
Momuung.co.id – Banyak orang membayangkan momen menyusui sebagai pengalaman yang indah dan penuh kehangatan. Memang benar, menyusui dapat menjadi salah satu cara Mommy membangun kedekatan dengan si Kecil. Namun, di balik itu, proses menyusui juga membutuhkan energi yang tidak sedikit.
Bangun berkali-kali di malam hari, memastikan kebutuhan si Kecil terpenuhi, menghadapi berbagai tantangan menyusui, hingga beradaptasi dengan peran baru sebagai ibu dapat membuat Mommy merasa lelah, baik secara fisik maupun emosional.
Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini bisa berkembang menjadi Breastfeeding burnout atau Burnout saat menyusui.
Jadi, bagaimana cara mengenalinya?
Burnout saat menyusui adalah kondisi ketika Mommy mengalami kelelahan emosional, fisik, dan mental akibat tuntutan menyusui dan merawat bayi baru lahir.
Menurut beberapa penelitian, kondisi ini dapat muncul ketika berbagai faktor terjadi secara bersamaan, seperti kurang tidur, rasa sakit saat menyusui, stres berkepanjangan, serta minimnya dukungan dari lingkungan sekitar.
Mommy mungkin mengalami:
Meski bukan diagnosis medis secara khusus, burnout saat menyusui kini semakin mendapat perhatian sebagai perhatian salah satu isu penting dalam kesehatan ibu pasca persalinan.
Kadang, Mommy mengira rasa lelah yang dialami adalah hal yang “normal” sebagai ibu baru. Padahal, ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa Mommy mungkin membutuhkan bantuan atau dukungan lebih.
Berikut beberapa tanda burnout saat menyusui yang perlu diperhatikan:
Tidur singkat atau kesempatan beristirahat tidak lagi terasa cukup untuk mengembalikan energi Mommy.
Alih-alih merasa tenang, sesi menyusui justru memicu rasa khawatir, tertekan, atau takut.
Hal-hal kecil yang biasanya tidak menjadi masalah bisa terasa sangat menguras emosi.
Mommy menjadi lebih sensitif dan mudah merasa sedih tanpa alasan yang jelas.
Nyeri pada puting, payudara, atau ketidaknyamanan yang terus berlangsung dapat memperburuk kondisi emosional.
Kelelahan yang berlebihan terkadang membuat Mommy kesulitan merasakan bonding dengan bayi.
Mommy mungkin mulai berpikir bahwa diri sendiri tidak cukup baik atau tidak mampu menjalani peran sebagai ibu.
Jika kondisi ini berlangsung cukup lama, burnout saat menyusui juga dapat tumpang tindih dengan gejala depresi pasca persalinan atau postpartum anxiety. Karena itu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila Mommy merasa membutuhkannya.

Setiap Mommy memiliki pengalaman yang berbeda. Namun, beberapa hal berikut dapat meningkatkan risiko burnout:
Tidak jarang pula, paparan media sosial yang menampilkan gambaran “ibu sempurna” membuat Mommy merasa harus mampu melakukan semuanya tanpa bantuan.
Padahal, meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan.
Burnout bukan hanya soal emosi.
Kondisi ini juga bisa memengaruhi kesehatan fisik Mommy, seperti:
Karena itu, penting bagi Mommy untuk mendengarkan sinyal yang diberikan tubuh.
Jangan menunggu sampai semuanya terasa terlalu berat.
Segera konsultasikan dengan dokter, bidan, atau psikolog jika:
Mommy tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat membantu Mommy merasa lebih ringan.
Paksu bisa membantu mengganti popok, menggendong bayi setelah menyusu, atau mengambil alih pekerjaan rumah tangga.
Manfaatkan waktu tidur si Kecil untuk beristirahat, meski hanya sebentar.
Bicaralah dengan pasangan, keluarga, sahabat, atau sesama ibu menyusui.
Jika Mommy mengalami nyeri atau kesulitan pelekatan, segera konsultasikan dengan konselor laktasi atau tenaga kesehatan.
Sesekali luangkan waktu melakukan hal sederhana yang Mommy sukai, seperti mandi lebih lama, berjalan santai, atau menikmati minuman hangat.
Di tengah kesibukan mengurus bayi, jangan sampai Mommy lupa merawat tubuh sendiri. Pastikan kebutuhan cairan dan nutrisi tetap terpenuhi melalui pola makan bergizi seimbang. Bila diperlukan, Mommy juga dapat mempertimbangkan asupan pendamping seperti ASI booster Mom Uung berstandar OHT, yang diformulasikan untuk menemani perjalanan menyusui dengan kandungan nutrisi pendukung seperti protein, kalsium, zat besi, zinc, serta ekstrak daun kelor dan daun katuk. Namun, perlu diingat bahwa ASI booster bukan pengganti makanan bergizi maupun solusi instan untuk mengatasi burnout.
Merawat diri sendiri bukan berarti egois. Justru, Mommy yang sehat secara fisik dan emosional akan lebih siap mendampingi tumbuh kembang si Kecil.
Burnout saat menyusui adalah kondisi yang nyata dan bisa dialami oleh siapa saja. Mengalaminya bukan berarti Mommy kurang bersyukur, kurang sabar, atau kurang mencintai si Kecil.
Faktanya, banyak ibu yang pernah berada di posisi yang sama.
Karena itu, jika hari ini Mommy merasa lelah, izinkan diri untuk beristirahat. Jika merasa kewalahan, jangan ragu meminta bantuan. Dan jika merasa tidak baik-baik saja, ketahuilah bahwa perasaan tersebut valid.
Karena perjalanan menyusui bukan tentang menjadi ibu yang sempurna, melainkan tentang belajar, beradaptasi, dan terus bertumbuh bersama si Kecil.
Ingat ya, Mom. Di balik kebutuhan si Kecil yang perlu dipenuhi, ada diri Mommy yang juga membutuhkan perhatian, dukungan, dan kasih sayang.
Karena ibu yang terawat juga merupakan bagian penting dari tumbuh kembang anak yang sehat.
Punya pengalaman soal kehamilan dan menyusui? Yuk share di sini — komentar Mommy bisa jadi inspirasi buat sesama! 💚
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.