Momuung.co.id – Menjadi ibu, kadang ekspektasi tidak sama dengan realitanya. Terkadang ibu memerlukan alat bantu pengosongan payudara pada saat ibu dan bayi terpisah karena berbagai hal, seperti bayi lahir prematur, perlu perawatan khusus, atau ibu yang perlu meninggalkan bayi karena bekerja, dan kondisi lainnya. Di momen seperti inilah, Pompa ASI hadir menjadi sahabat penting Mommy.
Menggunakan pompa ASI bukan berarti menggantikan proses menyusui langsung atau direct breastfeeding. Sebaliknya, dengan manajemen pumping yang tepat, Mommy justru sedang memastikan Si Kecil tetap mendapatkan nutrisi terbaik secara konsisten. Yuk, kita bahas panduannya berbasis medis tentang pompa asi dan pumping agar Mommy makin percaya diri dan tenang dalam proses mengASIhi. Buibu, baca sampai selesai, ya!
Apa Tujuan Memompa ASI?
Memompa ASI bukan sekadar untuk menyetok ASI saja, lho. Ada beberapa tujuan penting lainnya:
- Meningkatkan produksi ASI
Memompa secara teratur mengirim sinyal lebih pada tubuh untuk terus memproduksi ASI, mengikuti prinsip supply and demand (semakin sering dikosongkan, semakin banyak diproduksi).

- Menjaga Persediaan ASI (Supply & Demand)
Memompa ASI secara rutin membantu tubuh Mommy memahami bahwa ASI masih dibutuhkan. Stimulasi payudara yang konsisten akan memberi sinyal alami pada tubuh untuk mempertahankan bahkan meningkatkan produksi ASI sesuai kebutuhan bayi (Nardella et al., 2025).
Siapa Saja yang Perlu Memompa ASI?
Jika tidak ada kendala medis, Mommy sangat dianjurkan untuk menyusui langsung karena memberi manfaat optimal bagi Mommy dan bayi. Namun, pada kondisi tertentu, memompa ASI menjadi solusi yang aman dan tetap direkomendasikan secara medis seperti berikut:
1. Untuk Working Mom
Bagi working mom, pumping berperan sebagai pendukung direct breastfeeding (DBF). memompa ASI membantu menjaga produksi ASI tetap stabil saat Mommy harus bekerja atau terpisah dari bayi. Payudara bisa dikosongkan secara rutin untuk mencegah nyeri dan bendungan ASI, sementara stok ASI tetap tersedia untuk Si Kecil.
2. Bayi Prematur atau Dirawat di NICU
Bila bayi belum bisa menyusu langsung, memompa ASI membantu mempertahankan produksi ASI. ASI perah tetap bisa diberikan sesuai kondisi bayi dan menjadi nutrisi terbaik selama masa perawatan (Medina Poeliniz et al., 2025).
3. Kendala Medis pada Ibu dan Bayi
Pada keadaan seperti bayi yang kesulitan pelekatan, keterlambatan Laktogenesis II (keterlambatan keluarnya kolostrum), Ibu yang cenderung low milk supply karena masalah hormonal, low milk supply karena manajemen laktasi belum tepat, terpisahnya ibu maupun bayi karena sakit atau perlunya perawatan intensif sehingga direct breastfeeding tidak dapat dilakukan, tentunya pompa ASI menjadi salah satu alat untuk membantu meningkatkan dan mempertahankan produksi ASI.
Berapa Kali Sehari Sebaiknya Memompa ASI?
Secara medis, pumping tidak bisa disamaratakan karena dipengaruhi oleh beberapa faktor utama berikut:
1. Usia bayi
Pada usia bayi yang lebih kecil mungkin frekuensi menyusunya lebih sering, sehingga membutuhkan pompa ASI lebih sering untuk menyesuaikan kebutuhan dan supply yang memadai sesuai usianya. Seiringnya bertambah usia, beberapa bayi memiliki interval menyusu lebih panjang sehingga frekuensi pompa ASI juga lebih berkurang.
2. Tujuan Mommy dalam Pumping
Baik untuk menjaga suplai, meningkatkan produksi, maupun sekadar maintenance, masing-masing membutuhkan jumlah sesi pumping bahkan metode pumping yang berbeda.
3. Kondisi Tubuh Ibu
Respons tubuh terhadap pumping tidak sama pada setiap ibu, sehingga frekuensi optimal bisa berbeda-beda. Beberapa ibu memerlukan pumping lebih sering untuk mempertahankan produksi ASI nya, sedangkan pada ibu lain bisa saja cukup dengan frekuensi yang lebih jarang untuk mendapatkan output yang sama.
Jika produksi ASI sudah stabil, frekuensi pumping dapat disesuaikan dengan pola menyusu bayi. Namun untuk hasil terbaik, Mommy sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan konselor laktasi.
Jadwal Pumping Ideal bagi Working Mom

Karena jam kerja setiap Mommy berbeda-beda, jadwal pumping sebaiknya disesuaikan dengan pola menyusu bayi saat Mommy terpisah dari Si Kecil. Dengan meniru jam menyusu bayi, payudara tetap dikosongkan secara optimal sehingga membantu menjaga konsistensi dan kestabilan produksi ASI.
Konsultasi dengan konselor laktasi dapat membantu Mommy menentukan jadwal pumping yang paling sesuai, terutama pada minggu-minggu awal postpartum, saat produksi ASI masih sangat dipengaruhi oleh frekuensi pengosongan payudara (Mago-Shah et al., 2023).
Jenis Pompa ASI yang Ideal dan Dianjurkan
Memilih pompa ASI yang tepat bisa membuat proses pumping jadi lebih nyaman dan hasilnya lebih optimal.
1. Pompa ASI Portable dengan Corong
Direkomendasikan untuk Mommy yang ingin fokus pada pengosongan maksimal. Umumnya memiliki daya hisap lebih kuat dan ritme yang konsisten, sehingga membantu menjaga dan meningkatkan supply ASI.
2. Pompa ASI Handsfree
Pilihan praktis untuk Mommy yang aktif. Dengan pompa ini, Mommy tetap bisa pumping sambil bekerja atau mengurus rumah, tanpa harus menghentikan aktivitas sehari-hari.
Pompa hospital grade paling direkomendasikan karena hisapannya stabil dan ritmenya menyerupai isapan alami bayi, sehingga membantu pengosongan payudara lebih optimal namun tetap nyaman.
Kesimpulan
Menyiapkan pompa ASI sejak dini dapat membantu Mommy mengurangi stres saat menghadapi payudara penuh atau kebutuhan ASIP yang mendadak. Dengan persiapan yang tepat, proses menyusui, baik direct breastfeeding maupun pumping, bisa terasa lebih tenang, nyaman, dan lebih terkontrol.
Bila Mommy masih ragu menentukan jadwal pumping atau memilih pompa ASI yang paling sesuai, Mom Uung siap membantu lewat layanan konsultasi gratis 24 jam bersama konselor laktasi. Mommy tidak sendirian, kami akan menemani perjalanan menyusui hingga lulus ASI 2 tahun.
Yuk, simpan artikel ini sebagai panduan pumping Mommy. Jangan lupa bagikan ke grup WhatsApp sesama pejuang ASI agar semakin banyak ibu yang siap menghadapi perjalanan menyusui dengan percaya diri.
Semoga artikel Waktu Terbaik Menyiapkan Pompa ASI dan Panduan Pumping untuk Ibu Baru ini bermanfaat ya Moms!
Referensi:
- Mago-Shah, D. D., Athavale, K., Fisher, K., Heyward, E., Tanaka, D., & Cotten, C. M. (2023). Early pumping frequency and coming to volume for mother’s own milk feeding in hospitalized infants. Journal of perinatology : official journal of the California Perinatal Association, 43(5), 629–634. Diakses pada 12 Januari 2026. https://doi.org/10.1038/s41372-023-01662-z
- Medina Poeliniz, C., Hoban, R., Janes, J., & Meier, P. P. (2025). Pumping Behaviors of Breast Pump-Dependent Mothers of Preterm Infants in the Neonatal Intensive Care Unit (NICU): Importance of the First Five Postpartum Days. Breastfeeding medicine : the official journal of the Academy of Breastfeeding Medicine, 20(7), 493–501. Diakses pada 12 Januari 2026. https://doi.org/10.1089/bfm.2024.0396
- Nardella D, Damian K, Glassman ME, Bassler B, Taylor SN, Silpe J. (2025). A National Survey: Trends in U.S. Postpartum Pumping Practices After Term Deliveries. Breastfeeding Medicine 0(0). Diakses pada 12 Januari 2026 doi:10.1177/15568253251393228
- Yuan, S., Wang, H., Xu, X., & Li, Q. (2025). A Randomized Control Trial of Early Breast Milk Pumping Interventions for Mothers of Moderately Preterm Infants. Breastfeeding medicine : the official journal of the Academy of Breastfeeding Medicine, 20(10), 722–728. Diakses pada 12 Januari 2026. https://doi.org/10.1177/15568253251365639














