
Momuung.co.id – Campak masih menjadi salah satu penyakit menular yang perlu diwaspadai pada bayi dan anak. Kondisi ini sering membuat banyak orang tua khawatir, terutama karena daya tahan tubuh si Kecil masih dalam tahap perkembangan.
Kabar baiknya, ASI tidak hanya berperan sebagai sumber nutrisi, tetapi juga membantu memberikan perlindungan imun bagi bayi selama masa awal kehidupannya. Lalu, benarkah ASI eksklusif dalam konteks kehamilan dan menyusui | Mom Uung" class="glossary-link">ASI eksklusif dapat membantu menurunkan risiko komplikasi berat akibat campak? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di artikel ini, Mom!
Saat lahir, sistem kekebalan tubuh bayi sebenarnya masih belum berkembang sempurna. Karena itu, si Kecil lebih rentan terkena berbagai infeksi, termasuk infeksi saluran pernapasan, diare, maupaun penyakit menular lainnya. Di sinilah ASI berperan penting, bukan hanya sebagai sumber nutrisi, tetapi juga salah satu dukungan alami untuk membantu memperkuat daya tahan tubuh bayi.
ASI mengandung berbagai komponen yang membantu melindungi tubuh si Kecil, seperti antibodi Immunoglobulin A (IgA), lactoferrin, sel imun, serta oligosakarida ASI (Human Milk Oligosaccharides/HMOs). Kandungan-kandungan ini bekerja membantu melindungin saluran cerna dan saluran pernapasan bayi dari paparan kuman penyebab penyakit sekaligus mendukung perkembangan sistem imunnya yang masih dalam proses pematangan.
Beberapa manfaat ASI untuk mendukung daya tahan tubuh bayi antara lain:
Karena itulah, World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Selain memenuhi kebutuhan nutrisi, ASI juga membantu memberikan perlindungan tambahan saat sistem kekebalan tubuh bayi masih berkembang.
Namun, penting dipahami bahwa ASI tidak menggantikan imunisasi. Pada penyakit seperti campak, perlindungan utama tetap berasal dari vaksinasi sesuai jadwal yang dianjurkan. ASI berperan sebagai pendukung daya tahan tubuh bayi, sedangkan imunisasi membantu membentuk perlindungan spesifik terhadap virus penyebab penyakit tersebut.

Banyak orang tua mengira campak hanya menyebabkan demam dan ruam merah pada kulit. Padahal, campak merupakan penyakit infeksi yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh untuk sementara waktu sehingga tubuh anak menjadi lebih rentan terhadap infeksi lain. Risiko komplikasi umumnya lebih tinggi pada bayi, anak usia di bawah 5 tahun, serta anak yang mengalami kekurangan gizi atau memiliki daya tahan tubuh yang belum optimal.
Karena itu, campak tidak boleh dianggap sepele, Mom. Pada sebagian anak, penyakit ini dapat berkembang menjadi komplikasi yang cukup serius dan membutuhkan penanganan medis.
Beberapa Komplikasi Campak yang perlu diwaspadai antara lain:
Pneumonia merupakan salah satu komplikasi campak yang paling sering terjadi dan menjadi penyebab utama kematian akibat campak pada anak. Kondisi ini terjadi ketika infeksi menyebabkan peradangan pada paru-paru sehingga si Kecil dapat mengalami batuk berat, napas cepat, sesak, atau kesulitan bernapas.
Campak juga dapat menyebabkan diare yang membuat tubuh kehilangan banyak cairan. Pada bayi dan anak kecil, kondisi ini perlu mendapat perhatian karena dehidrasi bisa terjadi lebih cepat dibandingkan pada orang dewasa. Jika tidak ditangani dengan baik, dehidrasi dapat memengaruhi kondisi kesehatan anak secara keseluruhan.
Meskipun jarang terjadi, ensefalitris merupakan salah satu komplikasi campak yang serius. Kondisi ini dapat menyebabkan kejang, penurunan kesadaran, hingga gangguan pada sistem saraf yang memerlukan penanganan medis segera.
Melihat berbagai risiko tersebut, penting bagi orang tua untuk membantu menjaga daya tahan tubuh si Kecil sejak dini. Selain memastikan bayi mendapatkan imunisasi sesuai jadwal, pemberian ASI eksklusif juga dapat membantu mendukung sistem kekebalan tubuh dan kesehatan bayi selama masa pertumbuhannya. ASI memang bukan pengganti vaksin, tetapi dapat menjadi salah satu bentuk perlindungan alami yang membantu menjaga kesehatan si Kecil di tahun-tahun awal kehidupannya.
Agar si Kecil bisa terus mendapatkan manfaat ASI secara optimal, Mommy juga perlu menjaga produksi ASI tetap lancar selama masa menyusui. Kabar baiknya, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari untuk membantu mendukung proses produksi ASI.
Produksi ASI bekerja berdasarkan prinsip supply and demand. Artinya, semakin sering payudara dikosongkan melalui menyusui langsung atau pumping, tubuh akan menerima sinyal untuk memproduksi ASI kembali.
Karena itu, usahakan untuk menyusui sesuai kebutuhan bayi (on demand) atau memompa ASI secara rutin jika sedang tidak bersama si Kecil. Konsistensi biasanya lebih berpengaruh dibandingkan jarak waktu yang terlalu lama antar sesi menyusui.
Saat menyusui, tubuh Mommy membutuhkan lebih banyak cairan untuk membantu produksi ASI. Karena itu, usahakan minum sekitar 10-12 gelas air putih per hari atau setara dengan 2,5-3 liter cairan. Supaya tidak lupa, Mommy bisa membiasakan minum 1 gelas air putih setiap selesai menyusui atau pumping.
Selain cukup minum, jangan lupa memenuhi kebutuhan gizi harian dengan mengonsumsi makanan yang beragam dan seimbang. Asupan nutrisi yang baik membantu tubuh tetap bertenaga selama menjalani aktivitas menyusui setiap hari.
Istirahat juga penting, Mom. Merawat bayi memang sering membuat waktu tidur berkurang, tetapi usahakan tetap beristirahat setiap kali ada kesempatan, misalnya saat si Kecil sedang tidur. Jika memungkinkan, minta bantuan pasangan atau keluarga untuk berbagi tugas di rumah agar Mommy tidak terlalu kelelahan. Tubuh yang lebih segar dan pikiran yang lebih tenang dapat membantu proses menyusui terasa lebih nyaman untuk dijalani.
Selain dari makanan sehari-hari, Mommy juga bisa melengkapi kebutuhan nutrisi selama menyusui dengan susu khusus ibu menyusui.
Salah satu pilihan yang bisa dipertimbangkan adalah Susu Mylkflow Mom Uung yang diformulasikan dengan kombinasi ekstrak daun kelor dan almond milk untuk membantu mendukung kebutuhan nutrisi busui selama masa menyusui.
Beberapa keunggulan yang dimiliki Susu Mylkflow antara lain:
Namun, penting untuk diingat bahwa kecukupan nutrisi hanyalah salah satu bagian dari perjalanan menyusui. Produksi ASI juga dipengaruhi oleh frekuensi menyusui, pengosongan payudara yang optimal, serta pelekatan bayi yang tepat saat menyusu. Jika Mommy masih sering merasa nyeri saat menyusui atau si Kecil tampak kesulitan mendapatkan ASI secara optimal, memahami teknik pelekatan yang benar juga bisa sangat membantu. Mommy bisa mempelajari lebih lanjut melalui artikel Tips Deep Latch untuk Bayi dengan Mulut Kecil agar Menyusui Tetap Nyaman agar proses menyusui terasa lebih nyaman sekaligus membantu mendukung pengeluaran ASI yang lebih efektif.
ASI bukan hanya berperan sebagai sumber nutrisi bagi bayi, tetapi juga membantu memberikan perlindungan alami terhadap berbagai infeksi selama masa awal kehidupannya. Karena itu, menjaga kelancaran proses menyusui, memenuhi kebutuhan nutrisi Mommy, serta memastikan si Kecil mendapatkan imunisasi sesuai jadwal merupakan langkah penting untuk mendukung kesehatan dan tumbuh kembangnya secara optimal.
Di tengah berbagai tantangan selama masa menyusui, jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan dan kesejahteraan diri sendiri, Mom. Ketika kebutuhan Mommy terpenuhi dengan baik, proses menyusui pun biasanya akan terasa lebih nyaman untuk dijalani. Kalau di rumah, apakah si Kecil sudah mendapatkan imunisasi sesuai usianya? Atau adakah tips yang biasa Mommy lakukan untuk menjaga semangat selama menyusui? Yuk, bagikan pengalaman Mommy di kolom komentar dan saling berbagi cerita dengan sesama busui lainnya!
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.