Momuung.co.id – Melihat Si Kecil yang biasanya aktif tiba-tiba lemas, suhu tubuhnya tinggi, hingga mengalami kejang pasti membuat hati Mommy panik luar biasa dan kerap menyalahkan diri karena merasa dianggap tak terampil mengurus anak.
Panik itu wajar kok, tapi dalam situasi darurat seperti kejang, Mommy perlu tenang terlebih dahulu. Kejang pada bayi, terutama bayi baru lahir, memerlukan penanganan yang hati-hati dan tepat. Yuk, kita pelajari bersama langkah-langkah medis yang benar agar Mommy lebih siap dan sigap melindungi Si Kecil. Buibu, baca sampai selesai, ya!
Mengapa Bayi Bisa Mengalami Kejang?
Kejang pada bayi adalah gangguan aktivitas listrik sementara di otak. Pada bayi usia 0-5 tahun, penyebabnya bisa beragam, mulai dari infeksi, gangguan elektrolit, hingga yang paling sering pada bayi yang lebih besar adalah demam tinggi (kejang demam).
Namun, perlu Mommy pahami bahwa kejang pada bayi (neonatal seizures) tidak selalu berupa kelojotan seluruh tubuh. Kejang pada bayi atau anak seringkali bersifat samar, seperti gerakan mengayuh sepeda, mata melirik ke satu arah secara terus-menerus, atau jeda napas yang lama. Oleh karena itu, diperlukan pemantauan cepat untuk mencegah cedera saraf jangka panjang (Glass et al., 2021).
Pertolongan Pertama Saat Bayi Kejang: Do’s & Don’ts
Jika Si Kecil tiba-tiba kejang, segera lakukan langkah-langkah berikut:
1. Letakkan di Tempat yang Aman dan Datar
Segera letakkan bayi di permukaan yang datar, luas, dan jauh dari benda-benda tajam atau keras. Jangan menahan gerakan tubuh bayi saat ia kejang, biarkan saja ia bergerak secara alami.
2. Posisikan Miring (Recovery Position)
Miringkan tubuh bayi ke salah satu sisi (kiri atau kanan). Ini adalah langkah paling krusial untuk memastikan jalan napasnya tetap terbuka dan mencegah cairan (seperti air liur atau muntah) masuk ke paru-paru.
3. Jangan Memasukkan Sembarang Benda ke Mulut
Ingat ya, Mom! Ini adalah mitos yang dapat membahayakan bayi. Memasukkan sendok, kayu, atau jari ke mulut bayi saat kejang justru berisiko mematahkan gigi, melukai gusi, atau bahkan menutup jalan napas.
Menurut panduan pertolongan pertama yang dirilis oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), memasukkan benda ke mulut saat kejang tidak memberikan manfaat medis apa pun dan justru meningkatkan risiko cedera pada gusi, patah gigi, hingga tersedak akibat benda masuk ke saluran napas (Centers for Disease Control and Prevention [CDC], 2024).
4. Longgarkan Pakaian
Longgarkan pakaian di sekitar leher dan dada agar bayi bisa bernapas lebih lega.
5. Amati dan Catat Durasinya
Gunakan ponsel Mommy untuk merekam kejadian atau minimal mencatat berapa lama kejang berlangsung. Informasi ini sangat berharga bagi dokter untuk menentukan penanganan selanjutnya.
Kapan Harus Segera ke Rumah Sakit?
Meskipun sebagian besar kejang demam bersifat singkat dan tidak berbahaya, Mommy harus segera membawa Si Kecil ke IGD jika:
- Kejang berlangsung lebih dari 5 menit.
- Wajah atau bibir bayi membiru (sianosis).
- Bayi mengalami kesulitan bernapas setelah kejang berhenti.
- Ini adalah kejang pertama yang dialami Si Kecil.
Kenapa hal ini penting? Karena kejang yang berlangsung terlalu lama bisa berkembang menjadi kondisi darurat yang disebut status epilepticus, yaitu saat aktivitas kejang di otak tidak berhenti dan berisiko menimbulkan komplikasi serius bila tidak segera ditangani. Para ahli kesehatan anak menekankan bahwa penanganan medis yang cepat pada kondisi ini sangat berperan dalam melindungi fungsi otak bayi dan mencegah dampak jangka panjang (Freedman, 2023; Aulická, 2022).
Lakukan 3 Hal Ini untuk Jaga Ketenangan
Wajar jika Mommy merasa cemas jika melihat Si Kecil mengalami kejang. Oleh karena itu, yuk lakukan tiga hal berikut untuk menjaga perasaan Mommy tetap tenang di kondisi darurat ini:
- Deep Breath: Tarik napas sedalam mungkin. Mommy yang tenang akan membantu proses evakuasi lebih cepat.
- Siapkan “Emergency Call”: Simpan nomor telepon dokter anak atau ambulans rumah sakit terdekat di speed dial Mommy.
- Pantau Suhu Tubuh: Jika Si Kecil mulai demam, segera berikan kompres air hangat (bukan air dingin/es) di lipatan ketiak dan selangkangan untuk membantu menurunkan suhu tubuh secara bertahap.
Baca juga: Sering Kebangun Tengah Malam Saat Hamil? Kenali 3 Penyebab & Solusinya!
Kesimpulan
Melihat Si Kecil kejang tentu sangat mengagetkan dan menakutkan bagi orang tua. Namun, dengan tetap tenang dan melakukan pertolongan pertama yang tepat, kondisi darurat ini bisa ditangani dengan lebih aman.
Jika Mommy masih punya pertanyaan atau butuh tempat berbagi seputar kesehatan bayi, Mommy bisa memanfaatkan layanan Konsultasi Menyusui GRATIS 24 Jam bersama konselor Mom Uung yang siap mendampingi dengan sepenuh hati.
Yuk, bagikan artikel ini ke sesama Mommy. Satu informasi sederhana bisa menjadi langkah penting untuk melindungi Si Kecil!
Referensi
- Aulická, Š. (2022). Current Management of Generalized Convulsive Status Epilepticus in Children. Children, 9(10), 1586. Diakses pada 6 Januari 2026. https://doi.org/10.3390/children9101586
- CDC. (2024). First Aid for Seizures. Centers for Disease Control and Prevention
- Glass, H. C., Soul, J. S., Chang, T., Wusthoff, C. J., Chu, C. J., Massey, S. L., Abend, N. S., Lemmon, M., Thomas, C., Numis, A. L., Guillet, R., Sturza, J., McNamara, N. A., Rogers, E. E., Franck, L. S., McCulloch, C. E., & Shellhaas, R. A. (2021). Safety of Early Discontinuation of Antiseizure Medication After Acute Symptomatic Neonatal Seizures. JAMA neurology, 78(7), 817–825. Diakses pada 6 Januari 2026. https://doi.org/10.1001/jamaneurol.2021.1437














