Momuung.co.id – Mommy, setelah melahirkan dengan operasi caesar, seharusnya jadi momen bahagia untuk dekat dengan si Kecil. Tapi kadang rasa tidak nyaman di perut justru mengganggu karena terasa penuh, kembung, begah, bahkan mual sampai sulit bergerak.
Banyak ibu jadi bertanya, ini kembung biasa atau efek dari operasi. Rasa perut yang terasa kencang dan mual sering membuat Mommy tidak nyaman saat ingin menyusui atau bangun dari tempat tidur.
Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele. Setelah operasi perut, ada kemungkinan terjadi gangguan sementara pada kerja usus yang dikenal sebagai ileus paralitik. Penting untuk memahami tanda-tandanya agar Mommy bisa lebih waspada dan proses pemulihan berjalan lebih lancar. Yuk, simak selengkapnya di artikel ini. Buibu, baca sampai selesai, ya!
Apa Itu Ileus Paralitik?
Ileus paralitik adalah kondisi ketika gerakan alami usus yang berfungsi mendorong makanan, cairan, dan gas berhenti sementara setelah operasi. Normalnya, usus bergerak secara teratur untuk mengalirkan isi pencernaan. Namun, setelah tindakan pembedahan di area perut, gerakan ini bisa melambat atau terhenti. Akibatnya, gas dan cairan tertahan di dalam usus sehingga perut terasa kembung, penuh, nyeri, bahkan mual. Kondisi ini termasuk komplikasi yang dikenal dalam dunia medis sebagai gangguan fungsi usus pasca operasi dan dapat terjadi setelah operasi caesar (Sui et al., 2022).
Kenapa Perut Kembung Setelah Operasi Caesar?
Beberapa faktor berikut dapat menyebabkan usus bekerja lebih lambat setelah operasi caesar:
1. Pengaruh tindakan operasi pada organ perut
Saat operasi berlangsung, area perut dan sekitarnya mengalami sentuhan dan tekanan. Respons tubuh terhadap tindakan ini memicu reaksi peradangan alami. Reaksi tersebut dapat mempengaruhi saraf dan otot usus sehingga gerakan usus menjadi lebih lambat untuk sementara waktu (Sui et al., 2022).
2. Efek obat bius dan obat pereda nyeri
Anestesi dan obat pereda nyeri, terutama golongan opioid, dapat memperlambat kerja usus. Obat ini bekerja pada sistem saraf yang juga mengatur gerakan saluran cerna. Akibatnya, setelah operasi, usus membutuhkan waktu untuk kembali bekerja normal (Zlakishvili et al., 2022).
3. Respons peradangan setelah operasi
Proses penyembuhan setelah pembedahan melibatkan respons imun tubuh. Aktivasi sel imun dan zat peradangan di dalam rongga perut dapat menekan sementara fungsi gerak usus. Mekanisme ini telah dijelaskan dalam penelitian mengenai penyebab biologis ileus pasca operasi (Sui et al., 2022).
4. Perubahan cairan dan elektrolit tubuh
Kehilangan cairan selama persalinan dan operasi dapat memengaruhi keseimbangan mineral seperti kalium dan natrium. Mineral ini berperan penting dalam membantu otot berkontraksi, termasuk otot usus. Ketika keseimbangannya terganggu, gerakan usus dapat menjadi lebih lambat.
Secara keseluruhan, perut kembung setelah operasi caesar sering kali merupakan bagian dari proses adaptasi tubuh setelah pembedahan. Meski umumnya bersifat sementara, kondisi ini tetap perlu dipantau, terutama bila disertai nyeri hebat, muntah berulang, atau tidak bisa buang angin dalam waktu lama.
5. Trauma Organ Pencernaan saat Persalinan atau Operasi
Prosedur persalinan baik normal maupun operasi tentu saja memiliki risiko medis tersendiri yang sering kali dapat muncul setelahnya. Misal pada persalinan normal, saat persalinan berlangsung terlalu lama, atau bila persalinan dilakukan dorongan pada rahim saat mengejan, bisa memicu luka atau trauma pada usus, sehingga usus cedera dan menjadi sulit bekerja dengan optimal. Demikian halnya saat operasi, misal terjadi perlengketan usus dengan rahim yang bisa mengakibatkan terjadinya cedera saat proses memperbaiki perlengketan tersebut.
5 Gejala Ileus Paralitik yang Harus Mommy Diketahui
Agar Mommy tidak bingung lagi, berikut adalah gejala perut kembung setelah lahiran yang mengarah pada ileus paralitik:
1. Perut Terasa Kembung, Membesar, dan Keras
Kondisi perut pada ileus paralitik biasanya terasa sangat penuh, tegang, dan begah. Ini berbeda dengan perut pasca melahirkan biasa yang masih lembek karena rahim mengecil. Pada kondisi ileus paralitik, gas dan cairan menumpuk karena usus tidak lagi bergerak, sehingga perut terasa keras saat disentuh dan tampak membesar (Sui et al., 2022).
2. Tidak Bisa Kentut atau Buang Air Besar
Tidak keluarnya kentut atau BAB menjadi tanda penting bahwa usus belum aktif kembali. Setelah operasi caesar, dokter atau perawat biasanya memantau apakah ibu sudah bisa kentut dalam 24 sampai 48 jam. Jika sama sekali belum ada gas yang keluar, hal ini mengarah pada ileus paralitik (Zlakishvili et al., 2022).
3. Mual dan Muntah Hebat
Karena isi usus tidak bisa bergerak ke bawah, tekanan di saluran cerna meningkat. Kondisi ini memicu rasa mual hebat, dan hilangnya nafsu makan. Gejala ini cukup sering terjadi pada ibu dengan ileus paralitik pasca operasi (Sui et al., 2022).
4. Menggigil dan Demam
Sebagian ibu mengalami menggigil setelah operasi, yang bisa dipengaruhi oleh obat anestesi dan respons tubuh terhadap tindakan bedah. Namun, jika menggigil disertai demam tinggi, kondisi ini perlu diwaspadai karena bisa berkaitan dengan peradangan atau komplikasi lain yang memerlukan pemeriksaan lanjutan (Zlakishvili et al., 2022).
5. Nyeri Perut yang Menetap
Nyeri akibat ileus paralitik biasanya terasa menyebar di seluruh perut, bukan hanya di area luka operasi. Nyeri ini muncul karena dinding usus meregang akibat tekanan gas dan cairan yang terperangkap di dalamnya, sehingga rasa tidak nyaman terasa menetap (Sui et al., 2022).
Langkah Penanganan Ileus Paralitik
Jika Mommy merasa mengalami gejala di atas, jangan menunggu terlalu lama. Penanganan medis bertujuan membantu usus kembali bergerak secara normal dan mencegah kondisi menjadi lebih berat.
1. Segera Beritahu Tenaga Medis
Dokter atau perawat akan melakukan pemeriksaan fisik dan bila perlu pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen perut untuk melihat penumpukan gas atau cairan. Pemeriksaan ini membantu memastikan apakah usus benar sedang tidak aktif dan menentukan perawatan yang sesuai.
2. Mengistirahatkan Usus Sementara
Dalam beberapa kasus, Mommy akan diminta untuk tidak makan dan minum sementara waktu. Tujuannya agar usus tidak bekerja terlalu berat saat gerakannya masih lambat. Biasanya makan dan minum akan dimulai kembali setelah tanda fungsi usus muncul, seperti sudah bisa kentut.
3. Mobilisasi Dini Secara Bertahap
Bergerak ringan sangat membantu merangsang kerja usus. Mommy bisa mulai dengan miring kanan kiri di tempat tidur, duduk perlahan, lalu berjalan pelan di kamar. Aktivitas sederhana ini membantu sistem saraf dan otot usus kembali aktif setelah operasi.
4. Pemberian Cairan Infus
Jika Mommy belum bisa makan dan minum, cairan infus diberikan untuk menjaga keseimbangan cairan dan mineral tubuh. Mineral seperti kalium berperan penting dalam membantu otot usus berkontraksi sehingga pemulihan fungsi usus bisa lebih optimal.
Kapan Mommy Harus Waspada?
Segera cari pertolongan medis jika dalam waktu 48 jam Mommy mengalami hal ini:
- Perut semakin membesar dan terasa sangat tegang
- Muntah terus menerus hingga tidak bisa minum sama sekali
- Demam di atas 38°C disertai menggigil
- Nyeri Perut semakin intens
- Tidak bisa buang angin dan BAB
Gejala tersebut dapat menandakan ileus yang tidak membaik atau adanya komplikasi lain yang membutuhkan evaluasi sesegera mungkin.
Kesimpulan
Perut kembung setelah operasi caesar memang terasa tidak nyaman, tapi bisa ditangani jika dikenali sejak awal. Kuncinya adalah mulai bergerak perlahan dan selalu menyampaikan keluhan yang Mommy rasakan kepada tenaga medis agar pemulihan berjalan lebih optimal.
Jika Mommy masih merasa cemas atau punya pertanyaan seputar pemulihan pasca melahirkan dan menyusui, Mom Uung siap menemani melalui Layanan Konsultasi Gratis 24 Jam. Tim konselor akan membantu dengan rekomendasi medis yang personal supaya Mommy bisa pulih dan menyusui dengan lebih tenang.
Untuk tips seputar perawatan pasca melahirkan hingga menyusui, Mommy juga bisa follow dan tonton konten edukasi Mom Uung di Instagram dan TikTok.
Jangan lupa save artikel ini sebagai pegangan saat masa pemulihan, dan share ke Mommy lain yang sedang atau akan menjalani persalinan caesar ya!
Referensi:
- Sui, C., Tao, L., Bai, C., Shao, L., Miao, J., Chen, K., Wang, M., Hu, Q., & Wang, F. (2022). Molecular and cellular mechanisms underlying postoperative paralytic ileus by various immune cell types. Frontiers in pharmacology, 13, 929901. Diakses pada 18 Februari 2026. https://doi.org/10.3389/fphar.2022.929901
- Zlakishvili, B., Sela, H. Y., Tankel, J., Ioscovich, A., Rotem, R., Grisaru-Granovsky, S., & Rottenstreich, M. (2022). Post-cesarean ileus: An assessment of incidence, risk factors and outcomes. European journal of obstetrics, gynecology, and reproductive biology, 269, 55-61. Diakses pada 18 Februari 2026. https://doi.org/10.1016/j.ejogrb.2021.12.019














