Momuung.co.id – Setiap sensasi di perut saat memasuki trimester ketiga, pasti menjadi masa-masa yang mendebarkan bagi Mommy. Sedikit-sedikit pegang perut, sedikit-sedikit cek aplikasi contraction timer. Apalagi kalau tiba-tiba perut terasa kencang dan keras seperti papan. Rasanya antara bahagia karena Si Kecil sudah mau lahir, tapi juga panik karena takut ini ternyata kontraksi “palsu” atau justru sudah saatnya ke rumah sakit tapi Mommy belum siap.
Perasaan bingung ini wajar banget kok, Mommy. Banyak Mommy di luar sana yang bahkan sudah sampai ke rumah sakit tapi ternyata diminta pulang lagi karena baru kontraksi palsu atau Braxton hicks. Supaya Mommy tetap tenang menyambut persalinan, yuk kita bedah tuntas mengenai perbedaan kontraksi asli vs palsu serta cara menanganinya dari rumah. Buibu, baca sampai selesai, ya!
Apa Itu Kontraksi Palsu (Braxton Hicks)?
Kontraksi palsu sebenarnya adalah cara rahim Mommy “berlatih” untuk persalinan nanti. Biasanya, kontraksi palsu ini mulai terasa di trimester kedua akhir atau trimester ketiga. Sensasinya seperti perut yang tiba-tiba mengeras, tapi biasanya tidak disertai rasa nyeri yang hebat.
Ciri-ciri Kontraksi Palsu yang Wajib Mommy Tahu:
- Tidak Teratur: Datangnya tiba-tiba dan jarak waktunya tidak berpola (misal: muncul sekali, lalu hilang berjam-jam).
- Bisa Hilang dengan Aktivitas: Jika Mommy berubah posisi maupun beristirahat, misalnya dari berdiri ke berbaring atau diajak jalan santai, biasanya sensasi rasa kencang tersebut akan hilang (Raines & Cooper, 2022).
- Hanya Terasa di Bagian Depan: Rasa kencang biasanya hanya fokus di area perut bawah atau panggul saja.
- Durasi Pendek: Tidak bertambah lama dan tidak bertambah kuat intensitasnya.
Bedanya Kontraksi Asli vs Palsu
Memahami pola kontraksi sangat penting bagi Mommy di trimester akhir agar meminimalisir rasa kekhawatiran. Lalu, bagaimana cara membedakan kontraksi palsu dengan kontraksi asli?
Ciri kontraksi asli:
- Terjadi secara teratur dan jarak antar kontraksi semakin sering
- Rasa nyeri semakin kuat dan berlangsung lebih lama
- Nyeri menjalar dari punggung bawah ke perut depan
- Tidak berkurang meski Mommy berpindah posisi atau beristirahat
- Sering disertai tanda lain seperti lendir bercampur darah (bloody show) atau pecah ketuban (South, 2021; National Institutes of Health, 2023).
Lakukan 3 Hal Ini Saat Perut Terasa Kencang
Mommy tidak perlu merasa khawatir saat kontraksi datang, ya. Lakukan langkah-langkah ini sesuai anjuran medis:
- Hidrasi Tubuh: Minum cukup air dapat mengurangi kontraksi palsu yang dipicu dehidrasi (South, 2021).
- Teknik Napas Dalam: Saat perut kencang, tarik napas lewat hidung dan buang pelan lewat mulut. Teknik ini membantu oksigen masuk lebih banyak ke janin dan membuat rahim lebih rileks.
- Mandi Air Hangat: Air hangat dapat membantu otot rahim yang tegang menjadi lebih relaks. Jika setelah mandi air hangat kencangnya hilang, berarti itu hanya kontraksi palsu.
Kesimpulan
Membedakan kontraksi palsu dan kontraksi asli memang perlu ketenangan, Mom. Bila kontraksi terasa makin teratur (misalnya setiap 5 menit selama satu jam), nyeri semakin kuat, atau disertai keluarnya cairan ketuban serta lendir bercampur darah, segera hubungi dokter atau bidan. Tetap jaga asupan nutrisi harian dan yakini bahwa tubuh Mommy sudah dipersiapkan dengan sangat baik untuk menyambut kelahiran Si Kecil.
Agar perjalanan kehamilan hingga menjelang persalinan terasa lebih tenang, Mom Uung siap mendampingi Mommy lewat layanan konsultasi kehamilan dan menyusui gratis bersama konselor ahli yang siap menjawab setiap kegalauan Mommy selama 24 jam.
Yuk, save artikel ini sebagai panduan lahiran dan share ke sesama bumil supaya makin banyak Mommy yang siap dan tenang menghadapi momen kelahiran!
Referensi:
- National Institutes of Health. (2023). Normal labor: Physiology, evaluation, and management. NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544290/
- Raines, D. A., & Cooper, D. B. (2022). Braxton Hicks contractions. In StatPearls. StatPearls Publishing.
- South, J. A. (2021). Physiology of pregnancy contractions and labor. StatPearls Publishing.
Ditulis oleh: Elsa Yuni Kartika
Ditinjau ulang oleh: dr. Agus Heriyanto, Sp.OG., MARS.MM.CHt







