
Momuung.co.id – Perjalanan menyusui adalah momen penuh cinta yang tak terlupakan, tapi juga kerap dibarengi rasa khawatir. Setelah berjuang memerah ASI, tak sedikit Ibu yang bertanya-tanya soal keamanan dan kualitas nutrisi ASI karena kebingungan dengan cara menyimpannya dengan benar.
Rasa sedih pun kerap muncul saat ASI perah berubah aroma atau warna setelah disimpan. Padahal, menjaga kualitas ASI adalah langkah penting untuk memastikan Si Kecil tetap mendapatkan nutrisi terbaik dari setiap tetesnya. Karena itu, memahami cara menyimpan ASI dengan benar bukan hanya soal mencegah ASI rusak, tetapi juga tentang menjaga kandungan gizinya agar tetap optimal untuk tumbuh kembang buah hati. Buibu, baca sampai selesai, ya!
Sebelum membahas penyimpanan ASI, penting bagi Mommy untuk memastikan apakah SI Kecil sudah menyusu dengan efektif dan mendapatkan asupan yang cukup. Kekhawatiran tentang “ASI kurang” sering kali muncul karena persepsi, bukan kondisi sebenarnya. Padahal, tubuh Ibu dan bayi memberikan tanda-tanda yang jelas saat kebutuhan ASI terpenuhi (Kent et al., 2020).

Bayi sebaiknya disusui saat menunjukkan tanda lapar, seperti mengisap tangan, mengecap bibir, atau menoleh mencari payudara. Hindari menunggu hingga bayi menangis karena dapat menyulitkan proses menyusu. Pada bayi baru lahir, frekuensi menyusu umumnya berkisar 8-12 kali atau lebih dalam 24 jam. Pola menyusui sesuai kebutuhan bayi (on-demand feeding) terbukti membantu memastikan kecukupan asupan ASI sekaligus menjaga produksi ASI tetap optimal (WHO & NIH, 2009).

Menyimpan ASI tidak boleh asal-asalan. Hal ini dikarenakan nutrisi ASI perah sangat bergantung pada suhu dan jenis wadah penyimpanan yang digunakan, seperti pada panduan berikut:
Simpan ASI perah di dalam kantong ASI khusus atau wadah kaca/plastik BPA-free yang sudah bersih, karena kontaminasi bisa memengaruhi kualitas ASI. Wadah food-grade yang rapat dan bersih membantu mencegah kontaminasi dan menjaga keamanan ASI perah (CDC, 2025).
Memberi label tanggal dan waktu pada ASI perah membantu Mommy mengetahui batas aman konsumsi ASI dan menentukan urutan pemakaian yang tepat, baik menggunakan FIFO (First In, First Out) maupun LIFO (Last In, First Out). Karena kualitas nutrisi dan faktor imun ASI dapat menurun seiring waktu penyimpanan, label ini memastikan ASI yang diberikan masih aman, segar, sekaligus mencegah ASI disimpan terlalu lama atau bahkan terlewat masa simpannya.
Agar kualitas dan keamanan ASIP tetap terjaga, Mommy perlu memahami batas penyimpanannya sesuai suhu dan kondisi (CDC, 2025):
Untuk ASIP yang sudah dihangatkan, habiskan dalam 2 jam, baik ketika belum maupun sudah terkena mulut bayi.
Letakkan ASI di bagian terdalam kulkas atau freezer, bukan di rak pintu, agar menjaga suhu tetap stabil dan nutrisi ASI lebih terlindungi.
Mommy, sebaiknya hindari merendam ASI beku langsung dengan air mendidih atau menggunakan microwave. Hal ini dapat merusak protein dan antibodi dalam ASI. Cara terbaik adalah memindahkan ASI dari freezer ke kulkas bawah semalam sebelumnya, lalu rendam di air hangat suam-suam kuku sebelum diberikan ke bayi. Bila terburu-buru, Mommy bisa mencairkan ASIP di bawah air mengalir atau air biasa lalu menghangatkannya di suam suam kuku setelah asip beku mencair keseluruhan.

Nutrisi harian Mommy, makro maupun mikronutrien berperan penting dalam meningkatkan suplai dan kualitas ASI. Pastikan Mommy mencukupi kebutuhan nutrisi berikut setiap hari:
Baca juga: 50+ Panduan Lengkap ASI & Menyusui dari Lahir hingga 6 Bulan (2026)
Menyimpan ASI dengan cara yang benar membantu Mommy menjaga kualitas nutrisi terbaik untuk si Kecil. Dengan manajemen ASIP yang tepat, pelekatan menyusu yang baik, serta asupan gizi yang terjaga, proses menyusui bisa terasa lebih tenang dan menyenangkan.
Setiap tetes ASI adalah investasi kesehatan jangka panjang bagi bayi. Jika Mommy masih punya pertanyaan seputar teknik memerah, mengatasi ASI seret, atau manajemen ASIP untuk Ibu bekerja, Konselor Menyusui Mom Uung siap membantu melalui layanan konsultasi gratis. Kami akan menemani perjalanan menyusui Mommy hingga lulus ASI 2 tahun.
Yuk, simpan artikel ini dan bagikan ke sesama pejuang ASI agar makin banyak Mommy yang siap dan percaya diri mengASIhi!
Referensi:
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.