Mom Uung
19 Juni 2026

Saya memberikan ASI eksklusif selama 2 tahun. Ada banyak kali saya ingin berhenti, tapi saya tetap melanjutkan. Dan saya ingin menceritakan mengapa keputusan itu tidak semudah yang terlihat.
Bulan Kelima: Titik Putus Pertama
Anak saya berusia 5 bulan ketika saya benar-benar ingin menyerah. Produksi ASI saya drop drastis tanpa alasan yang jelas. Dokter bilang itu normal, tapi "normal" tidak membantu ketika saya melihat bayi saya menangis lapar setelah menyusu.
Saya sudah coba semuanya. Makan daun katuk sampai bosan dan mual. Minum air putih sampai perut terasa penuh. Minum suplemen laktasi yang mahal. Minuman herbal dari tukang jamu yang konon katanya ampuh—rasanya mengerikan. Saya juga minta suami untuk memijat punggung saya setiap malam, padahal dia juga kelelahan.
Saat itu ibu mertua saya datang berkunjung. Dia lihat bayi saya menangis dan langsung bilang: "Sudahlah, kasih sufor saja. Tidak ada yang salah dengan itu." Suara itu terngiang-ngiang di kepala saya selama berhari-hari.
Tapi ada sesuatu dalam diri saya yang menolak. Bukan karena saya merasa sufor itu jelek—tapi karena saya sudah berkomitmen kepada diri sendiri untuk mencoba sampai akhir. Entah itu keputusan yang bijak atau bodoh, saya masih tidak tahu.
Bulan Ketujuh: Ketika Produksi Naik Lagi
Perlahan-lahan, dengan kombinasi istirahat yang lebih baik (suami saya akhirnya ambil cuti seminggu untuk bantu dengan pekerjaan rumah), minum suplemen yang tepat, dan berhenti stress tentang jumlah ASI yang keluar—produksi saya naik lagi.
Saat itu saya benar-benar merasakan relief. Bukan hanya relief fisik, tapi juga emotional. Saya merasa seperti saya sudah melewati ujian terbesar.
Bulan Kesembilan: Kembali Kerja
Bulan kesembilan adalah bulan ketika saya harus kembali bekerja. Ini adalah ujian yang berbeda.
Saya pompa ASI di toilet kantor. Ya, di toilet. Ada kantor yang punya ruang laktasi khusus, tapi kantor saya tidak. Jadi saya standing di depan wastafel, pompa dalam hati-hati agar tidak ada yang dengar, dan berdoa tidak ada yang ketuk pintu.
Kolega saya ada yang mengerti, ada yang tidak. Ada yang bilang "oh you're still breastfeeding" dengan nada yang terdengar sedikit condescending. Ada yang heran kenapa saya "repot-repot" dengan pompa. Ada juga yang support dan bahkan bilang mereka juga pernah dalam situasi yang sama.
ASIP saya disimpan di kulkas kantor dengan label nama. Meskipun sudah berlabel, tetap saja ada kekhawatiran. Mana tahu ada yang lupa atau tidak sengaja. Saya juga panik kalau listrik mati atau kulkas rusak.
Bulan Keduabelas: Krisis Mental
Di bulan keduabelas, saya mengalami depresi postpartum yang serius. Bukan seperti baby blues yang hilang dalam beberapa minggu, tapi depresi yang bertahan.
Saya pergi ke psikolog. Saya tidak bilang kepada psikolog bahwa saya menyusui—saya ingin tahu apakah depresi saya murni karena faktor lain atau karena menyusui. Hasilnya: faktor utama adalah pekerjaan, kurang tidur, dan perubahan identitas diri. Menyusui bukan penyebab utama, tapi itu menambah beban.
Psikolog saya sarankan untuk "melepas beban jika perlu." Dia tidak bilang saya harus berhenti menyusui, tapi dia membuka pintu untuk itu. Saya pikir panjang. Apakah saya mau berhenti? Saat itu, jujur saja, saya ingin berhenti. Tapi saya juga merasa belum siap melepas salah satu hal yang membuat saya merasa saya punya kontrol atas sesuatu.
Akhirnya saya tetap lanjut. Tapi saya bikin keputusan untuk tidak pompa di kantor lagi. Saya cukup kasih ASIP yang saya pump sebelum berangkat kerja. Jika itu tidak cukup, maka bayi saya akan minum air putih atau makanan padat yang sudah dimulai sejak bulan keenam. Ini adalah cara saya mengurangi stress.
Bulan Kelima Belas sampai Dua Puluh Empat: Pola Baru
Setelah saya hentikan pompa di kantor, semuanya jadi lebih santai. Saya hanya menyusui pagi sebelum kerja, sore ketika pulang kerja, dan malam sebelum tidur. Bayi saya makan makanan padat untuk sisanya.
Ini bukan ASI eksklusif murni lagi, tapi produksi saya stabil, mental saya lebih baik, dan semuanya terasa sustainable.
Anak saya tumbuh dengan baik. Dia aktif, sehat, cerdas. Ada beberapa bulan dia sering sakit, tapi dokter bilang itu normal untuk bayi yang sudah mulai bersosialisasi dengan bayi lain.
Bulan Dua Puluh Lima: Keputusan Akhir
Saat anak saya berusia 2 tahun, saya memutuskan untuk disapih. Hari terakhir kami menyusui, saya duduk dengan dia di kamar, dan saya menangis tanpa suara.
Dua tahun adalah waktu yang panjang. Dua tahun penuh dengan momen manis—melihat mata kecilnya yang tertutup puas, jari-jarinya yang menggenggam rambut saya, sesaat dia mengacau menyusui sambil tersenyum karena melihat sesuatu yang lucu.
Tapi juga dua tahun penuh dengan kekhawatiran, kelelahan, dan momen-momen ketika saya merasa saya tidak cukup kuat.
Sekarang
Anak saya sekarang sudah tidak menyusu lagi. Kami beralih ke susu UHT dan makanan padat. Dia tumbuh normal, imun dia kuat (atau