Mom Uung
19 Juni 2026

Dua Tahun Perjuangan ASI
Siapa yang bilang menyusui itu mudah? Saya dulu juga percaya bahwa itu hal yang alami, jadi pasti berjalan sendirinya. Ternyata saya salah besar.
Minggu Pertama: Kepanikan
Hari pertama setelah melahirkan, ASI saya belum keluar. Bayiku, Rafa, menangis terus karena lapar. Bidan bilang wajar, tubuh masih menyesuaikan. Tapi sebagai ibu baru, melihat bayi sendiri menangis kelaparan itu rasanya seperti gagal sejak detik pertama.
Hari ketiga barulah ASI mulai keluar, tapi sedikit sekali. Puting saya lecet sampai berdarah karena posisi latch yang belum benar. Setiap kali Rafa menyusu, saya menggigit bibir menahan sakit. Suami saya sampai heran kenapa saya selalu meneteskan air mata waktu menyusui—bukan karena terharu, tapi benar-benar kesakitan.
Titik Balik
Minggu kedua, saya hampir menyerah. Ibu mertua menyarankan untuk menambah sufor saja supaya bayi kenyang. Saya sempat iya-iya saja karena sudah kelelahan. Tapi sesuatu di dalam diri saya menolak. Saya mencari informasi, bergabung dengan komunitas pejuang ASI, belajar posisi menyusui yang benar, dan berkonsultasi dengan konselor laktasi.
Perlahan-lahan, semuanya membaik.
Bulan-Bulan Berikutnya
Bulan kedua, Rafa mulai bisa latch dengan benar. Produksi ASI saya meningkat. Rasa sakit hilang. Dan untuk pertama kalinya, saya benar-benar menikmati momen menyusui—menatap mata kecilnya yang terpejam puas, jari-jarinya yang menggenggam baju saya.
Tapi perjuangan tidak berhenti di situ.
Di bulan keempat, saya harus kembali bekerja. Saya beli pompa ASI terbaik yang saya mampu. Setiap istirahat kantor, saya masuk ke toilet—karena belum ada ruang laktasi—berdiri di depan wastafel sambil memompa. Kadang rekan kerja mengetuk pintu, saya jawab "sebentar" sambil menahan napas.
ASIP saya simpan di kulkas kantor dengan label nama. Pernah sekali, seseorang tidak sengaja membuang stok ASIP saya yang 3 kantong karena dikira minuman basi. Saya menangis di toilet waktu itu. Bukan lebay, tapi 3 kantong itu hasil perjuangan berjam-jam.
Tantangan Demi Tantangan
Di bulan kesembilan, produksi ASI saya sempat drop drastis karena stres pekerjaan. Saya panik. Minum ini itu, makan daun katuk tiap hari sampai bosan, minta suami pijat punggung setiap malam. Pelan-pelan, produksi naik lagi.
Akhir yang Manis
Sampai akhirnya, di hari ulang tahun Rafa yang kedua—saya menyusui dia untuk terakhir kalinya. Saya tahu itu sesi terakhir karena saya sudah berencana. Sambil menyusui, saya peluk dia erat-erat, dan saya menangis tanpa suara.
Dua tahun. 730 hari. Ribuan sesi menyusui. Ratusan kantong ASIP. Banyak air mata, tapi jauh lebih banyak senyum.
Untuk Ibu yang Masih Berjuang
Kalau kamu sekarang sedang di minggu-minggu pertama dan hampir menyerah—saya ingin bilang: itu normal. Sakitnya nyata. Lelahnya nyata. Tapi juga, indahnya nyata.
Kamu tidak sendirian, Mommy. Kita pejuang yang sama.