Momuung.co.id – Menghadapi bayi yang sedang rewel atau mengalami fase purple crying memang bisa bikin Mommy ikut stres dan lelah. Rasanya tangan sudah pegal sekali, tapi kalau ditaruh sebentar saja, Si Kecil langsung bangun dan menangis lagi. Mommy pernah merasakannya?
Jangan buru-buru merasa gagal jadi ibu kalau bayi rewel. Bayi usia 0-3 bulan sedang mengalami masa transisi besar. Dengan teknik menggendong yang benar, Mommy bisa memberikan rasa hangat sekaligus membuat Si Kecil tenang dalam hitungan menit. Buibu, baca sampai selesai, ya!
Mengapa Menggendong Sangat Ampuh Menenangkan Bayi?
Menggendong bayi, terutama dengan metode skin-to-skin contact, memiliki peran penting dalam membantu bayi beradaptasi dengan dunia luar. Saat bayi berada dekat dengan tubuh Ibu, sistem sarafnya menerima sinyal rasa aman yang mirip dengan kondisi di dalam kandungan. Penelitian menunjukkan bahwa kontak kulit ke kulit dapat menurunkan kadar hormon stres (kortisol) dan meningkatkan hormon oksitosin pada bayi, yang berperan dalam menenangkan respons tubuh terhadap lingkungan sekitar.
Efek ini terbukti berperan penting dalam menjaga kestabilan respons saraf bayi, terutama pada masa awal kehidupan saat proses adaptasi masih berlangsung (Pavlyshyn et al., 2024).
4 Gendongan Ampuh untuk Menenangkan Bayi Rewel
Menggendong dengan posisi yang tepat dapat memberikan rasa aman dan membantu bayi lebih cepat tenang. Berikut empat posisi gendongan yang bisa Mommy coba untuk membantu menenangkan bayi secara alami dan nyaman.
1. Posisi M-Shape (Frog Position)
Posisi ini membantu menjaga panggul bayi berada pada posisi alami yang aman, sekaligus memberi rasa nyaman karena mirip dengan posisi bayi saat berada di dalam kandungan. Posisi gendongan yang stabil dan ergonomis ini dapat membantu menenangkan sistem saraf bayi, sehingga bayi lebih rileks dan tidak mudah rewel (Durmaz et al., 2023).
2. Gendongan Tegak (Upright Position)
Menggendong bayi secara tegak dengan penyangga leher yang baik dapat membantu kestabilan pernapasan dan mengurangi ketidaknyamanan pencernaan seperti gumoh atau kolik. Posisi ini mendukung respons alami bayi yang lebih stabil, yang berkontribusi pada penurunan stres dan peningkatan rasa nyaman saat digendong (Grisham et al., 2023).
3. Posisi Chest-to-Chest (Dada ke Dada)
Posisi ini memaksimalkan kontak fisik yang menyerupai skin-to-skin contact, yang terbukti membantu menstabilkan detak jantung, suhu tubuh, dan respons stres bayi. Kedekatan ini memberi sinyal keamanan pada sistem saraf bayi sehingga mereka lebih tenang dan mudah beradaptasi dengan lingkungan luar (Durmaz et al., 2023).
4. Gendongan Samping dengan Teknik Wrap

Gendongan kain memberi tekanan lembut yang merata di tubuh bayi, membuat bayi merasa nyaman seperti sedang dimedong, sambil tetap membiarkan bayi bergerak bebas. Babywearing dengan kain ini terbukti meningkatkan kenyamanan bayi dan mengurangi frekuensi menangis karena dukungan sensorik dan emosional yang konsisten (Grisham et al., 2023).
Manfaat Menggendong bagi Pertumbuhan Si Kecil
- Mencegah Hip Dysplasia
Menggendong bayi dengan posisi M‑shape, di mana kaki bayi menyebar dan panggul berada pada posisi alami, membantu pertumbuhan sendi panggul yang optimal. Posisi ini meniru posisi bayi di dalam kandungan sehingga panggul tetap aman dan berkembang dengan baik (Siddicky et al., 2023).
- Membantu Pencernaan dan Mengurangi Kolik
Menggendong bayi tegak membantu gas keluar lebih mudah dan usus bekerja optimal, sehingga risiko gumoh atau kolik berkurang.
- Stimulasi Kognitif dan Sensorik
Bayi yan sering digendong memiliki kesempatan melihat lingkungan dari sudut pandang Mommy. Hal ini menstimulasi indera penglihatan dan koordinasi saraf, mendukung perkembangan kognitif secara alami (Grisham et al., 2023).
- Memperkuat Ikatan Emosional
Interaksi kulit ke kulit dan kontak tubuh yang hangat saat digendong membantu bayi mengatur pola tidur dan bangun lebih baik, sekaligus memperkuat ikatan emosional antara Mommy dan Si Kecil (Grisham et al., 2023).
Tips Menggendong Tanpa Pegal
Mommy, kalau bayi tenang tapi punggung terasa pegal saat digendong, tenang saja, ini wajar dan bisa diatasi dengan teknik yang tepat. Pastikan berat bayi seimbang di tengah tubuh Mommy dan gunakan gendongan yang mendistribusikan beban secara merata di kedua bahu.
Terapkan prinsip “TICKS”, yaitu bayi tetap terlihat jelas, dagu tidak menempel di dada, tubuh dekat untuk dicium keningnya, dan punggung Mommy tetap lurus. Dengan cara ini, bayi tetap nyaman dan Mommy pun bisa menggendong dengan lebih santai dan aman.
Baca juga: Panduan Lengkap Perawatan Bayi Baru Lahir: Dari Memandikan Hingga
Kesimpulan
Menggendong bukan sekadar menenangkan bayi, tapi juga cara Mommy menunjukkan kasih sayang dan membangun ikatan yang hangat dengan Si Kecil. Empat posisi gendongan di atas bisa membantu bayi lebih tenang sekaligus mendukung perkembangan nyaman dan aman.
Mommy, jika butuh panduan atau ingin bertanya seputar menyusui, Mom Uung siap menemani. Layanan konsultasi gratis 24 jam bersama konselor laktasi ahli selalu tersedia, jadi Mommy tidak perlu merasa sendirian dan bisa mendapat dukungan kapan saja.
Yuk, simpan artikel ini sebagai panduan praktis saat Si Kecil mulai rewel, dan bagikan ke grup WhatsApp sesama ibu baru agar lebih banyak Mommy yang tahu tips gendongan efektif ini!
Referensi:
- Durmaz, A., Sezici, E., & Akkaya, D. D. (2023). The effect of kangaroo mother care or skin-to-skin contact on infant vital signs: A systematic review and meta-analysis. Midwifery, 125, 103771. Diakses pada 9 Januari 2026. https://doi.org/10.1016/j.midw.2023.103771
- Grisham, L. M., Rankin, L., Maurer, J. A., Gephart, S. M., & Bell, A. F. (2023). Scoping Review of Biological and Behavioral Effects of Babywearing on Mothers and Infants. Journal of obstetric, gynecologic, and neonatal nursing : JOGNN, 52(3), 191–201. Diakses pada 9 Januari 2026. https://doi.org/10.1016/j.jogn.2022.12.008
- Siddicky, S., Eckels, J., Rabenhorst, B., & Mannen, E. (2023). Ultrasonographic evaluation of infant hips in the Pavlik harness compared to body-worn commercial Baby carriers. Journal of orthopaedic research : official publication of the Orthopaedic Research Society, 41(11), 2495–2500. Diakses pada 9 Januari 2026. https://doi.org/10.1002/jor.25571














