Momuung.co.id – Memasuki fase MPASI (Makanan Pendamping ASI) adalah momen seru sekaligus menantang bagi Mommy. Mommy sudah semangat menyiapkan berbagai menu, tapi si Kecil kadang hanya makan sedikit atau malah menutup mulut.
Hal ini sering membuat Mommy merasa bersalah dan berpikir, “Apakah makanannya terlalu hambar? Haruskah ditambah garam atau gula?” Padahal lidah bayi masih sensitif, dan rasa alami makanan sudah cukup bagi mereka.
Sebelum menambahkan bumbu, yuk pahami fakta dan aturan MPASI di sini agar si Kecil tetap sehat dan menikmati makanannya. Buibu, baca sampai selesai, ya!
Mengapa Ibu Perlu Bijak dalam Memberikan Gula dan Garam saat MPASI?
Banyak orang tua menambahkan garam atau gula agar anak lahap makan. Padahal, memberikan garam atau gula berlebihan sebelum anak berusia 1 tahun bisa memengaruhi kesehatan jangka panjang dan membentuk kebiasaan makan yang kurang sehat.
1. Kerja Ginjal Bayi Belum Matang
Fungsi ginjal bayi di bawah 12 bulan belum sepenuhnya matang, sehingga belum mampu mampu menyaring dan mengatur kadar natrium atau garam sebaik orang dewasa. Asupan garam yang terlalu tinggi dapat membuat ginjal bekerja lebih berat dan memengaruhi keseimbangan cairan serta elektrolit tubuh. Dalam jangka panjang, kebiasaan mengonsumsi garam berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Karena itu, pedoman kesehatan menganjurkan orang tua untuk membatasi tambahan garam pada makanan bayi (CDC, 2025).
2. Gula Tambahan Berlebihan Tidak Memberi Nutrisi
Gula tambahan hanya menambah kalori tanpa memberikan nutrisi penting seperti vitamin, mineral, dan protein. Konsumsi gula berlebihan pada bayi meningkatkan risiko obesitas dan gangguan metabolik di kemudian hari. Pedoman kesehatan merekomendasikan bayi di bawah 2 tahun sebaiknya tidak diberi makanan atau minuman dengan gula tambahan secara berlebihan (CDC, 2025).
3. Membentuk Preferensi Rasa Sejak MPASI
Bayi sebenarnya sudah mulai mengenal rasa sejak di dalam kandungan melalui air ketuban dan terus terbiasa dengan rasa alami dari ASI setelah lahir. Saat memperkenalkan MPASI, sebaiknya Mommy hindari memberikan menu dengan rasa yang terlalu asin atau manis secara berlebihan karena bisa membuat bayi lebih menyukai rasa intens dan menolak rasa alami dari sayuran, buah, atau protein.
Cukup berikan rasa gurih alami dari bahan makanan, tanpa tambahan garam atau gula, agar bayi belajar menikmati variasi rasa asli sejak awal. Pedoman nutrisi anak juga menekankan pentingnya MPASI dengan membatasi takaran garam dan gula untuk membentuk preferensi rasa yang sehat (CDC, 2025).
Aturan Batasan Garam dan gula untuk mpasi Anak
Bayi dan anak kecil sebenarnya hanya memerlukan sedikit garam dan gula karena kebutuhan nutrisinya sudah tercukupi dari ASI dan bahan makanan alami. Penambahan garam dan gula sebaiknya tetap dibatasi untuk menjaga kesehatannya jangka panjang.
Usia 0-12 Bulan
- Garam: kurang dari 1 gram per hari (sekitar 1/6 sendok teh).
- Gula: dapat diberikan 5-10 persen dari total kalori harian.
Perlu diperhatikan, bahan makanan seperti keju, butter, atau olahan lain yang sudah mengandung garam tetap dihitung dalam total asupan garam.
Usia 1-3 Tahun
- Garam: maksimal 2 gram per hari (sekitar 1/3 sendok teh).
- Gula tambahan: sebaiknya 5-10 persen dari total kalori harian.
Pembatasan ini membantu menurunkan risiko hipertensi, obesitas, dan gangguan metabolik sejak dini.
Rahasia MPASI Lezat dari Bahan Makanan Alami

Menu MPASI tetap bisa terasa lezat karena bayi memiliki sensitivitas rasa yang tinggi terhadap bahan alami. Mommy bisa menggunakan teknik food hacking alami berikut ini:
- Manis alami dari buah dan sayur
Wortel, labu, ubi, dan jagung memberikan rasa manis alami dari karbohidrat kompleks. Pengenalan rasa ini membantu bayi menerima variasi makanan tanpa membentuk ketergantungan pada gula tambahan (WHO, 2023).
- Aromatik alami
Bawang putih, bawang merah, daun salam, dan serai dapat digunakan untuk memperkaya aroma MPASI. Aroma makanan berperan penting dalam meningkatkan minat makan bayi tanpa membebani ginjal atau metabolisme tubuh (Mennella et al., 2016).
- Lemak sehat
Penambahan lemak sehat seperti extra virgin oil, santan, atau mentega tawar membantu meningkatkan kepadatan energi, memperbaiki tekstur makanan, dan mendukung perkembangan otak bayi. Lemak juga membantu membawa rasa alami sehingga MPASI terasa lebih gurih tanpa garam.
Kesimpulan
MPASI sebenarnya hanya memerlukan sedikit tambahan gula dan garam, terutama sebelum usia 1 tahun. Ginjal bayi belum siap mengolah natrium berlebih, sementara gula tambahan secara berlebihan tidak memberi manfaat gizi dan dapat membentuk kebiasaan makan yang kurang sehat. Berikan takaran garam dan gula yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkatan usia anak. Bahkan, rasa alami dari bahan makanan sudah cukup untuk dinikmati si Kecil.
MPASI tetap bisa lezat dengan mengandalkan buah, sayur, aromatik, dan lemak sehat tanpa membahayakan kesehatan jangka panjang anak.
Jika Mommy masih memiliki pertanyaan seputar menyusui atau nutrisi anak, Mom Uung menyediakan layanan konsultasi menyusui gratis 24 jam bersama konselor profesional.
Yuk, simpan artikel ini sebagai panduan, bagikan kepada sesama Mommy, dan jangan lupa ikuti konten edukasi Mom Uung di media sosial untuk mendapatkan tips kesehatan ibu dan anak.
Referensi:
- Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Foods and Drinks to Avoid or Limit. U.S. Department of Health and Human Services. Diakses pada 16 Februari 2026. https://www.cdc.gov/infant-toddler-nutrition/foods-and-drinks/foods-and-drinks-to-avoid-or-limit.html
- Mennella, J. A., Reiter, A. R., & Daniels, L. M. (2016). Vegetable and Fruit Acceptance during Infancy: Impact of Ontogeny, Genetics, and Early Experiences. Advances in nutrition (Bethesda, Md.), 7(1), 211S-219S. Diakses pada 16 Februari 2026. https://doi.org/10.3945/an.115.008649
- World Health Organization. (2023). Complementary feeding of infants and young children 6-23 months of age. World Health Organization. Diakses pada 16 Februari 2026. https://www.who.int/publications/i/item/9789240081864














