Momuung.co.id – Menjadi Mommy baru, terutama di usia 20-an atau 30-an memang penuh tantangan ya. Di satu sisi kita ingin memberikan yang terbaik, tapi di sisi lain banyak sekali informasi yang simpang siur. Salah satu ketakutan terbesar Mommy biasanya adalah saat melihat Si Kecil menunjukkan gejala tidak nyaman seperti ruam kemerahan, perut kembung (kolik), hingga diare.
Pasti sedih banget ya, Mom, kalau sudah berjuang mengasihi, tapi justru ada komentar yang bilang, “Mungkin ASI kamu nggak cocok buat dia,” atau “Duh, ASI kamu bikin dia alergi tuh!”. Perasaan bersalah pun sering kali muncul dan bikin Mommy jadi overthinking.
Nah, biar Mommy nggak lagi menebak-nebak dan bisa menyusui dengan tenang, kita akan bedah tuntas fakta di balik isu “ASI bikin alergi” ini. Buibu, wajib baca sampai selesai ya!
ASI Adalah “Obat” Alami
Mommy, mari kita luruskan faktanya: Secara medis, ASI tidak pernah menjadi penyebab alergi.
Justru sebaliknya, ASI adalah “obat” alami. ASI justru berperan sebagai faktor protektif karena mengandung imunoglobulin A (IgA), sitokin, dan faktor imun lain yang membantu mematangkan barrier usus bayi dan menurunkan risiko penetrasi alergen (Venter et al., 2020).
Lalu, kenapa bayi yang hanya minum ASI tetap bisa menunjukkan gejala alergi?
Yang sebenarnya terjadi adalah tubuh bayi mengalami reaksi terhadap protein dari makanan yang Mommy konsumsi yang dan ikut terbawa ke dalam ASI. Protein makanan tertentu yang dikonsumsi ibu (terutama protein susu sapi) dapat terdeteksi dalam ASI dan memicu reaksi alergi pada bayi (Halken et al., 2021). Bukan karena ASI Mommy bermasalah, namun karena pencernaan dan sistem imun bayi masih belajar beradaptasi.
Kenali 3 Gejala Utama Alergi Makanan Melalui ASI
Banyak Mommy yang sering tertukar antara alergi dengan iritasi biasa. Berikut adalah gejala yang perlu Mommy waspadai jika Si Kecil sensitif terhadap asupan makanan Mommy:
1. Masalah pada Kulit
Gejala paling umum adalah munculnya ruam kemerahan, kulit yang sangat kering, atau bintik-bintik kecil (eksim) yang biasanya muncul di area pipi, lipatan leher, hingga lipatan paha.
2. Gangguan Pencernaan
Bayi mungkin sering mengalami kembung yang parah (kolik), sering muntah/gumoh yang tidak wajar, hingga perubahan pola buang air besar (BAB) seperti diare atau bahkan BAB berlendir, berbusa, atau disertai darah meski setitik.
3. Gangguan Pernapasan
Sebagian bayi dapat menunjukkan gejala napas berbunyi “grok-grok” atau hidung seperti tersumbat, padahal bayi tidak sedang flu. Keluhan ini kadang terlihat lama setelah menyusu, sebagai bentuk reaksi tubuh bayi yang masih sensitif.
Deteksi Alergi Tanpa Panik
Jika Si Kecil menunjukkan gejala di atas, jangan langsung buru-buru berhenti memberikan ASI ya, Mom! Lakukan langkah-langkah praktis ini:
- Gunakan “Food Diary”: Catat apa saja yang Mommy makan dalam 24 jam terakhir. Dengan begitu, Mommy bisa mengira-ngira produk apa yang menimbulkan gejala pada bayi. Jika gejala muncul setelah Mommy mengonsumsi makanan atau minuman berbahan dasar susu sapi seperti yoghurt, es krim, hingga saus pasta, coba kurangi asupan tersebut selama 2 minggu dan amati perubahannya.
- Lakukan Diet Eliminasi Secara Bijak: Tidak perlu menghentikan banyak jenis makanan sekaligus. Bila memang perlu dicoba, biasanya dimulai dari pemicu yang paling sering, seperti susu sapi dan produk olahan/turunannya. Mulailah dari pemicu paling umum seperti produk turunan susu sapi (dairy products). Pembatasan makanan ibu menyusui hanya disarankan bila terdapat bukti klinis yang kuat bahwa bayi menunjukkan reaksi alergi.
- Konsultasi Ahli: Jika Mommy masih ragu, atau tidak yakin apakah gejala yang ditunjukkan dari ASI atau pemicu lain, sebaiknya diskusikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan supaya gizi Mommy tetap tercukup dan bayi mendapat penanganan yang tepat.
Mommy Tidak Perlu Merasa Sendirian
Menghadapi dugaan alergi pada bayi memang bisa terasa melelahkan secara fisik maupun emosi, namun hal tersebut wajar ya Mom. Yang perlu diingat, Mommy tidak sendirian dan ini bukan kesalahan Mommy. Pada banyak bayi, kondisi ini bersifat sementara dan akan membaik seiring bertambahnya usia serta matangnya sistem pencernaan dan imunnya. Dengan pendampingan dan penanganan yang tepat, fase ini bisa dilalui bersama.
Di Mom Uung, kami berkomitmen untuk selalu mendampingi Mommy dengan solusi praktis dan edukasi yang tervalidasi secara medis. Untuk membantu perjalanan dari kehamilan hingga fase menyusui berjalan lebih lancar, Mom Uung menyediakan layanan Konsultasi Menyusui Gratis 24 Jam bersama konselor kami yang telah memiliki sertifikasi.
Referensi:
- Halken S, Muraro A, de Silva D, et al; European Academy of Allergy and Clinical Immunology Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines Group. EAACI guideline: Preventing the development of food allergy in infants and young children (2020 update). Pediatr Allergy Immunol. 2021; 32: 843–858. https://doi.org/10.1111/pai.13496
- Venter, C., Agostoni, C., Arshad, S. H., Ben-Abdallah, M., Du Toit, G., Fleischer, D. M., … Meyer, R. (2020). Dietary factors during pregnancy and lactation and food allergy development. Pediatric Allergy and Immunology, 32(5), 1038–1054. https://doi.org/10.1111/pai.13303
Ditulis oleh: Elsa Yuni Kartika
Ditinjau ulang oleh: dr. Pritta Diyanti Karyaman, CIMI, CBS, IBCLC







