
Momuung.co.id – Mommy, pernah merasa tidak enak hati saat Ayah pulang kerja ingin langsung menggendong si Kecil, tetapi masih tercium bau rokok di bajunya? Banyak yang mengira merokok di luar rumah sudah cukup aman. Padahal, sisa zat beracun dari rokok bisa menempel di pakaian dan kulit. Inilah yang disebut third-hand smoke, dan paparan ini tetap berisiko bagi bayi yang sistem pernapasannya masih sensitif.
Tidak heran jika Mommy khawatir saat si Kecil sering batuk, pilek, atau napasnya berbunyi padahal sedang tidak sakit. Yuk, pahami risikonya bersama demi kesehatan buah hati. Buibu dan bapak-bapak, baca sampai selesai ya!
Residu rokok adalah sisa zat kimia dari asap rokok yang menempel di pakaian, kulit, rambut, dinding, hingga debu rumah setelah rokok dimatikan. Meski asapnya sudah tidak terlihat, zat kimia seperti nikotin tetap menempel di permukaan dan sulit hilang. Zat ini bahkan bisa berubah menjadi senyawa yang lebih berbahaya saat bercampur dengan udara di dalam ruangan (Matt et al., 2011).
Bayi sangat mudah terpapar karena sering merangkak, menyentuh lantai atau permukaan benda lainnya, lalu memasukkan tangan ke mulut. Paparan bisa terjadi lewat kulit, napas, maupun debu yang tidak sengaja tertelan. Penelitian menunjukkan paparan residu rokok dapat berdampak pada kesehatan pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada anak (James et al., 2022).
Residu rokok tidak hilang hanya dengan membuka jendela atau menyemprotkan pengharum ruangan. Studi menemukan bahwa sisa nikotin dan zat turunannya bisa bertahan di permukaan rumah dan debu selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan (Matt et al., 2011).
Selain itu, zat yang menempel tersebut dapat berubah menjadi bahan yang bersifat karsinogenik atau pemicu kanker ketika bereaksi dengan zat lain di udara (James et al., 2022). Karena itu, cara paling aman melindungi bayi adalah mencegah sumber residu, misalnya dengan mengganti pakaian dan membersihkan diri sebelum menggendong atau bermain dengan anak.

Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia dan ratusan di antaranya berbahaya bagi tubuh, seperti nikotin dan logam berat. Pada residu rokok atau third-hand smoke, nikotin dapat menempel di pakaian, kulit, dan permukaan rumah. Zat ini bisa berubah menjadi senyawa yang lebih berbahaya saat bercampur dengan udara di dalam ruangan (Matt et al., 2011).
Bayi lebih rentan karena paru-paru dan sistem kekebalannya masih berkembang. Paparan berulang, meski dalam jumlah kecil, dapat memicu peradangan pada saluran napas yang memengaruhi perkembangan paru, mengganggu respons imun, dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya pada anak.
Mommy perlu waspada, paparan residu rokok di rumah menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti berikut:
Residu rokok dapat menempel pada pakaian, kulit, dan rambut setelah seseorang merokok. Nikotin yang tertinggal di kain dan permukaan tubuh bisa bertahan lama dan menjadi sumber paparan bagi bayi saat terjadi kontak dekat. Karena bayi sering digendong dan bersentuhan langsung dengan orang tua, membersihkan diri sebelum berinteraksi sangat penting untuk mengurangi risiko paparan (Matt et al., 2011).
Langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Tidak ada paparan rokok yang benar-benar aman bagi bayi. Residu rokok dapat menempel di pakaian dan lingkungan rumah, lalu berdampak pada perkembangan paru-paru, otak, dan daya tahan tubuh si Kecil. Menciptakan rumah yang bebas dari paparan rokok adalah langkah penting untuk melindungi tumbuh kembangnya.
Jika si Kecil sering mengalami napas berbunyi atau batuk pilek dan Mommy khawatir ada kaitannya dengan paparan residu, jangan ragu untuk berkonsultasi. Mom Uung menyediakan Layanan Konsultasi Gratis 24 Jam bersama konselor laktasi yang siap membantu.
Yuk, simpan dan bagikan artikel ini agar seluruh anggota keluarga semakin paham pentingnya melindungi bayi dari residu rokok. Ikuti juga edukasi seputar ibu dan anak di Instagram, TikTok, dan YouTube Mom Uung untuk informasi lainnya!
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.