Momuung.co.id – Melihat wajah Si Kecil untuk pertama kalinya adalah momen paling indah ya, Mommy. Tapi, kebahagiaan itu seringkali diikuti rasa cemas saat melihat ASI tak kunjung menetes, sehingga muncul ketakutan kalau Si Kecil bakal kelaparan atau dehidrasi.
Tapi tenang, Mommy tidak sendirian dan yang Mommy alami ini bukan berarti karena gagal mengASIhi, ya. Kondisi ASI yang tidak langsung keluar di hari pertama setelah melahirkan adalah hal yang sangat normal dan umum terjadi. Yuk, kita bedah bareng kenapa hal ini terjadi dan bagaimana cara mengatasinya agar perjalanan mengASIhi Mommy dimulai dengan penuh cinta dan keyakinan. Buibu, baca sampai selesai, ya!
Mengapa ASI Tidak Langsung Keluar Setelah Melahirkan?
Mommy, produksi ASI adalah proses hormon yang membutuhkan waktu. Secara alami, kinerja hormon prolaktin baru mulai meningkat setelah plasenta atau ari-ari dilahirkan. Secara teori, tetesan ASI pertama kali baru muncul di 30-40 jam setelah melahirkan. Jadi, bila kolostrum belum keluar di jam-jam awal melahirkan, Mommy tidak perlu khawatir, karena sebetulnya ada banyak cara untuk menstimulasi agar kolostrum pertama dapat keluar.
Jika kolostrum belum keluar setelah lebih dari 72 jam, kondisi ini disebut delayed onset of lactogenesis II. Keadaan ini dapat terjadi bila memiliki faktor-faktor risiko tertentu, misalnya Mommy yang memiliki riwayat diabetes selama kehamilan, plasenta yang tertinggal di rahim, adanya pendarahan pasca melahirkan, dan lain-lain. Karena itu, tubuh Mommy perlu waktu, dukungan, dan stimulasi yang tepat agar proses menyusui berjalan lancar (Peng et al., 2024).
Fakta Unik Lambung Bayi Baru Lahir
Banyak Mommy yang merasa ASInya seret karena hanya keluar beberapa tetes cairan kuning kental (Kolostrum). Padahal, kolostrum itu bak “emas cair” yang sangat kaya antibodi.
Tahukah Mommy? Pada hari pertama sampai kedua, ukuran lambung bayi baru lahir hanya sebesar biji kelereng (kapasitas 5-7 ml). Jadi, beberapa tetes kolostrum yang Mommy miliki sebenarnya sudah sangat cukup untuk memenuhi perut mungilnya. Jadi, Mommy tidak perlu terburu-buru pesimis atau merasa sedih jika ASI yang keluar masih sedikit, ya!
6 Tips Agar Kolostrum Cepat Keluar
Agar hormon menyusui Mommy bekerja maksimal, yuk lakukan langkah-langkah yang sudah terbukti secara ilmiah ini:
1. Pilih Tempat Bersalin yang Pro-ASI
Melahirkan di Puskesmas, Klinik Bersalin, atau rumah sakit yang menerapkan prinsip Baby-Friendly Hospital Initiative (BFHI) terbukti membantu keberhasilan menyusui sejak dini. Dukungan tenaga kesehatan, kebijakan IMD, dan rawat gabung berperan besar dalam mempercepat awal produksi ASI dan meningkatkan keberlanjutan menyusui (Habte et al., 2025).
2. Lakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Menyusui dalam satu jam pertama setelah lahir bukan hanya tentang bonding, tapi juga sinyal alami bagi tubuh Mommy untuk mulai memproduksi ASI. Isapan awal bayi membantu merangsang hormon oksitosin dan prolaktin yang berperan penting dalam pengeluaran ASI (Moore et al., 2025).
3. Rawat Gabung (Rooming In)
Rawat gabung memungkinkan bayi menyusu lebih sering sesuai kebutuhannya. Frekuensi menyusu yang tinggi di hari-hari awal kehidupan membantu mempercepat produksi ASI dan menjaganya tetap optimal (World Health Organization [WHO], 2016).
4. Maksimalkan Skin-to-Skin Contact
Kontak kulit langsung antara ibu dan bayi memberi rasa aman pada Si Kecil sekaligus meningkatkan refleks menyusu. Skin-to-skin juga terbukti meningkatkan produksi ASI dan mempercepat proses menyusui efektif setelah persalinan.
5. Libatkan Support System Sejak Awal
Perjalanan menyusui akan terasa lebih ringan dengan dukungan orang terdekat. Bantuan dari Ayah, keluarga, atau tenaga kesehatan membantu Mommy lebih fokus beristirahat dan menyusui, karena tubuh yang rileks sangat berpengaruh pada kelancaran ASI.
Selain itu, berkonsultasi dengan konselor laktasi juga merupakan bagian dari support system Mommy dalam perjalanan menyusui. Jangan ragu untuk bertanya atau meminta bantuan saat mengalami kesulitan.
Sederhana, Tapi Bikin Asi lancar
- Pijat Oksitosin: Minta Ayah untuk memijat lembut area punggung Mommy. Rasa rileks dan disayang akan membuat ASI lebih mudah mengalir.
- Kompres Hangat: Tempelkan handuk hangat pada payudara sebelum menyusui untuk memperlebar pembuluh darah dan melancarkan aliran.
- Dengarkan Suara Bayi: Melihat foto atau mendengar rekaman tangisan Si Kecil ternyata bisa memicu refleks ASI keluar, lho!
Kesimpulan
Melihat kolostrum yang belum keluar di hari pertama memang wajar membuat Mommy cemas. Namun, percayalah, tubuh Mommy sedang menyesuaikan diri dan bekerja dengan caranya sendiri. Dengan stimulasi yang tepat seperti dukungan dari rumah sakit pro-ASI, pelaksanaan IMD, rawat gabung, kontak skin-to-skin, serta support system yang penuh empati, proses mengASIhi akan berjalan semakin lancar dari waktu ke waktu. Setiap tetes kolostrum yang Mommy berikan adalah bentuk cinta paling murni yang membantu membangun daya tahan tubuh Si Kecil sejak awal kehidupan.
Jika Mommy masih punya pertanyaan atau sedang menghadapi tantangan selama menyusui, Mom uung siap menemani. Manfaatkan layanan Konsultasi Menyusui & Kehamilan GRATIS 24 Jam bersama konselor ahli kami, agar Mommy merasa lebih tenang, percaya diri, dan tidak sendirian dalam perjalanan ini.
Yuk, simpan artikel ini sebagai pengingat, dan bagikan ke grup WhatsApp sesama Mommy supaya semakin banyak pejuang ASI yang saling menguatkan!
Referensi:
- Habte, M. B., Abdulahi, M., Plusquin, M., & Cosemans, C. (2025). Effectiveness of Baby-Friendly Hospital Initiative on Early Initiation and Exclusive Breastfeeding Practice: Systematic Review and Meta-Analysis. Nutrients, 17(14), 2283. https://doi.org/10.3390/nu17142283
- Moore, E. R., Brimdyr, K., Blair, A., Jonas, W., Lilliesköld, S., Svensson, K., Ahmed, A. H., Bastarache, L. R., Crenshaw, J. T., Giugliani, E. R. J., Grady, J. E., Zakarija-Grkovic, I., Haider, R., Hill, R. R., Kagawa, M. N., Mbalinda, S. N., Stevens, J., Takahashi, Y., & Cadwell, K. (2025). Immediate or early skin-to-skin contact for mothers and their healthy newborn infants. The Cochrane database of systematic reviews, 10(10), CD003519. https://doi.org/10.1002/14651858.CD003519.pub5
- Peng, Y., Zhuang, K. & Huang, Y. Incidence and factors influencing delayed onset of lactation: a systematic review and meta-analysis. International Breastfeeding Journal 19, 59 (2024). https://doi.org/10.1186/s13006-024-00666-5
- Uvnäs Moberg, K., Ekström-Bergström, A., Buckley, S., Massarotti, C., Pajalic, Z., Luegmair, K., Kotlowska, A., Lengler, L., Olza, I., Grylka-Baeschlin, S., Leahy-Warren, P., Hadjigeorgiu, E., Villarmea, S., & Dencker, A. (2020). Maternal plasma levels of oxytocin during breastfeeding-A systematic review. PloS one, 15(8), e0235806. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0235806
- WHO. (2016). Rooming-in for new mother and infant versus separate care for increasing the duration of breastfeeding. e-Library of Evidence for Nutrition Actions (eLENA). World Health Organization. https://www.who.int/tools/elena/review-summaries/early-breastfeeding–rooming-in-for-new-mother-and-infant-versus-separate-care-for-increasing-the-duration-of-breastfeeding
Ditulis oleh: Elsa Yuni Kartika
Ditinjau ulang oleh: dr. Pritta Diyanti, CIMI, CBS, IBCLC







