Momuung.co.id – Melihat bayi pilek, hidung mampet, napas berbunyi, dan jadi rewel saat menyusu memang bikin Mommy sedih dan khawatir. Menyusui bayi yang sedang pilek butuh kesabaran ekstra karena bayi termasuk obligate nasal breathers (bernapas terutama lewat hidung). Saat hidung tersumbat lendir, bayi jadi kesulitan bernapas dan harus membuka mulut.
Dampaknya, saat menyusu bayi mudah merasa sesak, sering melepas puting, menangis, dan waktu menyusu jadi lebih singkat karena harus berhenti untuk menarik napas.
Tenang ya, Mommy. Dengan cara dan Posisi menyusui yang tepat, asupan ASI tetap bisa terjaga dan bayi pun lebih nyaman selama masa pemulihan. Buibu, yuk simak penjelasannya di sini sampai selesai, ya!
Mengapa Menyusui Saat Pilek Menjadi Tantangan?
Saat bayi pilek, pola menyusunya berubah karena hidung tersumbat membuat proses bernapas terganggu.
1. Bayi sering melepas puting
Karena bayi bernapas terutama melalui hidung, saat terjadi sumbatan akibat infeksi saluran napas atas, koordinasi mengisap-, menelan-, dan bernapas menjadi kurang optimal sehingga bayi lebih sering berhenti menyusu untuk mengambil napas (Tobin et al., 2025).
2. Durasi menyusu lebih singkat
Gangguan pernapasan meningkatkan kerja napas dan membuat bayi lebih cepat lelah. Akibatnya, sesi menyusu menjadi lebih pendek atau terputus-putus karena bayi harus menyesuaikan ritme antara bernapas dan menelan.
3. Risiko dehidrasi meningkat
Saat merasa tidak nyaman, bayi bisa menyusu lebih sedikit. Padahal, selama sakit kebutuhan cairan tetap penting. ASI membantu menjaga hidrasi sekaligus memberikan komponen imunologis seperti antibodi yang mendukung respons tubuh terhadap infeksi (Victora et al., 2016).
7 Tips Menyusui Bayi Pilek agar Tetap Nyaman
1. Gunakan Prinsip “Little and Often”
Berikan ASI lebih sering dengan durasi lebih singkat. Saat hidung tersumbat, bayi lebih cepat lelah karena kerja napasnya meningkat. Sesi pendek namun sering membantu menjaga asupan cairan tanpa membuat bayi kelelahan.
2. Bersihkan Hidung Sebelum Menyusui
Membersihkan hidung dengan saline steril dapat membantu membuka jalan napas. Irigasi saline terbukti membantu mengurangi obstruksi hidung pada infeksi saluran napas atas ringan (Tobin et al., 2025).
Saline cukup diberikan saat hidung benar-benar tersumbat atau bayi kesulitan bernapas. Umumnya bisa digunakan beberapa kali sehari sesuai kebutuhan, dengan tetap memperhatiakn kenyamanan bayi.
3. Gunakan Posisi Menyusui Lebih Tegak
Gangguan napas ringan dapat menyulitkan bayi bernapas saat posisi telentang karena lendir lebih mudah mengalir ke belakang hidung dan tenggorokan (posterior nasofaring). Memosisikan bayi lebih tegak dapat mengurangi rasa tidak nyaman dan membuat bayi bernapas lebih lega.
A. Reclined Position (Sangat Disarankan untuk Newborn)

Jika Mommy mencari posisi menyusui newborn (0-3 bulan) yang sedang pilek, ini jawabannya.
- Caranya: Mommy bersandar dengan posisi sekitar 45 derajat (gunakan bantal penyangga yang nyaman di punggung). Letakkan bayi tengkurap di atas dada Mommy dengan kepala sedikit lebih tinggi dari perut.
- Manfaat: Tangan Mommy cukup menyangga pantat dan punggung bayi dengan rileks. Posisi ini membiarkan bayi mengontrol aliran ASI dan posisi kepalanya sendiri agar tetap bisa bernapas lega.
B. Koala Hold atau Straddle Hold (Untuk Bayi 3 Bulan ke Atas)

Ini adalah salah satu posisi yang benar saat menyusui bayi yang sudah lebih besar dan memiliki kontrol leher yang baik.
- Caranya: Mommy duduk tegak, lalu dudukkan bayi mengangkang di atas paha Mommy menghadap ke payudara.
- Manfaat: Pastikan pantat bayi stabil dan Mommy menyangga tengkuk serta punggung bayi agar tetap tegak. Posisi tegak lurus ini sangat membantu melancarkan jalan napas si Kecil.
4. Manfaatkan Uap Air Hangat (Steam)
Uap hangat dapat membantu mengencerkan lendir sehingga hidung bayi terasa lebih lega. Cara yang lebih aman adalah membawa bayi ke kamar mandi yang dialiri air hangat selama beberapa menit, bukan memaparkannya langsung pada uap panas (Tobin et al., 2025).
Cara ini tidak perlu dilakukan setiap kali sebelum menyusu. Cukup saat hidung bayi terlihat sangat tersumbat atau ia tampak kesulitan bernapas. Pastikan suhu ruangan tetap nyaman dan tidak terlalu panas, dan bayi tidak berkeringat berlebihan karena kondisi terlalu hangat dapat membuatnya tidak nyaman dan berisiko kehilangan cairan.
Mandi Air Hangat
Mandikan bayi dengan air hangat suam kuku selama sekitar 5 sampai 10 menit. Uap alami dari air hangat membantu melembapkan saluran napas dan mengencerkan lendir. Pastikan air tidak terlalu panas dan segera keringkan bayi setelah mandi agar tidak kedinginan.
Nebulizer
Nebulizer hanya digunakan jika direkomendasikan oleh dokter. Alat ini mengubah cairan atau obat menjadi uap halus yang dihirup bayi dan biasanya diberikan pada kondisi tertentu sesuai indikasi medis.
5. Jaga Kelembapan Udara
Gunakan humidifier di kamar atau pastikan ventilasi udara baik. Udara yang terlalu kering (karena AC terus-menerus) bisa membuat lendir hidung bayi semakin keras dan sulit dikeluarkan.
6. Pantau Tanda Kecukupan Cairan
Saat sakit, bayi tetap membutuhkan hidrasi optimal. Tanda cukup cairan meliputi:
- ≥6 popok basah per 24 jam (setelah hari ke-6 awal kehidupan bayi)
- Urin tidak pekat
- Bayi tetap responsif
ASI tetap menjadi sumber hidrasi dan imunoproteksi utama karena mengandung antibodi dan komponen bioaktif yang mendukung respons terhadap infeksi (Victora et al., 2016).

7. Lakukan Kontak Kulit ke Kulit
Selain soal nutrisi, menyusui saat bayi sakit adalah soal kenyamanan emosional. Lakukan kontak kulit ke kulit (skin-to-skin). Kehangatan tubuh Mommy bisa menenangkan detak jantung bayi dan membantunya mengatur pola napas yang lebih teratur saat sedang sesak.
Kapan Harus Menghubungi Dokter?
Meskipun pilek pada bayi biasanya disebabkan oleh virus dan bisa sembuh sendiri, Mommy wajib segera berkonsultasi ke dokter anak, jika:
- Bayi menolak menyusu sama sekali. .
- Pilek disertai demam tinggi (di atas >39°C untuk bayi di bawah 3 bulan).
- Tanda sesak napas berat, seperti napas sangat cepat lebih dari 60 kali per menit, cuping hidung kembang kempis atau dada tertarik ke dalam saat bernapas).
- Bayi tampak sangat lemas lebih banyak tidur
- Tidak buang air kecil lebih dari 8 jam.
Kesimpulan
Menyusui bayi yang sedang pilek memang terasa lebih menantang karena hidung tersumbat dapat mengganggu napas dan membuat bayi cepat lelah saat menyusu. Akibatnya, bayi jadi lebih sering melepas puting, durasi menyusu lebih singkat, bahkan berisiko kurang cairan jika tidak dipantau dengan baik.
Namun, Mommy tidak perlu panik. Dengan menerapkan prinsip menyusu lebih sering dengan durasi singkat, membersihkan hidung sebelum menyusu, memilih posisi yang lebih tegak, menjaga kelembapan udara, serta memastikan tanda kecukupan cairan tetap terpenuhi, asupan ASI tetap bisa optimal. Kontak kulit ke kulit juga membantu bayi lebih tenang dan nyaman selama masa pemulihan.
Jika Mommy masih ragu atau menghadapi tantangan saat menyusui, jangan ragu untuk mencari bantuan. Mom Uung menyediakan konsultasi menyusui gratis 24 jam yang siap mendampingi Mommy kapan pun dibutuhkan, agar proses menyusui tetap lancar dan si Kecil cepat pulih.
Referensi:
- Tobin, E. H., Thomas, M., & Bomar, P. A. (2025). Upper respiratory tract infections with focus on the common cold. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532961/
- Victora, C. G., Bahl, R., Barros, A. J., França, G. V., Horton, S., Krasevec, J., Murch, S., Sankar, M. J., Walker, N., Rollins, N. C., & Lancet Breastfeeding Series Group (2016). Breastfeeding in the 21st century: epidemiology, mechanisms, and lifelong effect. Lancet (London, England), 387(10017), 475-490. Diakses pada 12 Februari 2026. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(15)01024-7











