Momuung.co.id – Puasa Ramadan itu momen spesial yang selalu dinanti. Tapi kalau Mommy lagi menyusui, kadang kondisi tubuh atau khawatir produksi ASI menurun bikin kita harus pilih keringanan dan nggak puasa. Tenang, Mom, Islam itu indah dan memberi kemudahan untuk Mommy yang lagi berjuang mengASIhi.
Nah, biar nggak bingung soal fidyah, cara hitung, dan qadha, yuk kita bahas santai tapi lengkap!
Apa Itu Fidyah?
Fidyah itu intinya “tebusan” puasa yang nggak bisa dijalankan karena alasan yang sah, termasuk untuk ibu menyusui yang khawatir kesehatan diri atau si Kecil terganggu. Pastinya dengan rekomendasi dokter ya, Mom.
Setelah Bayar Fidyah, Masih Wajib Qadha (Ganti Puasa)?
Jawabannya tergantung alasannya:
- Khawatir untuk diri sendiri: Kalau Mommy lemas atau pusing jika dipaksakan puasa, mayoritas ulama bilang cukup qadha (ganti puasa di hari lain), nggak perlu bayar fidyah.
- Khawatir untuk bayi: Kalau Mommy sehat tapi takut produksi ASI berkurang, Mazhab Syafi’i menyarankan qadha sekaligus bayar fidyah.
- Kondisi khusus: Imam Qardhawi menyebut kalau Mommy nggak memungkinkan qadha karena hamil + menyusui berturut-turut, cukup bayar fidyah.
Kalau masih ragu, bisa konsultasi dengan tokoh agama terpercaya sesuai keyakinan Mommy.
Berapa Besaran Fidyah yang Harus Dibayar?
- Takaran Beras Syafi’i: 0,75 kg (7,5 ons) per hari puasa yang ditinggalkan
- Takaran Beras Hanafi: 1,5 kg per hari puasa (lebih aman dipakai untuk referensi)
- Dalam Bentuk Uang: Banyak lembaga, seperti BAZNAS, membolehkan bayar uang sesuai harga makanan pokok sehari
Contoh Hitung:
- Mommy A tidak puasa 7 hari, pakai takaran 1,5 kg → 7 x 1,5 = 10,5 kg beras
- Mommy B tidak puasa 10 hari, pakai takaran 0,75 kg → 10 x 0,75 = 7,5 kg beras
Beras atau uang ini diberikan kepada yang membutuhkan sebagai bentuk kepedulian.
Kapan Waktu yang Tepat untuk Membayar Fidyah?
Mommy nggak perlu buru-buru, tapi jangan sampai lupa:
- Setiap hari: Setelah batal puasa hari itu, langsung bayar.
- Dirapel: Hitung total hari yang ditinggalkan, bayar sekaligus di akhir Ramadan.
- Batas waktu: Sebaiknya sebelum Ramadan tahun berikutnya.
Kesimpulan
Melaksanakan ibadah di masa menyusui memang butuh persiapan ekstra. Yang paling penting, Mommy harus tetap menjaga kesehatan agar kualitas ASI tetap optimal untuk si Kecil. Jika memang harus bayar fidyah, lakukanlah dengan hati yang ikhlas sebagai bentuk ketaatan kita.
Nah, setelah menunaikan kewajiban fidyah dengan tenang, bagi Mommy yang saat ini sedang bersiap mengakhiri masa cuti melahirkan, jangan lupa untuk mengatur strategi manajemen ASI ya! Mommy bisa mulai intip 4 Strategi Persiapan Stok ASIP untuk Working Mom yang Akan Kembali Bekerja supaya stok “emas cair” tetap aman dan Mommy pun tenang saat kembali ngantor nanti.
Semangat mengASIhi dan beribadah ya, Mommy sayang!

Referensi:
- Nugroho, L. (2018). Kupas Tuntas FIDYAH. Jakarta: Rumah Fiqih Publishing.
- Zacky, A. (2021). Panduan Ibadah Puasa Wajib dan Sunnah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
FAQ Seputar Topik Ini
Apa itu fidyah untuk ibu menyusui?
Fidyah adalah tebusan puasa bagi Mommy menyusui yang khawatir produksi ASI berkurang atau kondisi tubuh terganggu.
Apakah wajib bayar fidyah dan qadha bersamaan?
Tergantung alasannya. Jika khawatir untuk bayi, Mazhab Syafi’i menyarankan keduanya. Jika khawatir untuk diri sendiri, cukup qadha.
Berapa besaran fidyah yang harus dibayar?
Takaran Syafi’i: 0,75 kg beras/hari. Takaran Hanafi: 1,5 kg/hari. Bisa juga diganti uang sesuai harga makanan pokok.
Kapan waktu bayar fidyah yang tepat?
Bisa setiap hari batal puasa atau dirapel di akhir Ramadan, sebaiknya sebelum Ramadan berikutnya.
Apakah Mommy perlu khawatir kehilangan ASI saat puasa?
Prioritas utama adalah menjaga kesehatan Mommy agar produksi ASI tetap optimal. Konsultasikan jika ragu.











