Momuung.co.id – Mommy, sering penasaran melihat isi popok si Kecil? Tenang, itu hal yang sangat wajar. Banyak orang tua merasa cemas saat melihat warna atau tekstur pup bayi berubah.
Pertanyaan seperti, “Kenapa warnanya hijau?” atau “Ini masih normal nggak ya?” sering muncul, apalagi bagi orang tua baru. Kadang ingin langsung ke dokter, tapi juga bingung apakah itu sebenarnya masih dalam batas normal.
Padahal, warna dan tekstur kotoran bayi bisa menjadi petunjuk kondisi kesehatannya. Yuk, pahami panduan Warna pup bayi supaya Mommy bisa lebih tenang dan tahu kapan perlu waspada. Buibu, wajib baca sampai selesai, ya!
1. Warna Pup Bayi yang Termasuk Normal
Warna pup bayi bisa berbeda-beda tergantung usia dan apa yang ia konsumsi. Beberapa warna feses yang umum dan masih dianggap normal antara lain:
- Kuning seperti saus mustard. Paling sering ditemukan pada bayi yang minum ASI. Teksturnya lembek dan kadang tampak seperti ada butiran kecil (Solasaari et al., 2024).
- Kuning tua atau cokelat muda. Lebih sering ditemukan pada bayi yang minum susu formula dan biasanya lebih padat.
- Hijau kehitaman di hari pertama lahir. Disebut mekonium, yaitu pup pertama bayi setelah lahir. Kondisi ini normal pada satu sampai dua hari awal kehidupan bayi.
- Hijau tua. Bisa terjadi karena kandungan zat besi dalam susu formula atau suplemen yang dikonsumsi ibu.
- Cokelat atau oranye. Warna pup ini masih termasuk normal, terutama setelah bayi mulai makan MPASI karena pengaruh warna makanan.
Selama tidak ada darah, tidak berlendir berlebihan, dan bayi tetap terlihat sehat, warna-warna tersebut biasanya tidak berbahaya.
2. Kenapa Pup Bayi Berwarna Hijau?
Warna pup hijau sering membuat orang tua panik. Padahal, dalam banyak kasus, ini masih termasuk normal. Warna hijau berasal dari cairan empedu, yaitu cairan alami di dalam tubuh yang membantu mencerna lemak. Saat pup bergerak lebih cepat melalui usus, warna empedu belum sempat berubah menjadi cokelat, sehingga pup tampak hijau (Solasaari et al., 2024).
Pada bayi yang minum ASI, cara dan pola menyusu juga bisa berpengaruh. ASI yang keluar di awal menyusu dan di akhir menyusu memiliki kandungan yang berbeda. Perbedaan ini dapat memengaruhi tekstur dan warna pup bayi. Namun, warna hijau tidak langsung berarti ada masalah, selama bayi tetap menyusu dengan baik dan berat badannya naik sesuai kurva pertumbuhan (Ho et al., 2018).
Jadi, jika si Kecil terlihat aktif, tidak demam, menyusu lancar, dan pertumbuhannya baik, pup hijau umumnya masih dalam batas normal.
3. Ciri-Ciri Feses yang Perlu Diwaspadai
Sebagian besar warna pup bayi masih tergolong normal. Namun, ada beberapa warna yang perlu diwaspadai karena dapat menandakan gangguan kesehatan. Berikut warna pup yang termasuk “red flag” dan perlu Mommy waspadai:
- Merah atau terdapat bercak darah
Warna merah dapat menunjukkan adanya darah pada feses. Penyebabnya bisa karena luka kecil di sekitar anus akibat feses keras, alergi protein susu sapi, atau infeksi saluran pencernaan. Jika darah terlihat jelas, berulang, atau disertai bayi tampak tidak nyaman, segera periksakan ke dokter.
- Putih pucat atau abu-abu seperti dempul
Warna ini merupakan tanda bahaya karena bisa menandakan gangguan aliran empedu dari hati ke usus. Kondisi ini dapat berkaitan dengan gangguan hati serius pada bayi. Penelitian menegaskan warna pup yang pucat perlu dievaluasi sesegera mungkin untuk mencegah keterlambatan penanganan (Wang, 2015).
- Hitam pekat setelah masa bayi baru lahir
Pada hari-hari pertama setelah bayi lahir, pup hitam masih normal karena mekonium. Namun jika warna hitam muncul kembali setelah masa tersebut, hal ini dapat menandakan pendarahan di saluran cerna bagian atas dan perlu pemeriksaan medis.

4. Cara Membedakan Sembelit dan Diare
Selain warna, tekstur dan frekuensi pup juga penting untuk diperhatikan.
Sembelit: biasanya ditandai dengan pup yang keras, kering, dan sulit keluar. Bayi bisa terlihat mengejan kuat, wajahnya memerah, atau rewel karena tidak nyaman. Panduan kesehatan menyebutkan bahwa konstipasi dinilai dari konsistensi pup yang keras dan adanya kesulitan saat buang air besar, bukan hanya dari jarangnya frekuensi (Allen et al., 2024).
Diare: ditandai dengan pup yang sangat cair dan keluar lebih sering dari biasanya. Pada bayi, kondisi ini perlu perhatian karena cairan tubuh dapat berkurang dengan cepat. Tanda bahaya diare meliputi bayi tampak sangat haus, mulut kering, jarang buang air kecil, atau tidak mau menyusu.
Kesimpulan
Warna pup bayi biasanya dipengaruhi oleh asupan dan cara kerja pencernaannya. Jika si Kecil tetap aktif, berat badan naik dengan baik, dan warna pup masih kuning, cokelat, atau hijau tanpa darah atau lendir berlebih, umumnya kondisi tersebut masih normal. Namun, jika pup berwarna merah, putih pucat, atau hitam pekat, segera konsultasikan ke tenaga medis.
Jika Mommy masih ragu dengan kondisi pup si Kecil atau ingin tahu cara menjaga Pencernaan bayi tetap lancar, Mom Uung menyediakan Layanan Konsultasi Gratis 24 Jam. Mommy bisa bertanya langsung dan mendapatkan penjelasan yang sesuai dengan kondisi buah hati.
Yuk, simpan dan bagikan informasi ini ke Mommy lainnya agar semakin banyak orang tua yang lebih tenang dan paham. Jangan lupa untuk ikuti media sosial Mom Uung untuk edukasi ibu dan anak setiap hari!
Referensi:
- Allen, P., Setya, A., & Lawrence, V. N. (2024). Pediatric functional constipation. In StatPearls. StatPearls Publishing. Diakses pada 23 Februari 2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537037/
- Children’s Hospital Colorado. (2020). Baby poop guide. Diakses pada 23 Februari 2026. https://www.childrenscolorado.org/just-ask-childrens/articles/baby-poop-guide/
- Ho, N. T., Li, F., Lee-Sarwar, K. A., Tun, H. M., Brown, B. P., Pannaraj, P. S., Bender, J. M., Azad, M. B., Thompson, A. L., Weiss, S. T., Azcarate-Peril, M. A., Litonjua, A. A., Kozyrskyj, A. L., Jaspan, H. B., Aldrovandi, G. M., & Kuhn, L. (2018). Meta-analysis of effects of exclusive breastfeeding on infant gut microbiota across populations. Nature communications, 9(1), 4169. Diakses pada 23 Februari 2026. https://doi.org/10.1038/s41467-018-06473-x
- Solasaari, T., Korpela, K., Lommi, S., Hyvönen, S., Gardemeister, S., Merras-Salmio, L., Salonen, A., de Vos, W. M., & Kolho, K. L. (2024). Bowel function in a prospective cohort of 1052 healthy term infants up to 4 months of age. European journal of pediatrics, 183(8), 3557-3565. Diakses pada 23 Februari 2026. https://doi.org/10.1007/s00431-024-05625-0
- Wang, K. S., Section on Surgery, Committee on Fetus and Newborn, & Childhood Liver Disease Research Network (2015). Newborn Screening for Biliary Atresia. Pediatrics, 136(6), e1663-e1669. Diakses pada 23 Februari 2026. https://doi.org/10.1542/peds.2015-3570
✨ Produk Unggulan Mom Uung
FAQ Seputar Topik Ini
Apa warna pup bayi yang normal?
Warna pup bayi yang normal biasanya kuning, cokelat, atau hijau. Pada bayi yang minum ASI, pup sering berwarna kuning seperti saus mustard dengan tekstur lembek. Perubahan warna juga dapat dipengaruhi oleh susu formula atau makanan setelah bayi mulai MPASI.
Kenapa pup bayi bisa berwarna hijau?
Pup bayi bisa berwarna hijau karena pengaruh cairan empedu di sistem pencernaan. Warna ini sering muncul ketika pup bergerak lebih cepat melalui usus. Pada banyak kasus, pup hijau masih normal selama bayi tetap aktif dan menyusu dengan baik.
Kapan warna pup bayi perlu diwaspadai?
Warna pup yang perlu diwaspadai adalah merah, putih pucat, atau hitam pekat setelah masa bayi baru lahir. Warna tersebut dapat menandakan adanya darah, gangguan aliran empedu, atau masalah pencernaan yang perlu diperiksa oleh dokter.
Bagaimana cara membedakan sembelit dan diare pada bayi?
Sembelit biasanya ditandai dengan pup yang keras, kering, dan sulit keluar. Diare ditandai dengan pup yang sangat cair dan frekuensinya lebih sering dari biasanya. Kedua kondisi ini perlu diperhatikan jika disertai bayi rewel, tidak mau menyusu, atau terlihat lemas.
Apakah frekuensi pup bayi yang jarang selalu berarti sembelit?
Tidak selalu. Beberapa bayi, terutama yang minum ASI, bisa buang air besar lebih jarang tetapi tetap normal. Sembelit dinilai dari tekstur pup yang keras dan bayi tampak kesulitan saat buang air besar.
















