Momuung.co.id – Menjadi ibu baru memang penuh tantangan dan sering kali menguras energi, apalagi saat harus terjaga di malam hari karena Si Kecil. Tak jarang, kopi jadi andalan untuk menjaga stamina dan fokus. Namun, tak sedikit Mommy yang kemudian khawatir, apakah kafein bisa memengaruhi kualitas tidur bayi atau membuatnya lebih rewel.
Menjaga kewarasan Mommy tetap penting, begitu juga memahami batas aman konsumsi kafein saat Menyusui. Kafein memang dapat masuk ke dalam ASI, tetapi Mommy tidak perlu langsung berhenti total minum kopi. Dengan memperhatikan jumlah dan waktu konsumsi yang tepat, kopi tetap bisa dinikmati dengan aman. Yuk, simak penjelasannya sampai akhir. Buibu, baca sampai selesai, ya!
Bolehkah Ibu menyusui minum kopi?
Jawabannya adalah: Boleh, asalkan dalam batas wajar.
Secara medis, kafein masuk ke dalam kategori zat yang aman dikonsumsi selama menyusui jika jumlahnya tidak berlebihan. Hanya sekitar 1 persen dari kafein yang Mommy minum yang benar-benar masuk ke dalam ASI. Namun, meskipun sedikit, tubuh bayi, terutama bayi baru lahir, membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk memproses kafein dibandingkan orang dewasa.
Bagaimana Pengaruh Kafein terhadap ASI dan Bayi?
Saat Mommy mengonsumsi kopi atau minuman berkafein, kafein akan masuk ke ASI dalam jumlah kecil dan biasanya mencapai kadar tertinggi sekitar 1-2 jam setelah dikonsumsi. Kafein tidak terbukti menurunkan produksi ASI, namun karena metabolisme bayi masih belum matang, sebagian bayi bisa lebih sensitif terhadap paparan kafein dari ASI (LactMed, 2025).
Risiko Jika Mengonsumsi Kafein Berlebihan:
- Bayi Menjadi Rewel: Beberapa bayi, terutama pada bayi baru lahir maupun prematur dapat menjadi lebih gelisah, mudah terbangun, atau sulit ditenangkan karena sistem sarafnya masih berkembang.
- Gangguan Tidur pada Bayi: Karena metabolisme bayi masih belum sempurna, kafein bisa bertahan di dalam tubuhnya lebih lama dan membuat mereka sulit tidur (Santos et al., 2012).
- Masalah Pencernaan: Pada beberapa bayi yang sensitif, kafein bisa memicu gejala pencernaan ringan seperti kolik atau perut tidak nyaman.
- Dampak pada Ibu Menyusui: Kafein bersifat diuretik ringan. Jika dikonsumsi berlebihan tanpa diimbangi asupan cairan yang cukup, ibu bisa lebih cepat haus, mudah lelah, dan produksi ASI dapat terasa menurun akibat kurang cairan, bukan karena efek kafein secara langsung.
Kuncinya adalah perhatikan respons Si Kecil. Jika bayi tampak lebih rewel atau sulit tidur, Mommy bisa mencoba mengurangi asupan kafein atau mengatur waktu konsumsinya.
Batas Aman Minum Kopi untuk Ibu Menyusui
Berdasarkan anjuran medis, asupan kafein hingga sekitar 200 mg per hari atau setara dengan sekitar 1 cangkir kecil kopi hitam (±200 ml), dinilai aman bagi sebagian besar ibu menyusui dan bayinya. Pada jumlah ini, jumlah kafein yang masuk ke ASI relatif sedikit dan jarang menimbulkan gangguan pada bayi yang sehat dan cukup bulan (Temple et al., 2017).
Perlu diingat, kafein juga bisa berasal dari teh biasa maupun teh hijau, matcha, cokelat, minuman bersoda, minuman energi, atau obat tertentu. Karena metabolisme tubuh bayi masih belum matang, kafein dapat bertahan lebih lama di tubuhnya. Oleh karena itu, Mommy perlu menghitung total asupan kafein harian dari semua sumber agar tetap aman selama menyusui.
Jadi jika hari ini sudah minum kopi, sebaiknya tahan dulu untuk tidak mengonsumsi minuman berkafein lainnya seperti matcha atau makanan seperti kue cokelat ya, Mom.
5 Tips Aman Minum Kopi untuk Ibu Menyusui
Agar Mommy tetap bisa menikmati kopi tanpa mengganggu kenyamanan Si Kecil, coba terapkan tips berikut:
1. Perhatikan Usia Bayi
Bayi baru lahir (newborn) atau lahir prematur memiliki kemampuan metabolisme kafein yang sangat lambat. Seiring bertambahnya usia, terutama setelah bayi di atas 3-4 bulan, tubuh mereka sudah lebih baik dalam mengurai kafein. Jadi, Mommy perlu berhati-hati saat bayi masih di fase newborn.
2. Atur Waktu Minum Kopi
Cobalah minum kopi segera setelah Mommy menyusui atau melakukan pumping. Hal ini memberikan waktu bagi tubuh Mommy untuk memproses kafein sebelum jadwal menyusui berikutnya tiba.
3. Pantau Reaksi Si Kecil
Setiap bayi itu unik. Ada bayi yang “kebal” meski Mommy minum 2 cangkir kopi, ada juga yang langsung rewel meski Mommy cuma minum sedikit. Jika bayi tampak sangat gelisah setelah Mommy minum kopi, cobalah untuk mengurangi takarannya atau beralih ke kopi rendah kafein (decaf).
4. Tetap Terhidrasi dengan Air Putih
Karena kafein bersifat diuretik bersifat diuretik ringan, Mommy perlu menjaga asupan cairan. Usahakan mencukupi kebutuhan cairan sekitar 3,1 liter per hari, yang bisa berasal dari air putih, jus, kuah sayur, dan cairan lainnya. Hidrasi yang cukup membantu tubuh tetap fit dan mendukung produksi ASI tetap stabil.
5. Pilih Kopi yang aman untuk ibu menyusui
Pilihan paling aman adalah memilih jenis kopi decaf (decaffeinated coffee). Jika memungkinkan, pilih jenis kopi Arabica yang secara alami memiliki kadar kafein lebih rendah dibandingkan Robusta.
Sebagai catatan, kandungan kafein pada biji yang digunakan bukan satu-satunya hal yang memengaruhi respon tubuh terhadap kopi, namun juga toleransi setiap orang, sensitivitas terhadap kafein, dan cara kopi disiapkan juga penting.
Hacks Tambahan untuk Mommy
Jika Mommy merasa bayi menjadi sulit tidur setelah Mommy minum kopi, umumnya efek kafein akan berangsur mereda dalam beberapa jam seiring tubuh bayi memprosesnya. Untuk membantu Si Kecil lebih rileks, Mommy bisa melakukan skin-to-skin atau pijatan lembut sebelum tidur. Jika Mommy tetap membutuhkan energi saat begadang tanpa bergantung pada kopi, pilih alternatif yang lebih aman seperti buah segar atau camilan bergizi yang dapat membantu menjaga stamina tanpa menimbulkan efek samping pada bayi.
Jaga Stamina Mommy dengan Nutrisi yang Tepat
Saat Mommy kurang tidur, tubuh membutuhkan dukungan nutrisi yang cukup agar tetap bertenaga dan produksi ASI berjalan optimal. Penelitian medis menunjukkan bahwa status nutrisi ibu, termasuk asupan vitamin B dan mineral penting, berperan dalam menjaga kualitas nutrisi ASI karena beberapa mikronutrien dalam ASI dipengaruhi langsung oleh kondisi tubuh dan asupan harian Mommy. Karena itu, memenuhi kebutuhan nutrisi seimbang tetap penting bagi ibu menyusui agar ASI yang dihasilkan tetap bernutrisi dan mendukung tumbuh kembang Si Kecil.
Kesimpulan
Ibu menyusui tetap boleh menikmati kopi, selama Mommy mengonsumsinya dengan bijak dan dalam porsi yang aman. Jangan lupa, menjaga kesehatan mental Mommy juga penting, dan jika secangkir kopi bisa membantu Mommy merasa lebih rileks dan bahagia, maka sah-sah saja untuk dinikmati secukupnya.
Bila Mommy masih memiliki pertanyaan atau ingin memastikan keamanan makanan dan minuman selama menyusui, Mom Uung siap mendampingi lewat layanan konsultasi menyusui gratis 24 jam bersama konselor ahli. Mommy tidak sendirian, kami selalu ada untuk menemani setiap langkah perjalanan mengASIhi Mommy.
Mommy, yuk simpan panduan batas aman ngopi ini sebagai pegangan sehari-hari. Dengan memahami porsinya, Mommy bisa tetap menikmati kopi dengan tenang dan penuh percaya diri, sekaligus menjaga kualitas ASI untuk Si Kecil. Jangan lupa bagikan juga ke sesama Mommy agar semakin banyak ibu menyusui yang teredukasi dan merasa aman saat menikmati kopi.
Referensi:
- National Library of Medicine. (2020). Nutrition During Pregnancy and Lactation: Exploring New Evidence: Proceedings of a Workshop. LactMed Database. National Institutes od Health. Diakses pada 13 Januari 2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK562621/
- National Library of Medicine. (2025). Caffeine (Updated 2025 Sep 15). LactMed Database. Diakses pada 13 Januari 2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK501467
- Santos, I. S., Matijasevich, A., & Domingues, M. R. (2012). Maternal caffeine consumption and infant nighttime waking: prospective cohort study. Pediatrics, 129(5), 860–868. Diakses pada 13 Januari 2026. https://doi.org/10.1542/peds.2011-1773
- Temple, J. L., Bernard, C., Lipshultz, S. E., Czachor, J. D., Westphal, J. A., & Mestre, M. A. (2017). The Safety of Ingested Caffeine: A Comprehensive Review. Frontiers in psychiatry, 8, 80. Diakses pada 13 Januari 2026. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2017.00080














