
Momuung.co.id – Baru-baru ini, media sosial ramai membahas pengalaman Kourtney Kardashian yang mengaku mengalami mastitis setelah menjalani pemotretan dengan korset ketat dan sepatu hak tinggi. Hal ini membuat banyak Mommy, terutama yang sedang menyusui, jadi bertanya-tanya apakah penggunaan pakaian ketat atau high heels bisa memengaruhi kesehatan payudara.
Mastitis adalah kondisi peradangan pada jaringan payudara yang paling sering dialami oleh ibu menyusui. Kondisi ini biasanya terjadi ketika aliran ASI tidak lancar atau tersumbat, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.
Gejalanya bisa berupa nyeri pada payudara, pembengkakan, kemerahan, hingga muncul area yang terasa keras saat disentuh. Pada beberapa kasus, Mommy juga bisa mengalami demam ringan, meriang, dan tubuh terasa lelah seperti sedang flu.
Secara umum, mastitis dibagi menjadi dua jenis:
Penggunaan sepatu hak tinggi sebenarnya tidak secara langsung terbukti menyebabkan mastitis. Namun, hak yang terlalu tinggi dapat mengubah postur tubuh dan membuat otot di area punggung, bahu, dan dada menjadi lebih tegang.
Kondisi ini bisa memengaruhi kenyamanan saat menyusui, terutama jika posisi tubuh jadi kurang rileks. Dalam jangka waktu tertentu, ketegangan ini bisa ikut berpengaruh pada kelancaran aliran ASI, meskipun bukan penyebab utama mastitis.
Berbeda dengan itu, penggunaan korset atau pakaian yang terlalu ketat di area dada memang perlu lebih diwaspadai. Tekanan berlebih pada payudara, termasuk dari bra yang terlalu sempit, bisa menghambat aliran ASI di saluran payudara. Saat aliran tidak lancar, ASI dapat menumpuk di satu area dan memicu sumbatan. Jika kondisi ini dibiarkan, risiko peradangan hingga mastitis bisa meningkat.
Selain tekanan dari pakaian, ada beberapa faktor lain yang sering jadi pemicu mastitis tanpa disadari. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan aliran ASI yang tidak lancar atau adanya celah masuk bagi bakteri.
Jika posisi mulut bayi saat menyusu tidak pas, pengosongan ASI jadi tidak optimal. Akibatnya, ASI bisa tertinggal di dalam payudara dan memicu sumbatan.
Luka kecil pada puting bisa menjadi pintu masuk bakteri. Selain itu, rasa nyeri juga sering membuat Mommy enggan menyusui di sisi tersebut, sehingga ASI mengalami penumpukan.
Payudara yang terlalu lama tidak dikosongkan akan terasa penuh dan tegang. Kondisi ini meningkatkan risiko saluran ASI tersumbat.
Berhenti menyusui secara tiba-tiba membuat tubuh belum sempat menyesuaikan produksi ASI. Akibatnya, terjadi penumpukan yang bisa memicu peradangan.
Produksi ASI tinggi tetapi tidak diimbangi dengan pengosongan yang rutin, tekanan di dalam payudara meningkat dan berisiko menyebabkan sumbatan.
Jika Mommy mulai merasakan payudara terasa nyeri, hangat, atau muncul bagian yang mengeras, tidak perlu panik. Penanganan awal yang tepat bisa membantu meredakan gejala sekaligus mencegah kondisi semakin parah.
Meski terasa tidak nyaman, usahakan tetap menyusui secara rutin. Pengosongan payudara adalah kunci utama untuk mengurangi sumbatan. Jika si Kecil sedang sulit menyusu, Mommy bisa membantu dengan pumping atau memerah manual agar aliran ASI tetap lancar.
Gunakan kompres hangat sebelum menyusui untuk membantu melancarkan aliran ASI. Setelah sesi menyusui selesai, lanjutkan dengan kompres dingin untuk membantu meredakan nyeri dan mengurangi pembengkakan.
Tubuh membutuhkan energi untuk melawan peradangan. Pastikan Mommy mendapatkan waktu istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan cairan harian agar proses pemulihan lebih optimal.

Belajar dari pengalaman Kourtney Kardashian, penting untuk tetap memperhatikan kenyamanan selama masa menyusui. Mommy tetap bisa tampil rapi dan percaya diri, namun pilih pakaian yang tidak menekan area payudara agar aliran ASI tetap lancar.
Yang tidak kalah penting, dengarkan sinyal tubuh Mommy. Jika terasa tidak nyaman, segera istirahat dan lakukan penanganan sejak awal. Dengan kondisi tubuh yang sehat dan nyaman, proses menyusui pun bisa berjalan lebih lancar dan menyenangkan.
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.