Momuung.co.id – Perjalanan menyusui adalah momen penuh cinta yang tak terlupakan, tapi juga kerap dibarengi rasa khawatir. Setelah berjuang memerah ASI, tak sedikit Ibu yang bertanya-tanya soal keamanan dan kualitas nutrisi ASI karena kebingungan dengan cara menyimpannya dengan benar.
Rasa sedih pun kerap muncul saat ASI perah berubah aroma atau warna setelah disimpan. Padahal, menjaga kualitas ASI adalah langkah penting untuk memastikan Si Kecil tetap mendapatkan nutrisi terbaik dari setiap tetesnya. Karena itu, memahami cara menyimpan ASI dengan benar bukan hanya soal mencegah ASI rusak, tetapi juga tentang menjaga kandungan gizinya agar tetap optimal untuk tumbuh kembang buah hati. Buibu, baca sampai selesai, ya!
Tanda Bayi Cukup ASI & Waktu Menyusui yang Tepat
Sebelum membahas penyimpanan ASI, penting bagi Mommy untuk memastikan apakah SI Kecil sudah menyusu dengan efektif dan mendapatkan asupan yang cukup. Kekhawatiran tentang “ASI kurang” sering kali muncul karena persepsi, bukan kondisi sebenarnya. Padahal, tubuh Ibu dan bayi memberikan tanda-tanda yang jelas saat kebutuhan ASI terpenuhi (Kent et al., 2020).
Ciri Bayi Cukup ASI:
- Popok Basah: Bayi buang air kecil minimal 6 kali dalam 24 jam dengan warna urin jernih atau pucat.
- Berat Badan Naik: Kenaikan berat badan bayi sesuai dengan grafik pertumbuhannya.
- Bayi Tampak Puas: Si Kecil terlihat tenang, rileks, dan melepaskan payudara atau botol dengan sendirinya setelah kenyang.

Frekuensi Menyusu Bayi
Bayi sebaiknya disusui saat menunjukkan tanda lapar, seperti mengisap tangan, mengecap bibir, atau menoleh mencari payudara. Hindari menunggu hingga bayi menangis karena dapat menyulitkan proses menyusu. Pada bayi baru lahir, frekuensi menyusu umumnya berkisar 8-12 kali atau lebih dalam 24 jam. Pola menyusui sesuai kebutuhan bayi (on-demand feeding) terbukti membantu memastikan kecukupan asupan ASI sekaligus menjaga produksi ASI tetap optimal (WHO & NIH, 2009).
5 Tips Menyimpan ASI dengan Benar agar Nutrisi Tidak Hilang

Menyimpan ASI tidak boleh asal-asalan. Hal ini dikarenakan nutrisi ASI perah sangat bergantung pada suhu dan jenis wadah penyimpanan yang digunakan, seperti pada panduan berikut:
1. Gunakan Wadah yang Higienis dan Food Grade
Simpan ASI perah di dalam kantong ASI khusus atau wadah kaca/plastik BPA-free yang sudah bersih, karena kontaminasi bisa memengaruhi kualitas ASI. Wadah food-grade yang rapat dan bersih membantu mencegah kontaminasi dan menjaga keamanan ASI perah (CDC, 2025).
2. Beri Label Tanggal dan Waktu
Memberi label tanggal dan waktu pada ASI perah membantu Mommy mengetahui batas aman konsumsi ASI dan menentukan urutan pemakaian yang tepat, baik menggunakan FIFO (First In, First Out) maupun LIFO (Last In, First Out). Karena kualitas nutrisi dan faktor imun ASI dapat menurun seiring waktu penyimpanan, label ini memastikan ASI yang diberikan masih aman, segar, sekaligus mencegah ASI disimpan terlalu lama atau bahkan terlewat masa simpannya.
3. Pahami Durasi Penyimpanan ASI
Agar kualitas dan keamanan ASIP tetap terjaga, Mommy perlu memahami batas penyimpanannya sesuai suhu dan kondisi (CDC, 2025):
- Suhu ruang (±25°C): ASIP fresh tahan hingga 4 jam
- ASIP dingin dikeluarkan ke suhu ruang: tahan sekitar 2 jam
- Cooler bag + ice gel: aman hingga 24 jam
- Chiller/kulkas (±4°C): tahan 3-4 hari
- Freezer kulkas 1 pintu: sekitar 2 minggu
- Freezer kulkas 2 pintu: 3-4 bulan
- Freezer khusus ASI (tanpa kulkas): hingga 6 bulan
- Deep freezer (-18°C atau lebih dingin): 6 bulan hingga 1 tahun
Untuk ASIP yang sudah dihangatkan:
- Sudah dihangatkan: habiskan dalam 2 jam
- Sudah dihangatkan tapi belum diminum bayi: boleh disimpan di chiller maksimal 4 jam
- ASIP yang sudah terkena liur bayi: sebaiknya digunakan dalam 1 jam
4. Simpan di Bagian Dalam Kulkas
Letakkan ASI di bagian terdalam kulkas atau freezer, bukan di rak pintu, agar menjaga suhu tetap stabil dan nutrisi ASI lebih terlindungi.
5. Cairkan ASI dengan Tepat
Mommy, sebaiknya hindari merendam ASI beku langsung dengan air mendidih atau menggunakan microwave. Hal ini dapat merusak protein dan antibodi dalam ASI. Cara terbaik adalah memindahkan ASI dari freezer ke kulkas bawah semalam sebelumnya, lalu rendam di air hangat suam-suam kuku sebelum diberikan ke bayi.
Jaga Nutrisi Harian Busui untuk Produksi ASI Berkualitas

Nutrisi harian Mommy, terutama vitamin dan mineral, berperan penting dalam meningkatkan suplai dan kualitas ASI. Pastikan Mommy mencukupi kebutuhan nutrisi berikut setiap hari:
- Protein hewani dan nabati seperti ikan, telur, daging tanpa lemak, tempe, dan kacang-kacangan untuk menjaga kualitas ASI dan stamina Mommy.
- Sayuran hijau yang kaya vitamin, mineral, dan antioksidan untuk mendukung daya tahan tubuh selama menyusui.
- Hidrasi yang cukup, sekitar ±3 liter cairan per hari, untuk membantu kelancaran produksi ASI.
- Lemak sehat dari ikan, alpukat, biji-bijian, dan kacang-kacangan yang mendukung kebutuhan nutrisi bayi melalui ASI.
Kesimpulan
Menyimpan ASI dengan cara yang benar membantu Mommy menjaga kualitas nutrisi terbaik untuk si Kecil. Dengan manajemen ASIP yang tepat, pelekatan menyusu yang baik, serta asupan gizi yang terjaga, proses menyusui bisa terasa lebih tenang dan menyenangkan.
Setiap tetes ASI adalah investasi kesehatan jangka panjang bagi bayi. Jika Mommy masih punya pertanyaan seputar teknik memerah, mengatasi ASI seret, atau manajemen ASIP untuk Ibu bekerja, Konselor Menyusui Mom Uung siap membantu melalui layanan konsultasi gratis. Kami akan menemani perjalanan menyusui Mommy hingga lulus ASI 2 tahun.
Yuk, simpan artikel ini dan bagikan ke sesama pejuang ASI agar makin banyak Mommy yang siap dan percaya diri mengASIhi!
Referensi:
- Centers for Disease Control and Prevention. (2023). Breast milk storage and preparation. Diakses pada 15 Januari 2026. https://cdc.gov/breastfeeding/breast-milk-preparation-and-storage/handling-breastmilk.html
- Kent, J. C., Ashton, E., Hardwick, C. M., Rea, A., Murray, K., & Geddes, D. T. (2021). Causes of perception of insufficient milk supply in Western Australian mothers. Diakses pada 15 Januari 2026. Maternal & child nutrition, 17(1), e13080. https://doi.org/10.1111/mcn.13080
- UNICEF. (2024). How do I know my baby is getting enough breastmilk? United Nations Children’s Fund. Diakses pada 15 Januari 2026. https://www.unicef.org/eca/stories/how-do-i-know-my-baby-getting-enough-breastmilk
- WHO & NIH. (2009). Session 9 MILK SUPPLY. In Baby-Friendly Hospital Initiative: Revised, Updated and Expanded for Integrated Care. World Health Organization & National Institutes of Health. Diakses pada 15 Januari 2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK153484/














