakan memerah setiap beberapa jam sekali sesuai anjuran dokter laktasi Mommy, karena kondisi tubuh setiap Mommy berbeda-beda. Teknik power pumping dapat membantu memberikan sinyal pada tubuh bahwa produksi ASI perlu ditingkatkan.

4. Penuhi Nutrisi dan Cairan Tubuh

Produksi ASI membutuhkan asupan nutrisi yang cukup. Pastikan Mommy mengonsumsi makanan seimbang yang mendukung fase menyusui, seperti sumber protein hewani dan nabati (telur, ikan, kacang-kacangan, dan biji-bijian), suplementasi tambahan sesuai anjuran dokter kepercayaan Mommy, sayuran hijau, serta menjaga asupan cairan agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik sepanjang hari.

5. Batasi Penggunaan Dot Secara Bertahap

Media Pemberian ASIP

Jika Si Kecil terbiasa menggunakan dot, cobalah mengurangi penggunaannya secara perlahan. Untuk susu tambahan, Mommy dapat menggunakan sendok, cup feeder, atau pipet agar bayi tidak bingung puting dan lebih mudah kembali menyusu langsung.

6. Gunakan Alat Bantu Relaktasi (SNS)

Cara memberikan ASIP menggunakan SNS

Jika perlu, Mommy bisa menggunakan Supplemental Nursing System (SNS). Alat ini memungkinkan bayi tetap mendapatkan susu saat menyusu di payudara Mommy, sehingga bayi tidak frustrasi dan payudara tetap mendapatkan stimulasi ganda untuk meningkatkan produksi ASI.

Bagaimana Jika Relaktasi Terasa Sangat Berat?

Mommy, proses relaktasi tidak selalu mudah dan bisa terasa melelahkan, baik secara fisik maupun emosional. Jika Si Kecil masih sering menolak menyusu atau produksi ASI belum menunjukkan peningkatan meski sudah dicoba secara konsisten selama beberapa minggu, Mommy tidak perlu menyalahkan diri sendiri, ya.

Pada kondisi seperti ini, sangat dianjurkan untuk mencari pendampingan profesional. Konselor laktasi atau dokter spesialis laktasi dapat membantu Mommy mengidentifikasi kemungkinan hambatan, seperti gangguan pelekatan, tongue-tie pada bayi, atau faktor hormonal pada Mommy yang memerlukan penanganan khusus. Dengan dukungan yang tepat, Mommy tidak perlu menjalani proses ini sendirian.

Kesimpulan

Relaktasi adalah bukti cinta luar biasa seorang Ibu. Meski prosesnya bisa terasa melelahkan dan penuh tantangan, setiap kemajuan sekecil apa pun adalah langkah berarti. Dengan kesabaran, konsistensi, dan menjaga kondisi emosional dengan baik, peluang relaktasi dapat terus ditingkatkan.

Jika Mommy sedang menjalani relaktasi dan masih merasa ragu harus memulai dari mana, atau ingin mempelajari teknik pelekatan yang tepat agar Si Kecil mau menyusu kembali, Mommy tidak perlu menghadapinya sendiri. Mommy dapat memanfaatkan layanan Konsultasi Menyusui Mom Uung GRATIS 24 Jam bersama konselor profesional kami. Kami siap mendampingi Mommy dengan edukasi dan dukungan berdasarkan anjuran yang telah terbukti secara medis agar perjalanan menyusu terasa lebih tenang dan terarah.

Yuk, SAVE artikel ini sebagai referensi, dan SHARE ke sesama Mommy agar semakin banyak Ibu yang mendapatkan informasi dan semangat untuk terus berjuang dalam proses menyusui!

Referensi:

  • Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Supporting mothers with relactation. Diakses pada 22 Januari 2026. https://www.cdc.gov/breastfeeding-special-circumstances/hcp/relactation/index.html 
  • Cevik, E., & Yasar, O. (2023). Interruption of Breastfeeding, Relactation, Relactation Awareness, and Related Factors: A Cross-Sectional Study. Breastfeeding medicine : the official journal of the Academy of Breastfeeding Medicine, 18(1), 48–58. Diakses pada 22 Januari 2026. https://doi.org/10.1089/bfm.2022.0199 
  • Karabayir, N., Mertturk Potak, E., Karaman, S., Sebirli, M. F., Istanbullu, M. B., Potak, M., & Teber, B. G. (2022). The Finger Feeding Method and Relactation. Cureus, 14(4), e24044. Diakses pada 22 Januari 2026. https://doi.org/10.7759/cureus.24044 
  • Srivastava, S., Pandey, N., & Shukla, A. K. (2024). Effectiveness of Relactation Supportive Program in Sustaining Exclusive Breastfeeding: A Prospective Observational Study. Cureus, 16(12), e75413. Diakses pada 22 Januari 2026.  https://doi.org/10.7759/cureus.75413 

Nilai rata-rata 0 / 5. Jumlah vote: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Share.

Momin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.

Butuh Bantuan atau Ingin Tahu Lebih Banyak Tentang Produk & Program Mom Uung?

Kami siap membantu! Jika Mommy punya pertanyaan atau ingin tahu lebih lanjut tentang produk ibu & bayi, ASI booster, serta program komunitas Mom Uung, tim Mom Uung Care siap memberikan informasi dan dukungan terbaik untuk Mommy.

📱
Install Mom Uung App Akses lebih cepat & nyaman
Exit mobile version