
Momuung.co.id – Mommy, pasti rasanya langsung cemas saat menyentuh dahi si Kecil dan terasa panas, apalagi kalau demamnya muncul di malam hari ketika tubuh sudah lelah. Wajar kalau Mommy merasa bingung, khawatir, bahkan tidak tahu harus mulai dari mana untuk membantu menurunkan demamnya.
Perasaan itu sangat normal, tapi penting untuk tetap tenang ya, Mom. Menangani demam pada bayi bukan hanya soal menurunkan suhu, tapi juga memastikan si Kecil tetap aman selama prosesnya. Yuk, pahami dulu langkah yang tepat dan hindari cara yang justru bisa berisiko bagi bayi. Buibu, simak selengkapnya di sini ya!
Demam pada bayi sering membuat Mommy khawatir, padahal kondisi ini biasanya merupakan tanda bahwa tubuh si Kecil sedang melawan infeksi. Saat virus atau bakteri masuk, tubuh akan menaikkan suhu untuk membantu menghambat pertumbuhan kuman dan memperkuat sistem pertahanan alami. Jadi, demam bukan musuh, melainkan bagian dari cara tubuh menjaga kesehatan bayi.
Penelitian menunjukkan bahwa demam adalah respons yang umum dan normal pada anak, terutama karena sistem imun mereka masih berkembang (Chiappini et al., 2024). Yang terpenting, Mommy tetap fokus pada kenyamanan si Kecil dan memantau kondisinya. Selama bayi masih responsif dan tidak menunjukkan tanda bahaya, demam bisa dikelola dengan perawatan yang tepat di rumah.
Saat si Kecil demam, penggunaan air dingin justru bisa membuat tubuhnya semakin “panik”. Tubuh bayi akan merespons rasa dingin dengan cara meningkatkan panas, sehingga suhu tidak cepat turun. Selain itu, air dingin juga membuat panas di dalam tubuh sulit keluar.

Lebih aman menggunakan air hangat untuk kompres. Air hangat membantu tubuh melepaskan panas secara alami dan membuat bayi lebih nyaman. Mommy bisa mengompres di area lipatan seperti ketiak dan selangkangan agar hasilnya lebih optimal (Chiappini et al., 2024).
Saat demam, tubuh bayi kehilangan cairan lebih cepat. Kalau tidak segera diganti, bayi bisa jadi lemas dan rewel. Untuk bayi di bawah 6 bulan, ASI adalah pilihan terbaik karena tidak hanya memenuhi kebutuhan cairan, tetapi juga membantu melawan infeksi.
Menjaga asupan cairan membantu tubuh bayi tetap stabil dan mendukung proses pemulihan. Dengan cairan yang cukup, suhu tubuh juga lebih mudah dikontrol secara alami.
Selain memastikan cairan cukup, Mommy juga bisa memperhatikan apakah si Kecil mengalami kembung saat demam. Kondisi ini cukup sering terjadi dan bisa membuat bayi makin rewel. Pijatan lembut di perut bisa jadi langkah sederhana untuk membantu meredakan rasa tidak nyaman.
Untuk referensi tambahan, Mommy bisa membaca panduan 5 Cara Mengatasi Perut Kembung pada Bayi yang Ampuh dan Alami.
Memberikan obat penurun panas atau antibiotik tanpa resep dokter bisa berisiko. Tidak semua demam butuh antibiotik, karena sebagain besar disebabkan oleh virus. Penggunaan yang tidak tepat justru bisa menimbulkan efek samping atau membuat pengobatan jadi tidak efektif di kemudian hari.
Jika memang perlu obat, dosis harus disesuaikan dengan berat badan bayi, bukan hanya usia. Untuk bayi berusia di bawah 4 bulan, demam sebaiknya langsung diperiksakan ke dokter sebelum diberikan obat apa pun (Tan et al., 2022).
Selain menghindari kesalahan saat menangani demam, Mommy juga perlu tahu kapan harus segera mencari bantuan medis. Salah satu patokan yang bisa diingat adalah aturan 3 hari. Jika demam berlangsung lebih dari 3 hari meskipun sudah ditangani di rumah, sebaiknya segera periksakan si Kecil ke dokter.
Namun, tidak perlu menunggu 3 hari jika muncul tanda bahaya berikut:
Melihat si Kecil demam memang bisa membuat khawatir, tapi Mommy tetap jadi support system terbaik untuknya. Usahakan tetap tenang dan jaga kondisi tubuh Mommy juga, supaya bisa merawat si Kecil dengan optimal sampai ia kembali ceria.
Tumbuh Kembang29 Mei 2026
Tumbuh Kembang27 Mei 2026
Tumbuh Kembang8 April 2026
Mommin merupakan bagian dari tim edukasi Mom Uung yang berkomitmen mendampingi para ibu menyusui di berbagai daerah di Indonesia. Mengusung peran sebagai Sahabat Pejuang ASI, Momin menyajikan edukasi laktasi yang berbasis fakta, disampaikan dengan bahasa yang hangat, empatik, dan mudah dipahami. Konten yang dibagikan mencakup topik seputar menyusui, asupan gizi ibu dan bayi, hingga menjaga keseimbangan kesehatan fisik serta mental selama masa laktasi. Setiap artikel lahir dari kisah dan pengalaman nyata para ibu Indonesia dalam memberikan ASI terbaik untuk buah hati mereka.