Momuung.co.id – Setelah operasi caesar, wajar jika muncul rasa khawatir saat mulai menyusui. Banyak Mommy bertanya, apakah menyusui bisa dilakukan dengan nyaman tanpa membuat area jahitan terasa nyeri, atau takut jika bayi tidak sengaja menendang perut.
Rasa lelah dan keterbatasan gerak setelah operasi juga sering membuat Mommy merasa ragu dengan kelancaran ASI. Tapi tenang ya, Mommy. Melahirkan secara caesar bukan penghalang untuk menyusui dengan baik.
Dengan posisi yang tepat dan penyesuaian sederhana, Mommy tetap bisa menyusui dengan nyaman dan minim rasa sakit. Yuk, pelajari posisi dan strategi menyusui setelah caesar yang aman dan direkomendasikan agar proses menyusui terasa lebih tenang dan menyenangkan. Buibu, baca sampai selesai, ya!
Rekomendasi Posisi Menyusui yang Aman Setelah Lahiran Caesar
Memilih posisi menyusui yang baik sangat krusial untuk melindungi luka jahitan dari tekanan atau tendangan bayi. Berikut dua posisi menyusui yang direkomendasikan:
1. Football Hold (Posisi Mengapit)

Bayi diposisikan di samping tubuh Mommy, di bawah ketiak, dengan kepala ditopang tangan dan tubuh bayi mengarah ke belakang. Posisi ini menjaga berat tubuh bayi tidak menekan perut, sehingga aman untuk luka jahitan (Holmes et al., 2013).
2. Laid-back Hold (Menyusui Sambil Bersandar)

Mommy bersandar setengah berbaring (±45°) dengan bantuan bantal, lalu bayi diletakkan di atas dada bagian atas Mommy. Posisi ini membantu pelekatan alami dengan bantuan gravitasi dan mengurangi ketegangan otot perut pasca operasi.
Teknik Pelekatan agar Menyusui Lebih Nyaman

Setelah menemukan posisi yang nyaman, pastikan posisi menyusu bayi sudah tepat dengan teknik berikut:
- Arahkan puting sejajar dengan hidung bayi
Arahkan puting sejajar dengan hidung atau bibir atas bayi. Sentuhan ini merangsang bayi membuka mulut lebar seperti menguap, tanda siap melekat.
- Tunggu mulut bayi terbuka lebar
Saat bayi membuka mulut selebar mungkin, dekatkan bayi ke payudara dengan lembut. Pastikan bagian areola bawah masuk lebih banyak ke dalam mulut bayi agar isapan lebih efektif.
- Perhatikan tanda pelekatan yang benar
Areola atas banyak terlihat sementara areola bawah dominan masuk ke mulut bayi, mulut bayi terbuka lebar, bibir terlipat keluar (dower), dagu menempel ke payudara, Mommy tidak merasa kesakitan, pipi bayi tampak penuh terlihat membentuk cembung.
Kenapa ASI Terasa Lambat Keluar Pasca Caesar?
Selain soal posisi dan pelekatan, sebagian ibu yang melahirkan melalui operasi caesar merasa ASI belum keluar banyak pada hari pertama. Kondisi ini umum terjadi dan dikenal sebagai delayed lactogenesis II, yaitu keterlambatan keluarnya ASI matang.
Penelitian menunjukkan bahwa pemulihan pasca operasi, nyeri, stres fisik maupun emosional, serta frekuensi menyusui yang belum optimal di awal kelahiran dapat memengaruhi pelepasan hormon yang berperan dalam produksi ASI (Lian et al., 2022).
Meski ASI belum terasa banyak, payudara Mommy sebenarnya sudah memproduksi kolostrum sejak kehamilan. Kunci utamanya adalah stimulasi yang rutin dan konsisten melalui menyusui langsung atau memerah agar produksi ASI meningkat secara bertahap (Lian et al., 2022).
Agar proses ini berjalan lebih optimal, Mommy bisa melakukan beberapa langkah sederhana untuk membantu stimulasi payudara pasca operasi.
Tips Menurunkan Risiko Delayed Lactogenesis II dan Stimulasi Payudara Pasca Caesar
Mommy bisa melakukan beberapa langkah berikut
- Lakukan Skin-to-Skin Saat Sudah Bersama Bayi
Jika Inisiasi Menyusu Dini (IMD) belum dapat dilakukan optimal karena kondisi operasi, kontak kulit tetap bisa dimulai saat Mommy dan bayi sudah berada di ruang perawatan yang sama.
Kontak kulit secara langsung membantu merangsang pelepasan hormon oksitosin. Hormon ini berperan dalam refleks pengeluaran ASI (Let-Down Reflex) sekaligus membuat bayi lebih tenang. Saat bayi rileks dan dekat dengan tubuh Mommy, refleks menyusu biasanya lebih kuat sehingga stimulasi payudara juga meningkat.
- Rawat Gabung (Rooming-in)
Berada satu ruangan dengan bayi memudahkan Mommy mengenali sinyal lapar sejak dini. Bayi bisa lebih sering disusui tanpa harus menunggu terlalu lama.
Frekuensi menyusui yang lebih sering akan mengirimkan sinyal ke tubuh bahwa ASI dibutuhkan dalam jumlah lebih banyak. Respons inilah yang membantu meningkatkan produksi ASI secara alami.
- Susui Setiap 2-3 Jam atau Sesuai Tanda Lapar
Menyusui secara teratur setiap dua hingga 3 jam membantu menjaga rangsangan pada payudara tetap konsisten. Setiap kali payudara dikosongkan, tubuh menerima sinyal untuk memproduksi ASI kembali.
Jika jeda menyusui terlalu panjang, stimulasi berkurang dan produksi bisa melambat. Karena itu, meski ASI belum terasa penuh, tetap susui bayi sesuai kebutuhannya agar siklus produksi terus berjalan.
- Perah Tangan (Hand Expressing)
Apabila kondisi Mommy atau bayi belum memungkinkan untuk menyusu langsung, perah payudara menggunakan tangan setiap dua hingga 3 jam dan langsung berikan ke bayi sesuai kebutuhannya. Dengan stimulasi yang konsisten, tubuh akan lebih cepat beradaptasi dan meningkatkan produksi ASI secara bertahap.
Kesimpulan
Menyusui setelah operasi caesar memang butuh adaptasi, tapi dengan posisi yang tepat dan dukungan dari lingkungan sekitar, Mommy tetap bisa menjalaninya dengan nyaman. Luka akan pulih seiring waktu, sementara momen dekat bersama si Kecil saat menyusui akan jadi kenangan berharga.
Setiap Mommy punya proses pemulihan yang berbeda. Kalau masih merasa pelekatan belum pas atau ASI terasa belum lancar, Mommy tidak perlu menghadapinya sendirian. Manfaatkan layanan Konsultasi Menyusui Mom Uung GRATIS 24 Jam untuk mendapatkan pendampingan dan solusi yang sesuai kebutuhan Mommy.
Yuk, simpan artikel ini sebagai panduan, dan bagikan ke calon Mommy lainnya agar makin siap dan percaya diri!
Referensi:
- Holmes, A. V., McLeod, A. Y., & Bunik, M. (2013). ABM Clinical Protocol #5: Peripartum breastfeeding management for the healthy mother and infant at term, revision 2013. Breastfeeding medicine : the official journal of the Academy of Breastfeeding Medicine, 8(6), 469-473. Diakses pada 9 Februari 2026. https://doi.org/10.1089/bfm.2013.9979
- Lian, W., Ding, J., Xiong, T., Liuding, J., & Nie, L. (2022). Determinants of delayed onset of lactogenesis II among women who delivered via Cesarean section at a tertiary hospital in China: a prospective cohort study. International breastfeeding journal, 17(1), 81. Diakses pada 9 Februari 2026. https://doi.org/10.1186/s13006-022-00523-3
- Taj, S. ., Kausar, P. D. S. ., Naz, F. ., Manzoor, N. ., & Zareef, S. . (2025). Effectiveness of Breastfeeding Techniques to Improve Latching and Prevention of Nipple Soreness among Primipara Mothers. A Randomized Control Trial. Journal of Neonatal Surgery, 14(1S), 852-859. Diakses pada 9 Februari 2026. https://doi.org/10.52783/jns.v14.1610











