Momuung.co.id – Pernahkah Mommy merasa baru saja menyusui bayi sampai kenyang, tapi 15 menit kemudian ia sudah menangis histeris minta nyusu lagi? Padahal popoknya bersih, suhu ruangan nyaman, dan ia tidak sedang sakit. Rasanya lelah sekali, punggung pegal, dan mulai muncul pikiran cemas, “Apa ASI-ku kurang ya? Kok si Kecil nggak kenyang-kenyang?”
Tenang ya, Mommy tidak perlu merasa sendirian. Banyak Ibu baru menyusui mengalami hal yang sama. Kondisi ini disebut Cluster feeding, yaitu fase yang normal dan sering terjadi pada bayi, terutama di masa awal kehidupan. Meski melelahkan, fase ini justru menandakan proses tumbuh kembang bayi sedang berjalan dengan baik. Buibu, yuk baca penjelasannya sampai selesai, ya!
Apa Itu Cluster Feeding?
Cluster feeding adalah fase ketika bayi menyusu lebih sering dari biasanya, dengan jarak yang sangat dekat. Saat fase ini bayi lebih sering menyusu setiap jam atau berulang dalam waktu singkat.
Kondisi ini normal dan bukan tanda ASI Mommy kurang. Menyusu lebih sering justru membantu memberi sinyal pada tubuh Mommy untuk meningkatkan produksi ASI sesuai kebutuhan si Kecil.
Mengapa Bayi Mengalami Cluster Feeding?
Berikut beberapa alasan utama mengapa cluster feeding bisa terjadi:
1. Bayi Mengalami Growth spurt (Lonjakan Pertumbuhan)
Pada usia tertentu, biasanya sekitar 3-6 minggu hingga 3-6 bulan, bayi mengalami lonjakan pertumbuhan fisik (growth spurt). Di fase ini, kebutuhan energi dan nutrisi bayi meningkat untuk mendukung untuk pertambahan berat dan panjang badan. Hal ini membuat bayi ingin menyusu lebih sering sebagai cara alami tubuhnya memenuhi kebutuhan tumbuh kembang, bukan karena ASI Ibu kurang (Davanzo, 2024).
2. Upaya Alami Meningkatkan Produksi ASI
ASI diproduksi berdasarkan prinsip Supply and Demand. Semakin sering payudara dikosongkan melalui hisapan bayi, semakin banyak hormon prolaktin yang dilepaskan untuk memproduksi ASI. Dengan menyusu terus-menerus, si Kecil sebenarnya sedang menstimulasi tubuh Ibu agar memproduksi ASI lebih optimal untuk mendukung berat badannya yang terus bertambah (WHO, 2009).
3. Kebutuhan Emosional akan Rasa Aman
Menyusu juga berfungsi sebagai sumber ketenangan bagi bayi. Saat menyusu, hormon oksitosin dilepaskan, membantu bayi merasa lebih nyaman, aman, dan rileks. Karena itu, bayi cenderung lebih sering menyusu saat lelah, rewel, atau membutuhkan kedekatan dengan Ibu (WHO, 2009).
5 Tanda Utama Cluster Feeding yang Harus Ibu Kenali
Agar Ibu tidak tertukar dengan gejala kolik atau sakit, perhatikan ciri-ciri berikut:
1. Menyusu Lebih Sering dalam Waktu Berdekatan
Saat cluster feeding, bayi menyusu berulang kali dalam waktu yang berdekatan, terutama pada sore hingga malam hari. (Kent et al., 2012; UNICEF, 2018).
2. Bayi Menangis Saat Dilepaskan dari Payudara
Bayi yang sedang cluster feeding sering tampak tidak ingin dilepas dari payudara karena menyusu juga berfungsi sebagai sumber rasa aman dan regulasi emosi. Kondisi ini umum terjadi pada bayi sehat dan bukan indikator gangguan medis.
3. Terjadi di Waktu Tertentu
Cluster feeding biasanya muncul pada jam-jam tertentu setiap hari. Di luar periode tersebut, bayi tetap menyusu dan berperilaku normal, bukan rewel sepanjang hari seperti pada kondisi bayi sakit.
4. Bayi Tetap Aktif dan Responsif
Bayi yang cluster feeding umumnya tetap aktif, ceria, dan responsif pada waktu lain di luar sesi menyusu intens tersebut. Ini menunjukkan bahwa pola ini bukan karena masalah kesehatan serius, tetapi bagian dari pola makan dan kenyamanan alami bayi.
5. Tanda Kecukupan ASI Tetap Baik
Meski bayi sering menyusu, ASI Ibu tetap dinilai cukup jika popok basah minimal 6 kali sehari dan berat badan bayi terus bertambah sesuai grafik pertumbuhan (WHO, 2009).

Tips Melewati Fase Cluster Feeding
Menghadapi fase cluster feeding memang bisa melelahkan, ya, Mom. Namun, ada beberapa langkah sederhana yang dapat membantu Ibu tetap lebih tenang dan nyaman.
1. Ciptakan Area Menyusui yang Nyaman
Mommy bisa menyiapkan bantal penyangga, air minum, dan camilan agar tubuh tetap nyaman dan tidak cepat lelah selama sesi menyusu yang cukup panjang.
2. Minta Dukungan Orang Terdekat
Meminta bantuan pasangan atau keluarga untuk pekerjaan rumah tangga atau menemani Ibu terbukti dapat menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kepercayaan diri ibu menyusui.
3. Pilih Posisi Menyusui yang Membantu Ibu Beristirahat
Posisi menyusui sambil berbaring miring (side-lying) dapat membantu mengurangi pegal pada punggung dan pinggang, sehingga Ibu tetap bisa beristirahat meski bayi ingin menyusu lebih sering. Posisi ini aman dan direkomendasikan selama perlekatan bayi baik (WHO, 2009).
Jaga Nutrisi, Jaga Kualitas ASI

Saat Si Kecil sedang cluster feeding, tubuh Mommy bekerja lebih keras untuk memproduksi ASI. Karena itu, asupan nutrisi dan kondisi Mommy perlu benar-benar dijaga dengan makanan yang mengandung protein hewani seperti ikan atau telur, lemak sehat, serta sayuran hijau kaya vitamin dan mineral. Bila perlu, suplemen berbahan alami sesuai anjuran dokter dapat membantu menjaga produksi ASI tetap optimal.
Selain itu, jangan lupa mencukupi kebutuhan cairan tubuh sekitar 3,1 liter per hari, yang bisa berasal dari air putih, jus, kuah sayur, dan cairan lainnya untuk membuat Mommy tetap fit dan tidak mudah lelah selama fase menyusui ini.
Kesimpulan
Cluster feeding memang terasa melelahkan, namun fase ini bersifat sementara. Ini adalah bukti betapa hebatnya komunikasi antara Ibu dan buah hati. Jangan pernah merasa gagal saat si Kecil terus menangis; ia hanya sedang membantu tubuh Ibu mempersiapkan nutrisi terbaik untuknya.
Jika Ibu sudah merasa sangat kewalahan, puting mulai terasa nyeri, atau ragu apakah pelekatan bayi sudah benar, jangan dipendam sendiri ya! Mom Uung menyediakan layanan Konsultasi Menyusui GRATIS 24 Jam bersama konselor profesional untuk mendampingi Ibu melewati masa-masa hebat ini.
Yuk, simpan artikel ini agar tidak hilang dan bagikan ke grup sesama Ibu menyusui supaya nggak ada lagi Ibu yang stres sendirian saat si Kecil rewel menyusu!
Referensi:
- Davanzo, R., & Baldassarre, M. E. (2024). Infant Growth Spurts in the Context of Perceived Insufficient Milk Supply. Nutrients, 16(21), 3657. Diakses pada 19 Januari 2026. https://doi.org/10.3390/nu16213657
- Kent, J. C., Prime, D. K., & Garbin, C. P. (2012). Principles for maintaining or increasing breast milk production. Journal of obstetric, gynecologic, and neonatal nursing : JOGNN, 41(1), 114–121. Diakses pada 19 Januari 2026. https://doi.org/10.1111/j.1552-6909.2011.01313.x
- UNICEF. (2018). Breastfeeding: A mother’s gift, for every child. United Nations Children’s Fund. Diakses pada 19 Januari 2026. https://www.unicef.org/media/48046/file/UNICEF_Breastfeeding_A_Mothers_Gift_for_Every_Child.pdf
- WHO. (2009). Infant and Young Child Feeding: Model Chapter for Textbooks for Medical Students and Allied Health Professionals, Session 2 The Physiological basis of breastfeeding. Geneva: World Health Organization. Diakses pada 19 Januari 2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK148970














